18. Pelakor

112 14 12
                                        

Pukul tujuh malam ketika Pertiwi bersama anak dan cucunya—Siwi dan Tama—sedang makan malam, ada yang mengetuk pintu rumah. Tiwi menarik pegangan hingga daun pintu terbuka. Ia mendapati seorang lelaki gagah berkumis sedang berdiri membawa bungkusan kantung plastik.

"Selamat malam. Apa benar ini rumah Siwi?" tanya pria itu sambil tersenyum ramah.

"Betul. Maaf, Anda siapa ya? Ada apa mencari Siwi?" Wanita pemilik day care balik bertanya.

"Saya Pak Purwanto, ayah Mahendra. Ini ada sedikit rezeki untuk Siwi dan keluarga."

"Oh, benarkah? Ayah Hendra, ya? Perkenalkan saya Pertiwi, biasa dipanggil Bu Tiwi, ibunya Siwi. Silakan masuk." Tanpa ditunda lagi, Tiwi menyalami Pur. Lalu, kantung plastik segera berpindah tangan. "Terima kasih banyak, Pak. Kok repot-repot begini," ucap Tiwi segan.

Mendengar nama yang tidak asing, Siwi pergi dari meja makan dan menuju ruang tamu. Ia melihat ayah Mahendra di depan pintu.

"Pak Pur, silakan duduk." Siwi mencium tangan ayah Hendra.

"Maaf, saya tidak bisa mampir lama. Anak-anak menunggu di rumah. Permisi," pamit Pur.

"Salam buat adik-adiknya Kak Hendra ya, Pak. Terima kasih." Siwi tersenyum senang.

"Siap. Mari, Siwi dan Bu Tiwi." Pur pulang mengendarai mobilnya.

Tiwi menatap anaknya penuh curiga. "Ayah Hendra kok tau rumah kita, ya? Ada apa dengan kamu dan Hendra?"

"Nggak tau, Bu. Nggak ada apa-apa kok. Cuma memang Kak Hendra berharap ayahnya lebih perhatian padaku selama dia kuliah dan nge-kos di luar kota."

"Ya, Tuhan. Mereka baik banget ya, Wi."

Siwi mengangguk samar. Rasanya aneh ada lelaki dewasa yang amat perhatian pada keluarganya. Mungkin karena mereka terlalu lama kehilangan kasih sayang seorang ayah.

"Itu apa, Eyang Wi?" Tama berlari menghampiri kantung plastik yang dijinjing oleh neneknya.

Tiwi dan Siwi membuka isi bungkusan itu. Ternyata sekotak martabak telur spesial. Keluarga itu bersyukur bisa menikmati makanan lezat walaupun tanpa Putri yang masih sibuk bekerja.

***

Purwanto, seorang anggota kepolisian di kota kecil itu kini kerap menjadi tamu penting Pertiwi. Paling tidak seminggu sekali, Pur mampir dan membawa bermacam oleh-oleh kuliner untuk Tiwi sekeluarga. Kadang Pur duduk sejenak untuk minum kopi di dapur day care, tapi lebih sering langsung pergi. Satu bulan kemudian, pertanyaan yang mengganjal di benak Tiwi pun meluncur dari bibirnya.

"Pak Pur, maaf. Saya ingin tahu, apa ada sesuatu antara Siwi dan Hendra?"

"Maksudnya bagaimana, Bu Tiwi?"

"Siwi bilang, Hendra ingin Pak Pur lebih perhatian kepada Siwi dan keluarga kami selama dia kuliah di luar kota. Apakah itu artinya, mereka punya hubungan khusus?"

"Begini. Hendra masih saya larang untuk pacaran, Bu. Biar fokus ke studinya dulu. Tentu Siwi juga harus mengutamakan sekolahnya, kan."

"Iya. Walaupun saya belum pernah melarang Siwi pacaran, tapi dia sendiri yang tidak mau pacaran."

"Oh, ya? Berarti memang tidak ada apa-apa antara Hendra dan Siwi, Bu. Mereka murni bersahabat."

"Saya pikir, Pak Pur berniat menjodohkan Hendra dan Siwi." Tiwi tertawa kecil.

"Anak zaman now, mana mau dijodoh-jodohkan, Bu. Biar mereka memilih pasangannya sendiri nanti. Sekarang belum saatnya. Saya memperhatikan Siwi dan keluarga ini, tulus dari keinginan saya sendiri," jelas Pur.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 12, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang