Suara tawa gadis itu menggema. Tak henti-hentinya ia menertawakan kemalangan sahabat kecilnya. Dengan sisa tawanya gadis itu menepuk pundak sahabatnya, menampilkan wajah menjengkelkan andalanya.
"Mangkanya, jangan tidur mulu, kan jadinya dijewer sama bunda." ledek gadis itu.
Pemuda yang diledek pun berdecak, sebal dengan wajah cantik menjengkelkan yang ada dihadapannya itu.
"Lo ngapain sih pagi-pagi kesini? Udah tau gue masih ngantuk. Malah disuruh bangun, gara-gara lo." sebal pemuda itu.
"Bar-Bar. Lo mah sama sahabat sendiri gitu. Gue kan mau ajak lo jalan, masa lo gak mau nemenin." ucap gadis yang tak lain adalah Irene itu.
"Ya tapikan jangan sekarang gitu. Gue masih ngantuk ini." balas Bara menguap.
Irene mendengus, ia langsung mendorong tubuh tegap Bara saat pemuda itu ingin kembali tidur diatas kasurnya."Ayo jalan. Gue gak mau tau, pokoknya lo harus temenin gue jalan. Titik" paksa Irene mendorong-dorong Bara kearah kamar mandi.
"Ish. Nyebelin lo nenek lampir" ucap Bara saat Irene berhasil mendorong pemuda itu kedalam kamar mandi.
"Bodo. Dasar kakek cangkul." balas Irene, lalu menutup kamar mandi
•••
"Lo mau ngapain sih ke sini?" tanya Bara yang saat ini sedang berada di mall ternama dijakarta.
"Mau cari sepatu, lo harus temenin gue pokoknya. Awas aja kalo sampe kabur, gue aduin sama bunda." ancam Irene.
Bara tak menghiraukan ucapan Irene. Pemuda itu sibuk menatap gadis-gadis yang menatap kearahnya. Dengan kerlingan nakal, gadis-gadis yang menatap Bara tadi langsung histeris, Irene yang melihat itu memutar matanya. Malas melihat tingkah sok gantengnya Bara.
"Apa lo liat-liat. Gue colok tuh mata." galak Irene pada gadis-gadis itu. Bara mendengus, menatap sebal kearah Irene yang masih melotot kearah gadis-gadis itu.
"Ngapain sih lo? Ganggu aja." ucap Bara, namun tak dihiraukan oleh Irene.
"Udah ayo. Mau cari sepatu gak?" ajak Bara yang sudah berjalan duluan. Irene sekali lagi menatap gadis-gadis itu dan berlalu mengikuti Bara yang sudah jauh didepannya.
"Bara. Tungguin!!" teriak Irene berlari mengejar Bara
Brukk
"Aduh, maaf-maaf gue gak sengaja" ucap seorang cowok yang menabrak Irene tadi.
Irene mendongak, menatap cowok yang baru saja menabrak dirinya hingga hampir terjatuh itu.
"Mangkanya kalo jalan pake mata. Udah tau dijalan malah main hp" sembur Irene sewot.
Cowok itu mengernyit, menatap aneh kearah Irene yang ia pikir gadis manis dan pemalu. Namun ekspetasi tak semanis realita, nyatanya gadis dihadapannya ini begitu judes dan juga galak.
"Ya maaf, gue buru-buru tadi. Lagian lo juga ngapain pake lari-lari. Dipikirnya ini stadion" balas cowok itu tak mau kalah.Irene melotot, gadis itu sudah berkacak pinggang siap memarahi cowok tampan didepannya ini. Namun belum sampai ia mengeluarkan suara, Bara sudah menjewer telinga gadis itu.
"Anjirr.. Bara..sakit setan!!" teriak Irene marah. Gadis itu mencoba melepas tangan Bara yang ada di telinganya, namun bukannya melepaskan Bara malah menarik hidung Irene.
"Lo nhapain sih? Malu-maluin aja. Udah ayo" ajak Bara menarik Irene agar menjauhi cowok tadi.
"Ish.. Lephasin, monyhet" tutur Irene dengan susah payah. Bara mengangguk, ia lalu melepas jeweran dan tarikannya di telinga dan hidup Bara. Baru saja Bara ingin bicara, Irene sudah menjambak rambut pemuda itu
"Aw.. Aw ren lepas. Ampun" mohon Bara kesakitan, Irene tak perduli ia tetap menarik rambut Bara gemas.
"Gara-gara lo gue gak jadi marahin toh cowok songong, coba kalo lo gak tarik gue tadi, udah gue tampol juga tuh muka cowok" gemas Irene semakin mengencangkan jambakannya
"Awwawa.. Sakit ANJING!!" bentak Bara marah. Irene terkaget, gadis itu langsung melepaskan rambut Bara dari tangannya.
Banyak orang-orang yang melihat kearah mereka. Merasa penasaran akan perdebatan dua sejoli itu hingga membuat sang pria membentak sang wanita.
Mata Irene sudah berkaca-kaca. Tinggal mengedip mata indah itu sudah mengeluarkan air matanya.
"Bar, lo. Lo bentak gue?" tanya Irene masih tak percaya.
Hancur sudah pertahannya, air mata itu kini sudah jatuh dipipi putihnya. Bara menggeleng, merasa bersalah karna sudah membentak Irene ditempat umum.
"Ma_maaf" lirih Irene mengusap air matanya. Gadis itu pergi meninggalkan Bara yang masih diam membatu.
•••
"Ren tunggu ren. Maafin gue please" ucap Bara yang mencoba meminta maaf pada Irene.
Saat ini mereka berdua sudah diluar mall, Irene sedang menunggu taksi ia ingin pulang dan tak ingin melihat wajah Bara. Air mata masih jauh dipipi gadis itu. Bara yang melihatnya hanya bisa merutuki kelakuannya. Ia tak bermaksud membentak Irene, itu semua karna ia lelah.
"Ren maafin gue please" mohon Bara namun tak juga ditanggapi oleh gadis itu. Sesekali ia menghapus air matanya dengan kasr, mengabaikan orang yang dari tadi bicara disamping nya itu.
"Masa cuman gitu lo marah sih ren. Lo jangan gini dong, lo bukan Irene yang gue kenal tau gak" ucap Bara yang mulai kesal karna sedari tadi tak dihiraukan.
Irene terkekeh, gadis itu menatap sinis kearah Bara yang juga menatapnya
"Cuma bar? Terus apa kabar sama harga diri gue? Lo kira gue gak malu lo bentak didepan umum gitu hiks? Lo gak rasain bar, gue malu hiks" balas Irene kembali terisak.
Bara tertegun, pemuda itu menatap dalam gadis yang saat ini menangis karna kebodohannya. Ia menarik tubuh mungil Irene dan memeluk gadis itu yang malah semakin terisak.
"Maafin gue, gue emang bego. Maaf" lirih Bara mengelus rambut panjang Irene, bermaksud menenangkan sahabat kecilnya itu.
"Lo jahat hiks" isak Irene memukul pelan dada Bara.
"Iya gue jahat. Gue bego, maafin gue ya" ucap Bara. Ia mengurai pelukannya lalu mengusap lembut pipi halus Irene, menghapus jejak air mata gadis itu.
"Maafin gue ya" Irene mengangguk, gadis itu lalu memeluk erat tubuh Bara. Menumpahkan rasa sesaknya.
"Yaudah yuk balik, udah mau sore" ajak Bara dan dianggukinoleh Irene.
Bara lalu menarik tangan Irene menuju mobilnya. Setelahnya mereka meninggalkan tempat itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak FRIENDSZONE
Teen FictionApa jadinya jika sebuah persahabatan berubah menjadi sebuah perasaan? Apa kalian ingin mengungkapkan? Atau hanya diam dalam cinta dan kesakitan yang mendalam?