Sesuai rencanaku kemaren, aku daftar jadi waketos sementara.
Dibantu Suyeon, semua keperluan mendaftar udah diurus lengkap. Gak perlu ada yang dikhawatirkan lagi.
Ada sih, kak Yujin.
Dia yang harus dikhawatirkan.
Ya kan tau sendiri hari rabu kemaren aku gak sengaja liat dia yang lagi mandi. Setelah kejadian itu juga kak Yujin jadi gak pernah sekali pun keliatan bola matanya di sekolah.
Beneran menghindar.
Sebenarnya dia kenapa? Malu? Yaelah, malah aku biasa aja. Lebih ke bersyukur.
Mungkin dia gak biasa badannya diliat? Tapi 'kan, aku liatnya juga gak semua bagian. Masih ada yang tertutup.
Atau mungkin karena Tayo? Haha, malahan lucu kak Yujin pakai celana pendek gambar Tayo. Seksi-seksi gemas gimana gitu.
Aku lagi harap-harap cemas kalau kak Yujin bakal langsung nendang aku keluar ruang osis sebelum acaranya mulai.
"Su, doain gua ya."
"Amin."
Menatap Suyeon dengan kesal, aku mendecih pelan. "Amin doang, doanya kagak!"
"Udah gua doain sebelum lu minta."
"Doa apaan emang?"
"Biar lu gak dipilih jadi waketos, aminnnn," ucap Suyeon laknat lalu ketawa lepas.
Buang teman ke kali dosa gak sih?
Entah kenapa, aku gak tenang karena abis istirahat ini harus langsung ke ruang osis buat mulai pemilihan.
Semua pikiran negatif datang.
Gimana kalau aku malah disidang?
Gimana kalau kak Yujin bahkan gak mau liat mukaku?
Huwaaa, sedih banget sih aku.
Dengar bell istirahat yang udah selesai berkumandang, aku nelan ludah ketir.
"Udahlah, gak biasa banget lu khawatir. Biasanya juga malu-maluin." Suyeon nyeletuk, nepuk-nepuk bahuku sambil bangun dari bangku.
Dan aku cuma bisa menghela napas, lalu berdoa semoga kak Yujin udah ngelupain kejadian gak ngenaikin kemaren.
°
"Sunjing, kamu bisa masuk sekarang."
Aku menurut, masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya dipakai kak Yujin tidur dan aku ngasih susu putihnya. Tanganku rasanya keram karena gugup.
Gak biasa banget aku gugup.
Bener kata Suyeon, biasanya juga aku malu-maluin. Tapi rasanya ketemu lagi si ganteng bikin hatiku disko.
Saat aku masuk, bisa didengar kak Yujin nanya, "giliran siapa?"
"Sunjing," jawab kak Bobi pas banget aku muncul di hadapan kak Yujin.
Seperti yang dikira sebelumnya, kak Yujin kaget. Natap sekelilingnya yang penuh sama anggota osis, lengkap. Terutama kak Jihoon, sampe dipelototin.
"Suruh keluar aja."
Bener, kan. :') Aku ditendang sebelum mulai.
"Ya Allah, kak. Belum aku ngomong."
"Jin, gak baik lho." kak Jiheon, sang panutanku, mengingatkan.
Menghela napas, kak Yujin akhirnya ngangguk.
Dipersilahkan duduk di bangku tengah-tengah ruangan, dengan setiap anggota yang mengelilingi, kak Yujin tepat di depanku.
Gak tenang dia.
Yang kebagian wawancarain aku itu bukan kak Yujin. Gak tau aku siapa, gak kenal soalnya.
"Apa misi kamu ikut osis?"
Pertanyaan klise. Emangnya gak ada pertanyaan lain apa? Bosen daku dengarnya.
"Untuk membantu sementara, selagi kak Yuju gak bisa berkewajiban. Saya liat kak Yujin kebanyakan kerja sendiri, jadi saya berinisiatif membantu walau buat sementara, dari pada kasihan dia kecapekan. Saya liat kemaren aja kantung matanya menghitam."
Emm, kayaknya penjelasan aku bikin mereka geger? Aku terlalu jujur, sial.
"Hanya untuk membantu Yujin?"
Nanya mulu, udah kayak wartawan nih orang. Kesel princess.
"Maaf, aja nih kak. Emang begitu kenyataannya, kalian jarang ada yang bantu kak Yujin. Paling sering juga kak Jiheon dan kak Jihoon yang saya liat beneran membantu."
Semua ceming.
Mampus kan, kalian semua tertohok sama omonganku.
Udah lama aku amatin mereka, kerjanya aja gak niat, gimana mau bantu kak Yujin?
Dia itu udah sibuk sama berbagai macam kegiatan, seperti yang aku bilang kemaren. Ditambah osis yang kayaknya ngelepas semua tanggungjawab ke kak Yujin.
Tentu aku gak bisa diem aja.
Di belakang kak Yujin, si kembar nahan tawanya. Serta aku dihadiahi dua jempol dari mereka.
Lampu hijau udah kudapat dari teman dekatnya. Semakin mudah mungkin buatku jadi waketos? Aminnn.
"Oh, ok. Sedangkan misi kamu?"
"Misi?" alisku terangkat tinggi-tinggi-tinggi. "Excuse me."
Kak Jiheon dan kak Jihoon semakin cekikikan. Kak Yujin sama yang lain cuma natap aku males.
Berasa ada di tengah-tengah kandang singa lapar yang belum makan tiga hari, serem.
"Beneran suruh keluar aja deh," kata kak Nancy setengah geram.
"Enggak, enggak. Bercanda." cengengesan, aku natap balik kak Yujin.
Lagi dan lagi, dia buang muka.
"Misi aku membangun sekolah biar menjadi lebih baik dari sebelumnya, bukan lebih baik dari sekolah lain," ucapku dengan mantap. Menatap kak Yujin pakai senyum semanis mungkin.
"Karena yang hebat itu bukan yang mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri."
Omongan itu membuat kak Yujin akhirnya mau liat mukaku.
Karena kutipan itu aku ambil dari selembaran punya dia mungkin? Hehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ganteng | Yujin
Fanfiction"Eh, liat. Itu osis ganteng amat!?" "Gila! Dia cewek, bodoh!" Tentang si dia, yang gantengnya ngalahin cowok beroti sobek. menurutnya, dia lebih ganteng dari semua cowok di sekolah. ⚠gxg area⚠ ©spin off from OONIVERSE [1/5]✅
