Hari ini Jimin ingin berdiam diri saja di dalam rumah. Tak dipungkiri pula ia ingin menghindar dari Jungkook, namun harapan Jimin sirna ketika pintunya diketuk keras oleh seseorang, diikuti teriakan familiar.
"Jimin, ini paman! Buka pintunya,"
"Iyaa, sebentar paman.."
Cklek.
Matanya langsung beralih pada pria bergigi kelinci yang berdiri dengan wajah super lugu di samping paman Yoo.
"Paman!"gerutunya, ia hanya mendapatkan cengiran khas pria tua itu. Jungkook langsung masuk tanpa permisi membuat Jimin naik pitam.
"Ya! Siapa yang menyuruhmu masuk? Keluar sekarang! Aku mau istirahat, ck."
Greb.
Lengan Jungkook digamit kuat, membuat sang empu berhenti di tempat. Lalu ia menatap Jimin tanpa rasa bersalah, kepala dibengkokkan ke kanan--masih dengan raut polos menyebalkan.
"Aku akan menjagamu, kalau kau mau"katanya kelewat santai. Jimin tiba-tiba menyeretnya, namun tak membuahkan hasil. Semua orang tahu bahwa Jungkook itu dominan.
Kekuatannya tidak bisa disama-ratakan dengan milik si mungil. Ia hanyalah makhluk kecil yang selalu tidak berdaya di bawah Jungkook.
"Aku tidak mau!"
"Yasudah, aku yang memaksa."
Sebal, Jimin mematai si paman pembuat onar dengan tajam tapi pria itu malah cepat-cepat beranjak dari tempatnya. Jimin tidak habis pikir, apa yang telah Jungkook berikan untuk paman Yoo.
Jungkook berjalan ke arah pintu bukan untuk keluar dari rumah itu, malah mengunci pintu seolah ialah sang pemilik rumah. Jimin mengacak surainya.
"Istirahatlah dengan tenang,"
Tangan terkepal, Jimin menghentakkan kaki pada lantai yang tak bersalah. Ia pergi dari hadapan Jungkook yang diam-diam menahan tawa karena aksi si mungil yang sungguh imut dimatanya--Jungkook baru menyadarinya betapa imut pria itu.
Nyatanya, daripada tidur atau sekedar bersantai di dalam kamar, Jimin lebih memilih untuk memasak. Ia selalu melakukannya ketika merasa kesal, sedih ataupun marah.
Dengan begitu emosinya akan mereda, luka dihatinya kian pulih dan Jimin bisa tersenyum lagi ketika menikmati hasil masakannya. Selalu begitu.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa memasaknya sendiri jika merasa lapar." Gerakan Jimin berhenti, kepala menoleh ke belakang demi mendapati Jungkook yang berkacak pinggang dengan senyum manis.
"Jangan mengikutiku,"katanya geram, tapi Jungkook tetaplah Jungkook. Ia bisa berubah menjadi manusia paling menyebalkan untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Jim--"
"Jangan panggil namaku,"
"Aku suamimu-" dahi Jungkook berkerut, menandakan ia tak mengerti apa maksud Jimin mengatakan hal itu. Sementara si mungil menampilkan raut terluka.
"Cih, sejak kapan? Kau pikir kau siapa ha?!"tatapan menantang hampir saja membuat Jungkook tersulut. Namun ia sudah menata perasaannya dengan baik.
Jungkook sudah belajar. Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama dan membuat Jimin semakin jauh darinya. Cukup dengan keegoisan. Ia hanya akan menjadikan si mungil prioritas utamanya.
"Aku masih suami sah mu, Jeon Jimin.."ujarnya setenang aliran air sungai yang berhasil menghanyutkan Jimin pada binaran tulus di matanya. Tak berapa lama, ia menggeleng kuat.
"Kalau begitu tunggu saja, surat cerainya akan aku kirimkan secepatnya-,"
"Tidak akan, itu tidak akan terjadi."sela Jungkook dengan rahang mengeras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half a Heart [Kookmin]
DiversosJust Some Kookmin Story written in Bahasa. ------ Warning (bxb) Rated: T - M -Kookmin- Jungkook bukan orang yang harusnya ia impikan, sebelumnya Jimin tak pernah termakan akan kata hati namun kali ini ia kalah. Sulit untuk menentang kehendak kalbu y...
![Half a Heart [Kookmin]](https://img.wattpad.com/cover/158193977-64-k235494.jpg)