Attention = 24

924 66 1
                                        

"Yakin udah siap?"

Setelah dirasa sepatunya udah terpakai sempurna dan maskernya udah dipake, Sunjing gendong tasnya di punggung. "Harus. Itu kewajiban gua sebagai waketos."

"Bukan, bukan itu maksudnya." Suyeon menggeleng sambil jalan. "Maksudnya, yakin udah siap ketemu kak Yujin?"

"Harus," jawab Sunjing yakin-yakin ragu. Kakinya nendang batu jalanan, sampe terpental jauh.

Denger jawabannya yang ada rasa ragu, Suyeon terkekeh pelan. "Gua gak yakin lu bisa ngelupain dia."

"Udah diputuskan, gua harus bisa. Cinta sama benci itu jaraknya tipis, ini lah resikonya terlalu bucin."

"Lagian siapa suruh bucin," ejek Suyeon, masih aja pengen ketawa liat temennya susah. "Tapi Tuhan gak mengajarkan untuk membenci. Harus bisa memaafkan."

"Su, gua bukan Tuhan yang maha memaafkan. Gua manusia biasa."

Suyeon memindahkan penglihatan ke orang yang lagi jalan di sampingnya ini.

Orang itu lagi sakit. Semalem Wonyoung nelepon tiba-tiba untuk nemenin orang ini. Udah tau lagi sakit, masih maksain ikut kemah.

"Jadi gimana?"

"Gimana apanya?" tanya Sunjing balik, ketawa miris sama apa yang terjadi. "Gua udah gak dibutuhin, gua bukan siapa-siapanya, gua udah terlanjur sakit hati. Tau, dia anak yang banyak sodara, gua tau. Beda sama gua yang gak punya keluarga.

"Gak tau deh, masih ada perasaan apa enggak buat dia. Gua gak sesabar itu orangnya."

Kaki mereka berdua udah sampe di gerbang sekolah. Gak berasa jalan kaki dari rumah ke sekolah kalau dilalui sambil ngobrol.

"Gak papa. Orang gak selalu harus baik." Suyeon merangkul bahu temennya.

Dapet dukungan, Sunjing senyum dibalik maskernya. "Lu emang terbaek."

"Eh, tapi gak ada salahnya sih benci. Tadi kata lu terlalu cinta bisa jadi benci. Kalo gitu, terlalu benci juga bisa jadi cinta. Gak papa, benci aja. Siapa tau lu bisa cinta lagi saking bencinya."

Sunjing cuma bisa senyum gak ngerti, ini orang ngomong belibet macem benang kusut.

"Maksudnya temen lu tuh, ginih," kata satu makhluk yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. "Intinya, lo ntar bisa cinta lagi sama dia. Gituh, Njing."

Ini orang ngomong pake suara serak dan bibir monyoungnya. Udah bisa ditebak orang ini Yena.

Sunjing hampir lupa kalau kemahnya gabungan sama sekolah lain.







°•°•°•°•°






Ternyata mobil panitia dan osis kemah dipisah sama mobil pesertanya. Sunjing jadi terpaksa harus pisah sama Suyeon.

Dia berasa jahat banget, giliran butuh baru nyari temennya. Gimana lagi, dia gak punya banyak temen di sekolah.

Jangan lupain juga Yujin yang daritadi ngajak ngobrol tapi cuma dibales jutek sama dia.

Biarin aja, biar tau rasa.

"Sunjing, lo mau ditaro bagasi apa di bawa masuk mobil aja?" tanya Changmin. Belakangan ini deket sama ini cowok gara-gara uang loundry tempo hari.

"Di mobil lah. Masa gua di bagasi?"

Changmin menghela napas sabar. "Maksud gue tuh, tas lo yang gedenya masyaallah ini."

"Di bagasi," jawab Sunjing sambil nge-wink. Changmin geli seketika.

Mobil yang Sunjing naikin ini bukan Tayo si bus kecil ramah. Tapi mobil biasa yang muat angkut ±5 orang. Emang buat panitia sengaja dibedain.

Ganteng | YujinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang