12. Patah Hati

136 22 36
                                        

Ada pertemuan, ada perpisahan. Itu sudah menjadi hukum alam. Tapi, keseimbangan di antaranya yang harus selalu dijaga. Apabila menyepelekan bahkan mempermainkan perasaan, pasti terasa makin menyakitkan. Seperti halnya suka dan duka yang selalu ada. Tidak mungkin bahagia seterusnya atau sedih selamanya.

Begitulah yang terjadi dalam sebuah keluarga. Semestinya bersama menjalani hidup, bukan menuruti hawa nafsu sendiri-sendiri hingga mengorbankan anggota keluarga yang lain. Pertemuan awalnya karena kehendak Tuhan, lewat jalan pernikahan dan kelahiran. Bersatu dengan ikatan suci. Maka seharusnya Tuhan pula yang berhak memisahkan, melalui kematian saja.

Kalaupun terpaksa mengambil jalan perceraian, jangan sampai menambah penderitaan. Mungkin sudah takdir Tuhan, bukan sekadar alasan manusia. Tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Pasti menggoreskan luka walau tak terlihat. Rasa sakit itu menimbulkan bermacam-macam dampak yang berbeda, tergantung individu yang menerimanya.

Putri mencari kesenangan semu di luar sana. Sejak SMP, ia telah berpacaran dengan Agung yang lebih tua dua tahun darinya. Putri baru kelas XI dan Agung baru lulus SMA ketika mereka sudah harus menjadi calon ibu dan ayah. Sedangkan Siwi justru memilih untuk tidak mau berpacaran hingga kini sudah masuk SMA. Dua lelaki yang sudah mengungkapkan isi hati pun ditolaknya.

Berbeda lagi dengan Dito yang nekat mulai berpacaran sejak SMA. Bahkan, tanpa merasa yakin bahwa Agni cocok untuknya. Ia cuma ingin membuktikan sesuatu yang konyol kepada Siwi. Tapi, hal itu membuat persahabatan mereka renggang. Luka baru telah muncul sebelum luka lama bisa sembuh. Sangat memilukan.

***

Pada suatu sore ketika tidak ada jadwal ekstrakurikuler, Dito kembali melakukan hobinya nongkrong di bengkel. Sepeda motor sport diutak-atik hingga hari mulai gelap. Begitulah sebenarnya. Ia lebih menyukai bidang otomotif daripada olahraga.

"Dari mana, Sayang? Kok sampai malam. Latihan basket?" tanya mama Dito saat putra sulungnya pulang.

"Nggak, Ma. Dito tadi ke bengkel."

"Kamu ini. Katanya jadi anak basket. Tapi, masih suka otomatif. Harusnya masuk SMK, Sayang."

"Dito pengen satu sekolah sama Siwi terus, Ma."

"Oh, iya. Gimana kabarnya Siwi?"

Dito mengangkat bahu. "Kami beda jurusan. Jadi agak jauhan sekarang."

"Eh, kamu nggak pacaran 'kan sama dia?"

"Siwi nggak mau pacaran. Dito jadian sama cewek lain."

"Lho, baru masuk SMA udah langsung punya pacar?" Perempuan cantik itu geleng-geleng keheranan.

"Kenapa? Hebat 'kan anak Mama!"

"Nggak, Sayang! Itu bukan prestasi. Mama pengen kamu dapat juara kelas atau juara apa gitu. Bukan jago pacaran!"

"Emangnya kenapa? Mama dan Papa juga dulu pacaran. Aku cuma meniru apa yang kalian lakukan!"

"Dito!"

Cowok itu masuk kamar dan membanting pintu.

Sang mama termenung menatap kelakuan anaknya. Ia tak sanggup berkata-kata.

***

Tidak ada lagi celetukan Dito yang meramaikan hari-hari Siwi. Gadis itu kini menghabiskan banyak waktu bersama para anggota ekskul silat, juga ketuanya, Mahendra. Cowok itu rajin menyapa via WA dan mengirimkan beberapa kata penyemangat setiap hari. Ia juga sering mengingatkan Siwi untuk makan, belajar, dan beribadah.

Posisi Dito telah digantikan oleh Hendra. Sahabat yang makin dekat seusai 'nembak' tapi ditolak secara halus. Berbeda dengan Dito yang justru menjauh tanpa kabar. Sahabat macam apa itu?

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang