7. Mendadak Kagum

157 28 23
                                        

Akhirnya, hari terakhir MPLS pun tiba. Ini menjadi saat yang paling ditunggu oleh para siswa baru. Tidak ada lagi materi yang membosankan. Pagi itu para peserta MPLS ditunjukkan ruang kelas mereka oleh kakak-kakak pembina OSIS. Ruang kelas yang akan mereka gunakan selama satu tahun sebagai siswa kelas X.

Siwi dan Ranti berpelukan gembira melihat ruang kelas mereka, X IPA 1. Dua grup MPLS digabung menjadi sekelas. Setelah berakhirnya MPLS nanti, mereka sah sebagai siswa kelas X SMA Candradimuka. Kegiatan selanjutnya untuk hari ini adalah pendaftaran ekstrakurikuler dan pentas seni sekaligus penutupan MPLS.

Setiap siswa boleh mendatangi ruang ekstrakurikuler yang diinginkan. Mayoritas dari mereka melanjutkan ekstrakurikuler yang sudah digeluti sejak SMP. Sebagian kecil mencoba bidang baru atau hanya terpaksa mengikuti ekstrakurikuler karena kewajiban.

Sudah pasti Siwi menuju gedung olahraga mini yang biasa digunakan untuk pertandingan basket, bulutangkis, voli, hingga futsal. Siwi mendatangi meja pendaftaran ekskul silat. Ada beberapa kakak kelas sebagai pengurus ekskul di sana. Begitu juga dengan siswa lain. Miranti telah mendaftarkan diri ke ekskul melukis.

Para siswa kelas XI dan XII menyambut Siwi dengan hangat. Gadis itu mengisi formulir pendaftaran. Mereka juga saling berkenalan. Ada beberapa siswi pesilat yang senang memiliki penerus. Juga Mahendra, ketua ekskul silat yang tampak berwibawa.

"Selamat datang, Siwi. Silakan berganti pakaian olahraga, ya! Ada sedikit tes," ucap Mahendra ramah. Siswa baru memang perlu dites untuk mengetahui kemampuan sesuai ekskul yang diminati.

"Iya, Kak Hendra." Siwi menuju toilet dan segera kembali dengan berpakaian olahraga.

"Silakan, tunjukkan gerakan silat terbaikmu!" perintah Mahendra.

Mata Mahendra mengamati setiap gerakan silat yang ditampilkan Siwi. Cowok itu mengangguk-angguk dan tersenyum. Hingga akhir aksinya, tepuk tangan bergemuruh mengejutkan Siwi.

"Hebat! Gerakanmu sangat bagus, Wi. Kami bangga ada atlet seperti kamu bergabung di ekskul pencak silat SMA Candradimuka." Siswa kelas XII Bahasa yang biasa disapa Hendra itu berdecak kagum.

"Terima kasih, Kak Hendra. Kakak semua, saya mohon bimbingannya." Siwi tersenyum riang.

***

"Gimana tadi, Wi?" tanya Ranti sambil meminum es teh di kantin.

"Lancar. Kamu dites menggambar juga?"

"Ralat! Melukis, Wi. Yap, diterima juga dong."

"Syukurlah. Udah minumnya? Yuk, gabung pensi!" ajak Siwi. Ia dan Ranti berkumpul di tengah halaman sekolah.

Siang itu, diadakan pentas seni sebagai penutupan MPLS. Pengurus OSIS dan ekskul menampilkan perwakilan mereka. Setiap grup siswa baru juga mempertunjukkan yel-yel andalan. Di antara kerumunan para siswa, tampak pula beberapa sosok guru. Terutama guru muda yang bertanggungjawab mengawal OSIS dalam kegiatan MPLS.

Berbagai kesenian seperti menyanyi, menari, drama, hingga pembacaan puisi bergantian di atas panggung. Kreativitas para siswa SMA Candradimuka patut diacungi jempol. Salah satunya, Mahendra yang tidak hanya jago silat. Ia juga pandai membacakan puisi. Bahkan, cowok itu mempersembahkan puisi spesial untuk seseorang.

Perjumpaan Kita

Hanya sekejap mata
Hadirmu selembut angin membelai batin
Nanti dapat menerjang segala rintang
Gerakanmu setenang gelombang lautan
Kelak mampu menyapu segenap halang
Tiada yang bisa menghentikanmu
Di sini, biar kunanti perjumpaan kita
Sampai saat itu tiba, sembunyikan saja
Ungkapkan semua ketika aku menemukanmu
Kekuatan hidupku
Ada padamu

"Puisi ini aku persembahkan untuk Siwi Anjani. Gadis menakjubkan, selamat bergabung di ekskul Pencak Silat SMA Candradimuka," ucap Mahendra dengan pelantang. Telunjuknya mengarah pada seorang siswi. Seluruh penonton menoleh pada satu titik sambil bertepuk tangan meriah.

"Siwi, keren banget! Dia ketua ekskul silat?" tanya Miranti di samping Siwi.

Gadis itu baru sadar telah menjadi pusat perhatian. Ia hanya bisa tersenyum canggung, membalas senyum manis Mahendra. Untung saja, sang kakak kelas segera turun dari panggung. Penampilan ekskul band sekolah menggantikannya.

Pandangan mata penonton sudah beralih kepada vokalis yang sedang menyanyi, kecuali beberapa orang. Dito, siswa IPS yang sekuat tenaga menahan diri. Ia tak menyangka bahwa Siwi, sahabatnya begitu cepat populer di SMA ini. Tentu karena kemampuan silatnya yang sudah berkembang, tidak seperti Dito yang kurang tekun menggeluti silat. Ia memilih ekskul basket tadi. Aku nggak bisa sedekat dulu lagi dengan Siwi, batinnya.

Ada pula Agni Mahadewi, calon teman sekelas Siwi di X IPA 1. Cewek berambut panjang itu melirik tajam. Sejak awal MPLS, ia memperhatikan Siwi yang sering disapa oleh Pak Raka. Bahkan, kini juga dibuatkan puisi oleh Kak Hendra. Seistimewa apa sih Siwi? Cewek biasa banget gitu penampilannya, pikir Agni heran.

Namun, ada seseorang yang menghampiri Siwi. Bukan Hendra yang justru menghindar setelah membaca puisi, sekali lagi guru muda itu. Raka Dewangga bertepuk tangan di depan Siwi. Ia mendekat ke telinga dan berbisik karena suara musik yang begitu lantang.

"Hebat, Wi! Semoga betah ya, di sekolah ini." Hanya itu yang diucapkan Raka sebelum menghilang di tengah kepadatan siswa. Merinding. Lagi-lagi, jantung Siwi berdebar tak karuan.

Penampilan band sekolah mengakhiri pensi, sekaligus menandai selesainya MPLS di SMA Candradimuka. Kepala sekolah sudah menyampaikan pidato penutupan. Pukul tiga sore, para siswa diperbolehkan meninggalkan area sekolah.

"Wow, banyak lelaki yang mengagumi kamu!" gumam Ranti di lapangan parkir. Ia dan Siwi sama-sama membawa sepeda kayuh.

"Hhmm. Padahal aku biasa aja, Ran."

"Pasti karena kamu jago silat, Wi. Mungkin, laki-laki lebih tertarik sama perempuan yang kuat." Ranti menganalisis dengan sok tahu.

"Maybe." Jawaban singkat Siwi sebelum berpisah dengan sahabat barunya.

Di atas sepeda, Siwi kembali berpikir. Benarkah mereka mengagumi aku? Padahal, aku benci laki-laki. Tuhan, kenapa mereka harus bersikap begitu? Ah, tidak! Pasti itu cuma akal-akalan mereka bila ada maunya. Aku harus waspada dan lebih hati-hati, tekadnya.

***

Pramusiwi (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang