Seorang perempuan muda berambut panjang membuka mata. Ia mendengus kesal. Pagi masih buta tetapi rumahnya sudah penuh suara berisik. Diambilnya layar ponsel yang sepi. Masih teringat kekesalannya semalam. Pagi ini pun suasana hatinya tetap buruk. Tidak ada pesan dari lelaki yang disayanginya. Tidak ada kabar tentang suaminya yang merantau di luar pulau. Nomor ponselnya pun tidak aktif.
"Tama, nih sama Mama ya. Tante Wi mau berangkat sekolah dulu," ucap Siwi sambil menggendong keponakannya. Ia masuk ke kamar Putri yang baru bangun.
"Tate Wi, Tama itut!" Bocah berusia satu tahun itu menggelayut manja pada bibinya.
"Tama, udah diam! Sini sama Mama!" bentak Putri.
"Sabar, Mbak. Pagi-pagi udah marah aja." Siwi terheran melihat kakaknya yang suntuk.
"Kesel banget! Mas Agung nggak ada kabar seminggu ini. Dulu aja pas pacaran, rajin kirim chat WA, perhatian banget. Giliran punya anak, sekarang kabur!"
"Dia kan kerja, Mbak. Mungkin belum sempat menghubungi."
"Semua cowok sama aja. Laki-laki brengsek! Mas Agung nggak ada bedanya sama Ayah. Bocah ini juga!" Putri melirik Tama.
"Ya, Tuhan. Itu anakmu, Mbak. Aku juga benci laki-laki, kecuali Tama. Dia belum ngerti apa-apa."
"Si Dito, kamu kemanain?"
"Hah? Dito cuma teman, Mbak. Kalau teman itu sama aja cewek atau cowok."
"Kirain pacaran sama Dito."
"Aku nggak mau pacaran. Mendingan sekolah dan bikin bangga orang tua."
"Siwi! Sarapan dulu, Nak," panggil Pertiwi.
Gadis yang baru masuk SMA itu pun keluar dari kamar. Ia tidak mau terlambat ke sekolah hanya karena berdebat tentang lelaki dengan sang kakak. Setiap pagi, anggota keluarga Siwi sarapan di rumah sebelah. Di dapur, sudah ada seorang juru masak yang datang sejak pukul lima pagi.
"Selamat pagi, Siwi," sapa Bu Ratih sambil menyiapkan sepiring nasi goreng. Wanita tigapuluh lima tahun itu adalah koki untuk keluarga sekaligus tempat penitipan anak. Ia juga yang membuat menu makanan bagi para batita.
Ketika Siwi berangkat sekolah, datanglah dua orang pengasuh anak. Bu Pramitha, pensiunan pramusiwi dan Mbak Nindi, lulusan sarjana PAUD. Merekalah para pengabdi Siwi Pertiwi Day Care, bersama Bu Tiwi menjalankan usaha kecil itu.
Siwi pun bersekolah dengan tenang karena ibunya memiliki rekan kerja yang dapat diandalkan. Lebih dari itu. Mereka juga sahabat Bu Tiwi yang selalu menemani dalam kebahagiaan maupun kesusahan. Jika mempunyai sahabat lebih baik, mengapa harus punya pasangan yang selalu menyakiti hati?
***
Halaman SMA Candradimuka penuh dengan para siswa baru yang sedang berbaris. Mereka berlatih menjadi PBB (Pasukan Baris Berbaris) di bawah terik matahari. Untungnya, bel istirahat telah berbunyi. Barisan dibubarkan oleh kakak-kakak pembina dari anggota OSIS. Para siswa berhamburan menuju kelas dan kantin. Mereka sejenak melepas lelah serta mengisi energi dengan makan dan minum.
Tak terkecuali Siwi yang masih bersemangat mengikuti MPLS hari kedua ini. Setelah meletakkan topi di meja kelas, ia melihat seorang gadis duduk sendirian di bangkunya.
"Hai, kamu Miranti, kan?" sapa Siwi. Ia mengingat nama teman satu grupnya yang kemarin sudah melakukan perkenalan.
"I-iya. Kamu Siwi, ya?" ujar gadis berkulit cokelat dengan malu-malu.
"Betul. Ayo, ke kantin sama aku!" ajak Siwi ramah.
Dua gadis mungil berjalan menuju kantin. Sejak itulah mereka bersahabat di SMA Candradimuka.
***
Hari kedua ini, aku senang bisa punya sahabat baru. Dia adalah temanku satu grup yang bernama Miranti. Kalau nanti grup ini menjadi satu kelas, aku akan duduk sebangku dengan dia.
Begitulah tulisan Siwi di buku harian MPLS. Para peserta memang diberi tugas untuk menulis peristiwa yang mereka alami setiap hari. Seperti malam ini, Siwi pun mengerjakan tugasnya. Walaupun belum ada materi pelajaran, saat MPLS selalu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan. Kebanyakan bertujuan mengasah kreativitas, seperti menulis, menggambar, membuat yel-yel grup, dan menciptakan kerajinan tangan.
Sejak MPLS di SMA Candradimuka, ada sesuatu yang berbeda. Setiap malam, tidak ada lagi WA dari Dito. Siwi sempat membuka layar ponselnya yang sepi. Ia baca lagi obrolan dengan nomor kontak Dito saat SMP yang memaksanya tertawa.
Dito: Targetku gagal nih!
Siwi: Lho, bukannya udah sukses lulus UN?
Dito: Bukan itu.
Siwi: Apa dong?
Dito: Target punya pacar sebelum lulus SMP. Masa iya, cowok setampan aku ini jomblo selama SMP? What the he**!
Siwi: Wkwkwk. Target gaje. Emangnya penting punya pacar?
Dito: Penting banget. Aku pengen nembak cewek tapi belum sempat nih.
Siwi: Buat apa sih pacaran? Mendingan sekolah yang bener. Awas, kalau nilaimu jelek lagi! Aku hukum nraktir bakso tiap hari.
Dito: Aku rela kok, Wi! Ikhlas untukmu.
Siwi: Good.
Gadis pesilat itu termenung, benarkah aku yang mau ditembak sama Dito sejak SMP? Aku pikir dulu cuma bercanda. Apa iya, dia marah karena udah aku tolak? Duh, kenapa Dito nggak ngirim WA lagi?
"Kok aku jadi kayak Mbak Putri sih?" gumam Siwi heran. "Biarinlah. Mungkin Dito juga sibuk banyak tugas. Harusnya aku seneng karena nggak ada yang gangguin jam belajarku."
Siwi meletakkan ponsel, meninggalkan memori tentang cowok bertubuh gagah itu. Ia mulai fokus mengerjakan tugas menggambar denah sekolah. Baginya, pendidikan di SMA Candradimuka adalah yang utama.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Pramusiwi (Slow Update)
Novela JuvenilSiwi, gadis remaja yang membenci laki-laki. Saat masih SMP, ia sudah harus menggendong seorang bayi. Ibu dan kakak perempuannya pun menjadi korban yang harus ia lindungi. Dito, teman Siwi sejak kecil adalah pengecualian. Cowok itu yang selalu ada m...
