6. Perhatian

189 29 28
                                        

Seperti biasa, Siwi sudah duduk tenang di bangkunya. Ia siap menjalani MPLS hari keempat. Meskipun gadis yang aktif berolahraga, ia tetap terlihat imut. Kesan tomboy pun tidak menutupi kecantikan alaminya. Ia memang lain dengan sang kakak yang senang berdandan. Siwi bahkan tidak pernah memakai bedak. Setiap perempuan memiliki kecantikannya sendiri. Tidak dapat dibanding-bandingkan.

Kebiasaan bangun pagi juga menguntungkan bagi Siwi. Ia terbiasa disiplin sehingga tidak kesulitan beradaptasi dengan peraturan SMA Candradimuka. Berlawanan dengan Putri yang susah bangun pagi hingga sering terlambat sekolah. SMA tempat belajar Siwi sangat tegas menjalankan tata tertib. Hanya bermodal impian saja tidak cukup untuk bisa memasuki SMA bergengsi ini.

Pukul 06.30 setelah apel selesai, para siswa segera mendapatkan materi. Guru yang bertugas tidak sama setiap hari. Pagi ini, seorang guru muda yang memasuki grup Siwi. Rambut pendek rapi terlihat agak basah, mungkin memakai pomade. Kemejanya hari ini berwarna abu-abu. Wajah segar berhias senyum manis.

"Pak Raka," bisik Siwi tanpa sengaja.

"Selamat pagi." Suara berat sang guru menggema di ruang kelas.

"Pagi, Pak!" Para murid menjawab heboh, terutama kalangan siswi. Bola mata mereka berbinar-binar.

"Perkenalkan nama saya Raka Dewangga. Sebagai guru Biologi, saya mendapatkan tugas untuk menyampaikan materi tentang jurusan IPA. Sebelumnya, saya jelaskan sedikit tentang SMA Candradimuka. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1955. Nama Candradimuka berarti tempat penggemblengan diri supaya kuat, terlatih, dan tangkas. Kami berharap para siswa dapat mempunyai sifat-sifat tersebut.

Di SMA Candradimuka terdapat tiga jurusan, yaitu IPA, IPS, dan Bahasa. Saya ucapkan selamat untuk kalian yang sudah lolos tes masuk jurusan IPA. Sekarang, saya ingin bertanya. Apa alasan kalian memilih masuk IPA?"

Dua puluh siswa dalam grup itu menjawab satu persatu. Raka memanggil dari daftar nama. Sampailah giliran Siwi Anjani.

"Alasan saya ingin mempelajari bidang studi IPA lebih mendalam. Saya menyukai pelajaran IPA," ucap Siwi mantap.

"Pelajaran IPA yang mana favoritmu?"

"Biologi."

"Wah, kebetulan sekali. Saya guru Biologi."

"Cieee." Sorakan para siswa bergemuruh.

"Mau 'kan kalau saya jadi gurumu?"

"Mau, mau!" Bukan Siwi yang menjawab tapi teman-teman perempuannya.

Siwi menahan senyum. Ranti di belakang mencolek punggungnya. Siwi menoleh dan tidak bisa menahan tawa.

"Apaan sih?" tanya Siwi gemas. Ranti pun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Mereka tidak bisa menahan gejolak rasa.

"Nah, gitu dong senyum. Saya suka lihat kamu tersenyum." Pak Raka sudah berada di samping bangku Siwi.

"Iya, Pak." Siwi mengangguk.

Gemuruh tepuk tangan dan sorakan para murid seolah sedang menonton pertandingan olahraga. Hanya satu siswi yang cemberut melihat pemandangan itu, Agni Mahadewi.

***

"Kak Wi!"

"Tate Wi!"

Dari balik jendela, anak-anak berusia di bawah tiga tahun memanggil-manggil seseorang. Gadis yang baru pulang dengan seragam sekolah masih memarkir sepeda di halaman. Sembilan anak yang dititipkan oleh orang tuanya. Sedangkan satu anak yang menyebut "Tate Wi" adalah Tama, keponakan Siwi.

Bocah lelaki itu baru bisa bicara dan berjalan. Dengan agak tertatih, ia berlari menghampiri bibinya. "Tate Wi, baca!" ucapnya dengan membawa sebuah buku.

"Wah, pintarnya! Iya, Tante ganti baju dulu, ya. Mama ke mana?"

"Cayon."

Siwi menghela napas. Pantas saja sepeda motor tidak ada di rumah. Ternyata, sore ini Putri melakukan hobinya, perawatan ke salon. Entah apa lagi yang perlu dipercantik dari penampilannya. Siwi tidak habis pikir.

"Tama, ayo sini sama teman-teman! Biar Tante ganti baju dulu," ajak Tiwi lalu menggendong cucunya masuk rumah.

"Mbak Putri ngapain ke salon lagi?" tanya Siwi kesal.

"Mau ngecat rambut," jawab ibunya.

"Kenapa Ibu nggak melarang sih? Dia itu kebanyakan habisin uang."

"Wi, kamu tau 'kan? Mbak-mu semakin dilarang, malah berontak."

"Ck! Egois. Dia udah jadi ibu tapi nggak ada sifat keibuan sama sekali. Tama aja lebih banyak kita yang urus."

"Udahlah, Wi." Pertiwi tahu anaknya kesal pada sang kakak. Tapi, ia pun sudah maksimal dalam menasihati Putri.

"Eyang Wi, baca!" pinta si Tama agak rewel. Ia menyodorkan buku di gendongan sang nenek yang dipanggilnya "Eyang Wi".

"Ayo, Sayang!" Tiwi kembali bergabung dengan anak-anak di ruang baca.

Siwi bergegas ganti pakaian dan melaksanakan tugasnya.

***

Sehabis Magrib, Siwi Pertiwi Day Care sudah tutup. Putri belum juga pulang. Pertiwi yang mengetahui kegundahan hati Siwi meminta Nindi mengiburnya. Di samping musala seusai salat, Nindi menyapa Siwi.

"Kok kelihatan sedih, Wi? Ada apa?" tanya Nindi lembut. Perempuan berjilbab itu memang sabar dan perhatian.

"Kesal aja sama Mbak Putri. Seandainya kakakku Mbak Nindi, pasti aku bahagia."

Nindi tertawa kecil. "Mbak Nindi udah anggap kamu adik kok. Mbak ngerti, memang rasanya sebel ya? Ibu dan kamu bekerjakeras menghidupkan day care. Eh, Putri malah seenaknya sendiri."

"Terus, aku harus gimana, Mbak?"

"Tetap lanjutkan semua yang sudah kamu raih. Tingkatkan terus kualitasmu. Raih prestasi lebih banyak. Jangan hiraukan orang egois! Nanti dia kena sendiri akibatnya."

"Gitu ya, Mbak?"

"Iya. Cita-citamu apa, Wi?"

"Baru masuk SMA, Mbak. Aku belum mikirin cita-cita."

"Sekarang harus tentukan, Wi! Makin cepat, makin bagus. Biar lebih banyak persiapan."

"Ehm, apa ya? Mungkin, ingin cepat lulus SMA. Terus, jadi babysitter seperti ibu."

"Jadi babysitter? Nggak mau kuliah? Kerja sambilan di sini kan tetap bisa."

"Hasil day care nggak terlalu banyak, Mbak. Ini kan kota kecil. Nggak seperti day care di kota besar yang buat kalangan menengah ke atas. Beberapa orang tua bayarnya nunggak. Mereka kebanyakan buruh pabrik dan pedagang kecil. Kita lebih kerja sosial sebenarnya."

Nindi mengangguk. Ia pun sudah mendengarkan penjelasan itu dari Pertiwi. Rupanya Siwi mengerti kondisi usaha ibunya.

"Jadi, kamu merasa nggak mampu kuliah karena keterbatasan biaya?"

Siwi mengangguk. "Jujur, pengen kuliah juga sih."

"Mbak Nindi dulu juga kuliah sambil kerja. Sempat jeda dua tahun setelah lulus SMA. Kerja dulu ngumpulin modal, baru bisa kuliah. Memang semua perlu perjuangan, Wi. Tapi bukan berarti kita nggak boleh mimpi setinggi langit. Bermimpilah, Wi! Mbak Nindi pun anak seorang tukang becak, bisa meraih mimpi jadi sarjana. Kamu pasti bisa!"

Siwi termenung. Nindi, perempuan tiga puluh tahun dan mempunyai satu anak TK itu seorang guru PAUD. Siang hari sepulang sekolah, ia menuju Siwi Pertiwi Day Care. Keikhlasannya dalam mengabdi sangat menyentuh hati Siwi, gadis belia yang usianya masih separuh dari Nindi.

"Amin. Semoga saja. Makasih, Mbak."

"Nah, gitu dong. Mbak Nindi pulang dulu, ya."

Hari ini Siwi bersyukur. Kakak kandungnya mengecewakan tapi ada orang lain yang justru menguatkan. Memang, Tuhan Mahaadil kepada umat-Nya.

***

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang