16. Pilihan Hati

83 16 5
                                        

Remaja laki-laki itu bersorak gembira. Dito Penggalih memenangkan lomba balapan liar sekali lagi. Uniknya, siswa IPS SMA Candradimuka tidak pernah mau menerima hadiahnya. Jika hadiah berupa uang, ia akan membagikan kepada teman-temannya. Uang sakunya sudah melimpah.

Bila berhadiah cewek cabe-cabean, Dito pun sama sekali tidak tertarik. Disuruhnya anak gadis ingusan se-usia siswi SMP itu segera pulang, tentu dengan memberi ongkos. Selama ini, Dito berlagak seperti playboy kelas teri. Padahal, ia bukan tipe lelaki romantis dan tidak mengerti cara memanjakan perempuan.

Tujuan Dito mengikuti balapan liar hanya ingin menyalurkan hobi dan menantang adrenalin. Tidak mengharapkan hadiah, pujian, atau apa pun. Ia merasa hidup terlalu membosankan. Dengan memacu sepeda motor dalam kecepatan tinggi, ia menantang maut dan merasa bangga saat berhasil menghindari malaikat pencabut nyawa.

Pukul satu dini hari Dito masih berkeliaran di jalanan. Tidak ada yang mencarinya. Dua pasang orang tuanya mengira cowok itu berada di rumah orang tua yang lain. Begitulah akibatnya jika ayah dan ibu bercerai. Lalu, mereka menikah lagi dengan orang lain dan masing-masing memiliki keluarga baru. Dito menganggap dirinya terbuang. Tanpa keluarga sejati yang utuh.

Ketika sepeda motornya melewati sebuah hotel cukup mewah di kota kecil itu, Dito melihat sosok perempuan. Wajah cantik yang sangat ia kenali karena lama mengenal keluarganya. Putri Maheswari, kakak Siwi Anjani. Dengan dandanan menor, Putri turun dari sepeda motor yang sepertinya ojek online. Kemudian, wanita berpakaian seksi memasuki area hotel.

"Ngapain Mbak Putri masuk hotel jam segini?" gumam Dito.

Cowok itu menghentikan motor dan termenung. Putri memang jago make up dan tampak glamour. Tapi, kesederhanaan dan kecantikan alami Siwi membuatnya lebih istimewa. Dito menghela napas. Ia merindukan sahabatnya.

***

Pagi hari Siwi melirik layar ponsel. Lalu, matanya terbelalak setelah membaca nama kontak yang mengirimkan pesan WhatsApp.

"Masih berani dia nge-chat aku?" rutuk Siwi.

Dito:

Hai, Siwi. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.

Penting.

Gawat.

Darurat.

Bahaya.

Tentang Mbak Putri.

Siwi mengerutkan dahi. Apa-apaan, sih? Eh, tapi Dito tau apa soal Mbak Putri? pikir Siwi khawatir. Sejak Putri ingin bunuh diri, Siwi jadi cemas dengan kakaknya. Tapi, siapa tau Dito memang punya informasi penting mengenai Mbak Putri?

Siwi: Aku mau berangkat. Nanti aja temui aku di sekolah.

Dito: Asiyap!

Siwi: Jangan telat masuk sekolahnya.

Dito: Beres.

Pagi itu, masa lalu seolah kembali hadir di antara Dito dan Siwi.

***

Jam istirahat, Dito mengirim pesan lagi kepada Siwi.

Dito: Maaf ya, Wi. Aku nggak bisa ketemu kamu di sekolah. Nanti aja aku ke rumahmu sesudah ekskul basket. Mungkin habis Magrib.

Siwi: Iya, deh. Terserah kamu.

Miranti mencuri pandang ke layar ponsel Siwi. Ia berseru, "Itu Dito? Kamu chatting-an lagi sama dia? Asyik!"

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang