Hari-hari terus berlalu, Jungkook tak pernah sekacau ini. Ia merasa ada yang hilang namun egonya sulit tuk mengalah.
Waktu yang berjalan ia habiskan dengan pekerjaan, ia hanya akan makan bila benar-benar dibutuhkan. Jungkook tak pernah sebodoh ini. Ia pikir Jiminlah yang membuatnya merasa kehilangan.
Sekali lagi, ego menepuk sebelah hatinya. Enggan mengakui perasaan tulus yang mengalir diantara rasa benci disana. Seberapa besar'pun kebencian itu, tak bisa mengalahkan pedulinya Jungkook terhadap Jimin--meski tak ia sadari.
Ketika Jungkook mandi, ia akan mengingat Jimin. Ketika Jungkook melewati ruangan dimana Jimin biasanya terlelap, Jungkook akan mengingat Jimin.
Ia rindu senandung lembut saat si mungil membersihkan diri--yang diam-diam Jungkook dengar dan nikmati, ia rindu tatapan lembut saat si mungil melihat ke arahnya. Ia rindu masakan rumah sederhana yang setiap hari dicecapnya.
Jungkook merindukan Jimin.
"Kenapa aku jadi seperti ini?!"teriakan frustasi tak cukup untuk meluapkan emosi Jungkook, segala jenis barang-barang yang ada di atas mejanya tersapu ke bawah.
Srash.
"Kau pasti sudah gila, Jungkook!!"
Surai ditarik geram, Jungkook seperti orang kesurupan. Karyawannya terbirit-birit memasuki ruangan akibat suara tak biasa yang Jungkook ciptakan.
"Pak, bapak baik-baik saja? Astaga!"
🌼
"Temukan dimana Jimin berada,"
"Hei, kau yakin sedang memohon pertolongan? Nadamu itu menyebalkan sekali, kau tahu?"
"Ck, kerjakan saja."
"Aku bisa saja menyuruhmu berlutut..-"pandangan Jungkook seketika berubah, seperti akan membunuh siapa saja yang berani membalas tatapannya.
"..tapi aku tidak tertarik melakukannya hehe."katanya cepat, ia masih ingin hidup. Menurutnya, aura Jungkook itu jauh lebih menyeramkan daripada hantu manapun--jenis hantu yang sering ia saksikan di layar lebar tentunya.
"Aku beri waktu satu hari ini,"
"Kau pikir aku ini dewa? Dia saja tidak membawa apapun bersamanya. Mau dapat petunjuk dari mana?"
"Sshh, itu urusanmu berengsek!"
Kriet.
Kerah pria itu ditarik kuat, Jungkook sudah tak bisa lagi bersabar. Semua rasa khawatir, kesal, rindu, benci hingga cinta mengaduk-aduk isi hatinya. Mendorong emosi Jungkook ke permukaan.
"Hei, hei. Baiklah, maafkan aku."didorongnya pelan bahu Jungkook untuk duduk seperti semula. Ia menarik nafas dan menghembuskannya pelan, nyawanya hampir saja melayang.
"Kerjakan dengan baik, aku akan menunggu."
Setelah kepergian Jungkook, pria dengan marga Kim itu akhirnya bisa bernafas lega. Tidak begitu heran dengan sikap Jungkook yang semaunya. Tentu saja begitu karena mereka sudah berteman dari sekolah tingkat pertama.
Ia tersenyum mendapati fakta dimana Jungkook benar-benar jatuh cinta. Jungkook memang keras kepala, sering bertindak dengan logika namun yang ini terasa berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half a Heart [Kookmin]
RandomJust Some Kookmin Story written in Bahasa. ------ Warning (bxb) Rated: T - M -Kookmin- Jungkook bukan orang yang harusnya ia impikan, sebelumnya Jimin tak pernah termakan akan kata hati namun kali ini ia kalah. Sulit untuk menentang kehendak kalbu y...
![Half a Heart [Kookmin]](https://img.wattpad.com/cover/158193977-64-k235494.jpg)