Kegelisahan terpancar di wajah Jungkook malam ini, tak jelas alasannya apa. Mungkin saja karena tidak ada kerjaan atau karena Jimin belum juga pulang. Dari setengah jam yang lalu, ia mondar-mandir di samping kasur.
Sedikit rasa cemas bertengger dalam hati, akhir-akhir ini Jungkook sulit membedakan rasa benci dan cinta. Bisa saja sebentar lagi ia jadi gila. Inginnya Jungkook membenci Jimin seumur hidup, namun ia tidak tahu saja, bahwa hatinya telah berdusta, mengkhianati Jungkook dari awal.
Di balik kalimat dingin dan wajah datar itu, dari lubuk hati paling dalam Jungkook sungguh perduli dengan pria mungil itu. Walaupun selama ini menghujaninya dengan banyak hardikan sekalipun.
Amat disayangkan, Jungkook tak pernah menyadari perasaan rumitnya itu. Sekelumit masalah selalu mengelilingi mereka, hidupnya maupun Jimin.
Ponsel digenggam, Jungkook menemukan notifikasi pesan, dimana ada undangan reuni yang ia terlantarkan.
Satu dari banyaknya pemberitahuan lain yang memang biasanya Jungkook abaikan, kali ini menjadi sesuatu yang memberikan Jungkook secercah harapan. Belum lagi, ia sempat mendengar percakapan Jimin tadi pagi di balkon.
Kemungkinan besar Jimin berada disana. Fakta bahwa Jimin tak mengatakan apapun padanya, membuat Jungkook merasa agak jengkel.
"Shhh, merepotkan sekali!"ujarnya kepalang kesal, Jungkook menggarap kunci motornya. Ia pikir akan lebih cepat bila menggunakan kendaraan roda dua ini dari pada mobil di malam hari.
🌼
"Jimin dan Taehyung datang dan pulang bersama, mereka pamit lebih dulu karena Taehyung terlihat sakit,"
"Sudah pulang?"kerutan-kerutan menyambangi dahi Jungkook. Bibir tipisnya ia gigit geram, ini lebih larut dari pada yang kemarin-kemarin.
"Ya, mereka sudah pulang dari tadi. Apa Jimin belum sampai di rumah?" Seokjin menatap Jungkook dengan pandangan penuh kecemasan, Jungkook tak bergeming, tak pula menggubris pertanyaan itu, hatinya sudah tak karuan.
"Dimana rumah Kim Taehyung?"katanya, nada Jungkook terdengar menyeramkan. Membuat pria di depannya agak takut. Ia bahkan sempat merinding.
"Sialan, bajingan brengsek!"
Setelah kepergian Jungkook, Seokjin cepat-cepat berlari ke dalam. Kembali ke pelukan kekasihnya, mencari perlindungan. Yang tadi itu, sungguh suram. Jin, panggilan akrabnya--sama sekali tak tahu dengan masalah Jungkook sampai pria itu bereaksi sedemikian rupa.
🌼
"Istirahat saja,"kata Jimin menenangkan. Taehyung mengangguk patuh, menutup mata dengan nyaman. Hatinya sungguh damai mendapati Jimin duduk di sampingnya seperti ini.
Ia sengaja tak mengunci pintu, agar Jimin bisa pulang kapanpun ia mau. Taehyung bukan lelaki bejat, ia masih punya otak untuk tidak macam-macam.
Ia juga sengaja berbaring di sofa yang terletak di ruang tamu, jadi Jimin tidak perlu merasa canggung karena harus berduaan di dalam kamar hanya dengannya. Taehyung itu manusia yang cukup peka terhadap perasaan orang lain.
Bersyukur Jimin bersedia memasakkan bubur ayam, bahkan sampai mengompresi dahinya penuh kesabaran. Itu saja sudah lebih dari cukup untuknya.
"Sebelumnya maaf merepotkanmu, Jimin-ah"lirihnya sebelum benar-benar terlelap. Jimin tersenyum, namun senyum itu tanpa sadar berganti menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half a Heart [Kookmin]
De TodoJust Some Kookmin Story written in Bahasa. ------ Warning (bxb) Rated: T - M -Kookmin- Jungkook bukan orang yang harusnya ia impikan, sebelumnya Jimin tak pernah termakan akan kata hati namun kali ini ia kalah. Sulit untuk menentang kehendak kalbu y...
![Half a Heart [Kookmin]](https://img.wattpad.com/cover/158193977-64-k235494.jpg)