2. Pengasuh

308 41 13
                                        

Lelaki jangkung mendekati gadis mungil berkulit kuning. Meskipun terlihat rapuh tapi sebenarnya ia sangat tangguh. Teringat pertama kali mereka berjumpa di Taman Kanak-Kanak. Hingga SD dan SMP, sekolah mereka selalu sama.

"Siwi Anjani. Apa arti namamu?" tanya Dito saat masih duduk di kelas satu SD. Entah mengapa anak-anak penasaran dengan arti nama.

"Anak yang tekun. Kalau namamu?" jawab Siwi sambil menjilati es krim.

"Sama seperti dulu dalam kalbu."

"Hhmm. Apa maksudnya?"

"Nggak tau. Mama yang bilang gitu."

Dito tersenyum mengenang kepolosan mereka. Kini tanpa terasa dua sahabat itu akan meninggalkan bangku SMP.

"Wi, selamat ya kita lulus," ucap Dito di samping Siwi. Sahabatnya sedang mengamati nilai ujian di papan pengumuman depan kelas.

"Syukurlah. Nanti SMA kita bakal satu sekolah lagi?"

"Iya dong! Oh ya, makasih udah sering dibantu belajar."

"Makanya, kalau malam itu belajar di rumah. Jangan nongkrong melulu!"

"Nggak apa-apa. Yang penting ada kamu yang ngajarin!" Dito mengacak-acak rambut sebahu milik Siwi.

"Heh, aku bukan guru les! Kamu kan tau profesiku pengasuh anak. Kamu itu udah kayak bayi besar deh."

Dito tergelak. Sejujurnya, ia salut pada sahabatnya. Meskipun harus membantu pekerjaan sang ibu, Siwi tetap tekun belajar. Dulu, Pertiwi bekerja sebagai pramusiwi. Sejak kelahiran cucu pertama, terpaksa beliau berhenti dari pekerjaan. Lalu, Pertiwi membuka jasa penitipan anak di rumah. Sambil mengasuh Tama, sekalian mendapat penghasilan.

Siwi Pertiwi Day Care. Buka Senin-Sabtu: 06.30-17.30

Sebuah papan penanda terpasang di samping rumah Siwi. Ibunya mengontrak dua rumah bersebelahan untuk tempat tinggal dan membuka usaha jasa penitipan anak. Bersama tiga kawannya bekerjasama mengasuh anak, tepatnya usia satu sampai tiga tahun atau batita. Sementara masih anak-anak sekitar perumahan yang dititipkan oleh orang tuanya para pekerja. Usia tempat penitipan anak ini sama dengan Tama, keponakan Siwi.

"Bu, aku aja yang gantikan jadi babysitter," usul gadis itu setahun lalu. Ia mengetahui kesusahan ibunya yang tidak bisa lagi bekerja sebab harus membantu Putri, kakaknya sejak kelahiran Tama.

Tiwi menggeleng. "Kamu kan harus sekolah. Mana bisa jadi babysitter? Jam kerjanya seharian, bahkan kadang harus ikut menetap di rumah majikan."

"Lalu, gimana? Kita kan mesti cari uang. Kiriman dari Ayah nggak tentu."

Betapa terharu Tiwi melihat kedewasaan sang anak. Walaupun masih SMP, ia telah mengerti banyak hal. Berbeda jauh dengan kakaknya.

Kemudian, Tiwi mendapatkan ide untuk membuka tempat penitipan anak. Mereka mengontrak rumah saat kehamilan Putri makin membesar. Keadaan memisahkan Siwi dengan sang ayah. Ia tinggal bersama ibu dan kakaknya hingga lahirnya Tama.

Sejak itulah Siwi selalu membantu, mengasuh anak-anak sepulang sekolah pada sore hari. Jam belajarnya pada malam hari pun tidak terganggu. Siwi tetap mampu meraih nilai-nilai memuaskan hingga lulus SMP. Gadis tomboy itu terbiasa menjadi pengasuh anak. Tidak seperti Putri yang feminin tapi justru enggan merawat Tama. Dua bersaudara yang penuh perbedaan bagai bumi dan langit.

"Wisuda nanti ortumu datang?" tanya Dito membuyarkan lamunan Siwi.

"Entahlah. Ayah dan Ibu sibuk semua."

"Sama denganku dong. Malah aku bingung, punya Mama dua dan Papa dua. Yang mana musti kuajak?"

Siwi tersenyum kecut. "Ayahku satu tapi ibuku banyak. Nasib kita hampir sama, ya. Keluarga berantakan. Pengen banget kayak anak lain yang ortunya normal."

"Lha, emangnya ortu kita paranormal? Tapi, kita memang mirip kok. Jangan-jangan jodoh!"

"Udah mikirin jodoh? Pikirin tuh masuk tes SMA!"

"Nanti nyontek kamu aja. Jangankan jawaban soal, masa depanku pun kamu yang tau."

"Yee, males. Pokoknya kita nggak jodoh. Amit-amit jabang bayi."

"Terus kita apa dong?"

"Saudara kembar. Beda ibu dan bapak."

Dito tertawa melihat fisik mereka yang jauh berbeda. Tapi, begitu banyak persamaan yang membuat mereka nyaman bersahabat.

***

Ini adalah sebuah kota kecil yang tidak terlalu tenar. Tapi, cukup dikenal sebagai bekas ibukota Kerajaan Majapahit. Rumah baru Siwi di Perumahan Griya Maja Permai. Ia bersama ibu, kakak, dan kini keponakannya memilih pergi dari sang kepala keluarga. Seorang ayah yang tidak patut diteladani oleh anak-anaknya.

Tingkah polah orang tua membuat anak menjadi korban. Memang secara tidak langsung. Anak yang kurang perhatian dan kasih sayang mencari pelampiasan di luar rumah. Terjadilah kehamilan yang tidak diinginkan. Putri terpaksa putus dari pendidikan formal. Ia keluar saat pertengahan kelas XI. Dengan kata lain, ia tidak tamat SMA.

Pertiwi merasa terpukul. Tapi semua sudah telanjur. Ia mengajak dua anaknya pindah rumah untuk kehidupan yang lebih baik. Harapan terbesarnya kini ada di pundak Siwi, anak kedua. Ia baru lulus SMP. Meskipun kerepotan membantu dalam pengasuhan Tama, gadis itu tidak pernah mengeluh.

Hanya satu yang sering dipertanyakan Siwi. Mengapa lelaki begitu mudah berbuat tanpa bertanggungjawab?

"Mas Agung ke mana? Mereka udah nikah tapi kok nggak tinggal bersama?" Pertanyaan polos Siwi pada ibunya.

"Sudah. Tapi Mas Agung ke luar pulau. Dia harus kerja." Begitu penjelasan Pertiwi atas menantunya yang berbulan-bulan tidak pernah terlihat.

Putri sering mencari kesenangan sendiri. Bersolek tanpa memedulikan anaknya yang masih bayi. Hingga Siwi merasa terganggu karena harus belajar untuk persiapan ujian nasional SMP.

"Mbak, tolong jagain Tama sebentar! Aku mau belajar," pintanya.

"Hhhmm. Iya!" jawab Putri ketus.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara Putri menyanyikan lagu untuk Tama. Padahal, ia bisa mengasuh anaknya tapi mengapa tidak mau?

Apalagi setelah ujian dan dinyatakan lulus, Siwi tidak bisa bersantai-santai. Ia belajar lagi untuk tes masuk SMA Candradimuka.

"Ibu ingin kamu masuk ke sana dan lulus dengan prestasi gemilang. Bisa, kan?" harapan Tiwi.

Siwi mengangguk. Tidak ada keinginan lain dalam hidupnya, kecuali membahagiakan sang ibu.

***

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang