15. Karma

122 16 14
                                        

Jam istirahat itu Miranti mengisi waktu dengan melukis. Hobinya memang dalam bidang seni rupa. Tapi kali ini, ia tidak mau ikut ke kantin karena sedang marah dengan teman sebangkunya. Siwi tidak memenuhi permintaan Ranti yang ingin dicomblangkan dengan Dito. Sekarang, cowok itu digosipkan sedang memacari cewek pebasket. Ranti belum yakin hingga ia melihat sendiri Dito memajang foto cewek di akun media sosialnya.

"Ran, ini jus buat kamu." Siwi menyodorkan gelas plastik berisi minuman berwarna hijau. "Alpukat kesukaanmu."

Ranti mengambil gelas itu tanpa mau memandang ke arah temannya yang baru kembali dari kantin. "Makasih," ujarnya singkat.

"Maaf, ya. Aku nggak bisa comblangin kamu sama Dito. Persahabatanku sama dia udah retak." Siwi menunduk.

Cewek berkulit cokelat meletakkan alat lukisnya. Ia menghela napas panjang. Tidak seharusnya ia marah karena hal sepele. Persahabatan lebih penting daripada hubungan pacaran yang tidak jelas tujuannya.

"Aku juga minta maaf, Wi. Padahal aku ini sabar banget loh. Tapi, entah kenapa kalau soal Dito aku jadi sering ngambek ke kamu. Harusnya, aku nggak memaksakan diri. Aku nggak bisa pacaran sama Dito itu bukan salahmu. Dito pacaran sama siapa pun bukan urusan kita." Ranti menyesal.

"Iya. Kamu nggak usah ikut sedih. Aku udah biasa kok diperlakukan buruk sama laki-laki. Cuma nggak nyangka aja, Dito sahabatku sejak kecil tega menjauhiku. Hanya karena soal pacaran."

"Wi, apa Dito pernah ngajak kamu pacaran?" Ranti memandangi wajah Siwi.

Siwi tidak menjawab.

"Atau, kamu suka sama dia?"

"Hah? Ehm, suka gimana maksudnya?"

"Suka, sayang, atau cinta gitu?"

Siwi menggeleng. "Aku nggak ngerti. Intinya aku sahabatan sama dia. Titik. Itu pun dulu banget."

Ranti menatap mata kawannya. Ia bisa menyimpulkan sesuatu. "Sepertinya, kamu ada perasaan sama Dito."

"Apa? Perasaan jengkel, sih iya."

"Udahlah, aku ngerti kok." Ranti tersenyum. Tangannya menutupi mulut.

"Ada-ada aja deh kamu. Udah nggak marah lagi, kan?"

"Nggak kok. Eh, kalau gitu kenapa kamu nggak pacaran aja sama Kak Hendra? Biar menyaingi Dito yang pacaran sesama anak basket. Kamu dengan sesama anak silat."

"Kebalik. Kayaknya Dito yang pengen nyaingi aku. Kan hampir semua penghuni SMA Candradimuka ini percaya kalau aku pacaran sama Kak Hendra."

Ranti mengangguk-angguk. "Semoga pacaran beneran deh."

"Lihat aja nanti."

Siwi dan Ranti tertawa bersama lagi. Bel masuk berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai kembali.

***

Tidak ada seorang pun yang memahami perasaan Siwi. Bahkan Miranti juga selalu mendukungnya agar pacaran sungguhan dengan Mahendra. Tapi, untuk apa? Siwi memang berprinsip tidak mau pacaran. Selain itu, mengapa harus pacaran tanpa ada rasa cinta?

Ya. Sampai saat ini, Siwi belum melabuhkan hati kepada seorang lelaki. Dito yang bertahun-tahun pernah begitu dekat pun kini terasa sangat jauh. Apalagi Hendra yang belum genap setahun dikenalnya di SMA Candradimuka. Kadang ada rasa kesal saat melihat Dito berboncengan dengan cewek. Apakah Siwi cemburu? Ia sendiri tidak tahu. Rasanya hampir sama dengan melihat Pak Raka berboncengan dengan Bu Tirta, istrinya. Jadi, sebenarnya Siwi lebih condong kepada siapa?

Seandainya Siwi bisa jatuh cinta dengan mudah kepada Mahendra, ia tidak akan tersiksa begini. Kenapa Tuhan tidak membuatku cinta pada Kak Hendra? Apakah Tuhan tidak mengizikan aku mencintai dia? Keluhnya dalam hati.

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang