"Pamannnnn, Sejun ingin bertemu Jimin. Bisa bantu mendekatinya tidak?" Gong Yoo harus usap dada, semenjak Jimin tinggal di daerah ini, semua lelaki dominan bahkan anak gadis hingga janda dan ibu-ibu sering memanfaatkannya sebagai sarana dan media berbagi informasi tentang Jimin.
Ia tidak keberatan, tapi rasanya ia mulai jengkel juga hampir setiap hari meladeni celotehan orang-orang ini. Jangan salah, ia juga tak buta untuk melihat pesona alami pria mungil dengan pipi merah merona itu.
"Bagaimana jika kau usaha sendiri? Aku mulai lelah mendengarkan keluhan kalian karena ditolak mentah-mentah." Memang benar, mereka semua sudah pernah ditolak Jimin. Bahkan, Jungkook sekalipun yang mengaku sebagai suami si mungil padanya. Itulah yang membuat Yoo cukup ragu.
"Aku akan pikirkan rencana dululah, paman harus mendukungku ya?" Pria paruh baya itu mengangguk pasrah. Toh, tak ada gunanya juga ia menolak karena para penggemar fanatik ini akan menguras info darinya habis-habisan.
🌼
"Sejun-ssi, tidak apa. Kau tidak perlu melakukannya.."
"Hn? Memangnya kenapa? Aku juga suka tanaman seperti aku menyukaimu."
Blush.
Pipi seputih susu itu berakhir merona setelah telinganya menangkap kalimat menggoda dari bibir tipis Sejun. Pria baik yang sempat menawarkan diri padanya untuk menjadi pendamping sejati. Tentu saja berakhir mengenaskan, tapi anehnya Sejun kembali lagi.
Seharusnya ia membenci Jimin untuk alasan tersebut, namun dilihat dari aksi dan reaksinya saat ini tak ada bukti yang menguatkan sama sekali.
"E-ehm, apa kau bersedia menunggu? Aku akan membuatkan teh hangat untukmu.." Sejun mengangguk sembari tersenyum manis. Tangannya masih memegang selang air yang terarah pada bunga-bunga di sekitar rumah sederhana itu.
Setelah selesai dengan tugasnya, Sejun meletakkan kembali selang tersebut dan duduk di bangku teras. Kakinya menghentak senang, Jimin terlihat lebih nyaman daripada satu minggu yang lalu. Mungkin karena ia terlalu terburu-buru menyatakan cintanya pada pria mungil yang baru saja ia temui.
"Ini, terimakasih sudah membantuku."
Secangkir teh hangat itu ia terima dengan senang hati, lalu Sejun menggeleng sebagai balasan. Ia tulus melakukannya. Tidak ada yang dibuat-buat, karena ia juga sudah belajar, Jimin suka dengan hal yang nyata dan perlahan namun pasti.
Sejun sudah tahu bagaimana ia harus mengambil langkah dalam memenangkan hati si mungil kali ini. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kamusnya.
"Ngomong-ngomong, dimana mantelmu? Cuaca pagi ini dingin, Jimin-ssi"
Pluk.
Syall yang tadinya ia kenakan, dalam hitungan detik telah tersampir di leher si mungil. Jimin tak sempat untuk menolak, ia pun segan jika harus melepaskannya kembali. Itu akan terlihat tidak sopan.
Maka ia hanya tersenyum tanda berterima kasih. Telapak tangan milik Sejun mampir dan mengusap kepalanya lembut. Jimin mulai merasa aneh.
Ia tidak suka ini.
Hatinya bergemelut dan merasa bersalah hampir setiap detik, pria mungil itu tiba-tiba berdiri. Tatapannya kosong, bibirnya agak bergetar dan sentuhan Sejun spontan terlepas, ia jadi ikut panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Half a Heart [Kookmin]
DiversosJust Some Kookmin Story written in Bahasa. ------ Warning (bxb) Rated: T - M -Kookmin- Jungkook bukan orang yang harusnya ia impikan, sebelumnya Jimin tak pernah termakan akan kata hati namun kali ini ia kalah. Sulit untuk menentang kehendak kalbu y...
![Half a Heart [Kookmin]](https://img.wattpad.com/cover/158193977-64-k235494.jpg)