[Warn: This part contains a little bit of mature content, read at your own risk!]
Jimin masih setia mendampingi Jungkook yang tak berdaya di ranjangnya. Tampak lemah dan menyedihkan. Ia baru saja membersihkan tubuh sang suami.
Pikirannya melayang. Andai saja hari itu..hari sebelum Jungkook menyerah dan memutuskan untuk melakukan hal bodoh nan tolol semacam ini, andai saja Jimin menerimanya kembali, semua akan berbeda. Tidak seperti ini.
----Flashback on
Jungkook tidak sebodoh itu, ia mengambil kunci rumah Jimin. Betapa lancangnya Jungkook dan tangan-tangan nakalnya. Jimin baru saja sadar ketika memeriksa pintu, kunci yang tergantung tersisa satu.
Ia melotot bodoh dan pikiran Jimin langsung melayang pada Jungkook. Siapa lagi yang akan melakukan hal ini, tentu saja Jeon Jungkook yang suka mengusik kehidupannya saat ini.
"Hhh, apa yang harus kulakukan?"lirihnya sembari menyentuh kunci tersebut dengan ekspresi memelas, Jimin seolah-olah mengharapkan jawaban disaat jelas sekali tidak akan ada yang merespon.
"Tidak berhak rasanya memiliki Jungkook kembali, aku takut ia hanya bermain"
Glek.
Air dingin mengalir ke tenggorokan, Jimin mendesah lega ketika melepaskan ujung botol dari mulutnya. Kini semua terasa membebaninya, hatinya terombang-ambing, selalu gundah akan sikap Jungkook yang berbeda.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu menyadarkan Jimin dari lamunan sesaat, ia beranjak, namun belum mencapai kenopnya, pintu telah dibuka setelah kunci dimasukkan. Seorang pria menerobos masuk, gelagat mengendap-endap sampai ia mematung ketika bersitatap dengan Jimin. Jungkooklah sang tersangka utama.
"Jimin-ah, aku membawa kue mochi.."katanya enteng, seolah tak pernah terjadi apapun. Padahal Jungkook sudah malu setengah mati di dalam hati.
"..kembaranmu"gumamnya tak jelas ketika memperhatikan Jimin yang mendekat, berekspresi nihil dan tatapan yang agaknya menyakiti hati Jungkook.
Tidak ada lagi tatapan penuh cinta, tak ada lagi perbuatan kecil yang terlihat manis ketika Jimin lakukan untuknya, Jungkook merindukan semua itu. Salahnya tak menghargai segala pengorbanan si mungil.
"Kemarikan kunci rumahku,"
Seketika tangan Jungkook tersentak ke belakang, berniat mennyembunyikan kunci yang telah ia curi kemarin secara sangat tidak sopan dan kekanak-kanakan.
"Jeon.."
"Kau juga seorang Jeon, Jeon Jimin."
"Aku akan segera mengirimkan surat--"
"Tidak! Aku tidak akan mau mendengarnya, sekarang makan kuenya atau kau buang saja!"dengan kasar kantung kue tersebut digantungkan pada jari-jari mungil Jimin yang tersentak sebab ditarik paksa. Keningnya berkerut dalam. Sementara itu Jungkook telah memberikan punggung untuknya.
"Dan satu lagi, aku tidak mau mengembalikan kuncinya. Rumahku, rumahmu. Rumahmu, juga rumahku"ujarnya cukup lantang, menggambarkan sosok keras kepala sampai-sampai Jimin kesal.
Mulut Jimin melebar, kaki serasa gatal ingin mendarat pada bibir tipis Jungkook. Ia tidak pernah sekesal ini, kali ini benar-benar menguji kesabarannya.
Entah kehidupan macam apa yang Jimin jalani setelah memutuskan untuk menyingkir dari jalan takdir seorang Jeon Jungkook--yang baru menghargai dan mengakui keberadaannya.
Jungkook, apa benar ia sudah berubah?
Perutnya tergelitik hanya memikirkan hal itu, Jimin bisa jadi sangat tidak bijaksana bila itu bersangkutan dengan Jungkook. Ia tidak akan menyangkalnya karena kenyataannya memang begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half a Heart [Kookmin]
RandomJust Some Kookmin Story written in Bahasa. ------ Warning (bxb) Rated: T - M -Kookmin- Jungkook bukan orang yang harusnya ia impikan, sebelumnya Jimin tak pernah termakan akan kata hati namun kali ini ia kalah. Sulit untuk menentang kehendak kalbu y...
![Half a Heart [Kookmin]](https://img.wattpad.com/cover/158193977-64-k235494.jpg)