Sabtu pagi ini pertemuan pertama untuk semua ekstrakurikuler di SMA Candradimuka. Para siswa dikumpulkan sesuai ekskul yang dipilih. Mereka akan memperoleh pengarahan serta jadwal ekskul sore yang biasanya satu hingga tiga kali seminggu. Kakak kelas XI dan XII sebagai pengurus ekskul siap membimbing pendatang baru kelas X.
Cowok bertubuh tinggi besar sedang berjalan memasuki gedung olahraga mini di belakang sekolah. Ia mengenakan kaos tanpa lengan khas pebasket. Sejak dulu belum pernah ikut ekskul bola keranjang. Cowok itu hanya menguasai kemampuan standar yang didapatkan dari pelajaran olahraga. Ia pun diuntungkan dengan badan jangkung sehingga diterima dalam ekskul bola basket.
"Dito Penggalih," panggil ketua ekskul basket. Ia membaca daftar nama anggota baru.
"Saya, Kak." Dito mengangkat tangan.
"Fisik bagus. Tapi, nilai hasil tesmu terendah. Kamu harus lebih giat berlatih!"
"Siap! Tenang aja, Kak." Gaya santai cowok itu masih sama.
Para anggota ekskul memulai aktivitas. Begitu pula gadis mungil yang lincah. Dito sempat melihat sahabat masa kecilnya di halaman gedung olahraga. Berpakaian silat serbahitam, Siwi tampak percaya diri. Bahkan ia memimpin di depan. Mungkin senior menjadikannya contoh bagi para junior. Tatapan bangga dari kakak kelas sempat membuat Dito minder. Ia bukan apa-apa dibandingkan Siwi yang berprestasi akademik dan olahraga.
Dito tidak fokus latihan basket. Di sela-sela pemanasan, pikirannya terlempar ke masa kecil. Sebagai anak tunggal, segala kebutuhan Dito selalu terpenuhi bahkan melebihi yang ia minta. Tapi entah mengapa tak ada yang bisa membuatnya bahagia, kecuali Siwi. Sejak berjumpa dengan perempuan itu di bangku TK, hari-harinya menjadi lebih bermakna.
Saat umur sepuluh tahun, Dito baru mengerti arti namanya. Dito Penggalih, sama seperti dahulu dalam kalbu. Kedua orang tuanya dijodohkan demi perkembangan perusahaan. Padahal, mereka masih cinta pada mantan pacar. Perasaan yang menetap dalam hati hingga bertahun-tahun lamanya. Sama-sama selingkuh dengan mantan hingga papa dan mama Dito pun bercerai. Lalu, mereka menikah dengan mantan kekasih masing-masing.
Itulah sebabnya Dito mempunyai dua ayah dan dua ibu. Dari pasangan orang tuanya yang baru, ia mendapatkan dua orang adik—berbeda ayah dan ibu. Ia pun tinggal berpindah-pindah di rumah kedua pasang orang tua.
Sungguh, suatu hubungan yang sangat rumit untuk dipahami anak sekecil Dito. Ia cukup terguncang. Mulai SMP, cowok itu semakin liar saja. Hobinya balapan motor dan membolos sekolah. Padahal sebenarnya Dito anak yang cerdas. Tanpa ada Siwi, mungkin kini ia sudah putus sekolah.
Hanya Siwi yang membuat Dito bertahan untuk menempuh pendidikan. Tetapi seiring bertambah usia, cowok itu ingin merasakan hubungan lebih dari sekadar sahabat. Sayangnya, Siwi tidak mau pacaran. Hubungan mereka hanya sebatas teman entah sampai kapan. Maka, Dito berusaha menjauh dari Siwi. Ia ingin membuktikan sesuatu pada gadis itu.
"Hei, ngelempar bolanya yang bener dong!" bentak senior membuyarkan lamunan Dito.
"Eh, maaf! Aku izin minum dulu, Kak." Dito menepi dan mengambil tasnya di sudut gedung olahraga.
Di dekat Dito, sekelompok anggota ekskul cheerleaders sedang berbaris. Cowok itu tersenyum pada seorang siswi berambut panjang. Memperoleh balasan senyum manis, Dito mulai berani main mata. Tanpa perlu waktu lama, ia merapat setelah cheerleaders bubar dari barisan.
"Hai, kenalin namaku Dito," ucap pebasket amatir itu.
"Aku Agni." Cewek berseragam ketat khas pemandu sorak itu menyambut jabatan tangan Dito.
***
Hari ini cukup sial bagi Siwi. Roda sepeda kayuhnya bocor. Daripada terlambat, tadi pagi ia minta tolong Putri untuk mengantarnya sekolah dengan sepeda motor. Tapi saat sore waktunya pulang, sang kakak tidak bisa menjemput. Alasannya tetap, ia sedang perawatan di salon. Apalagi, Siwi ada latihan silat perdana sore ini. Pukul lima sore baru saja selesai. Siwi terpaksa menunggu angkutan kota di halte depan SMA Candradimuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pramusiwi (Slow Update)
Fiksi RemajaSiwi, gadis remaja yang membenci laki-laki. Saat masih SMP, ia sudah harus menggendong seorang bayi. Ibu dan kakak perempuannya pun menjadi korban yang harus ia lindungi. Dito, teman Siwi sejak kecil adalah pengecualian. Cowok itu yang selalu ada m...
