"Udah mandi?"
"Keliatannya?" tanya Yujin balik. Dengan nada datarnya, jangan lupa.
Dua orang yang sama-sama punya dimple kanan-kiri itu membuat suasana jadi canggung karena pas-pasan lagi.
Yujin gak mau sinisin nih orang, tapi gimana, orang ini mukanya yang minta disinisin.
Mau cuci muka dari kocoran langsung dari mata air gunung, mereka gak ada yang mau buka suara. Changmin yang lagi cuci muka, dan Yujin lagi sikat gigi.
Menghayati banget sikat giginya, sampe merem. Lalu tiba-tiba odolnya ketelen. "Akhh, uwekk!"
Cowok itu cuma ngeliatin dengan muka antara prihatin dan bodo amat. Namanya juga Changmin, kapan sih gak perhatian.
"Uwekk! Akh, uwekk!"
Gak tega, Changmin nepuk-nepuk punggungnya yang lagi keselek. "Pelan-pelan."
Lagian ngodok sikat giginya dalem banget, odolnya jadi ketelen. Sukurin kalau kata Jihoon mah.
"Aduh, Njing, gak kuat."
Ekspresi cowok itu langsung bertanya-tanya, sejak kapan namanya berubah. "Njing?"
"Oh?" Yujin ikutan kaget saat ngeliat muka Changmin. "Kirain...."
"Sunjing?" bales dia seolah-olah nyambung perkataan Yujin. "Kak Yujin segitu kepikirannya sampe ngelantur."
Yujin gak tau mau apa karena udah terlanjur malu. Yha, emang sih. Dari kemaren boong namanya kalau dia gak kepikiran tentang Sunjing. Ini segala keliatan pula lagi mikirin.
Udah selesai sama urusannya, Changmin ngantung anduk kecilnya di leher. Dia senyum dulu sebelum balik duluan. "Selesaiin dengan baik-baik. Kalo gak baik juga, ya harus nyerah."
Alarm siaga satu langsung bunyi di kepala. Omongan itu udah dianggep peringatan soalnya.
"Apa... Maksud... Hoy!" Yujin nyoba manggil Changmin yang udah jauh. Malah bengong dengan air masih ngocor.
Khusus temen-temen Sunjing, lagi pada ngumpul tendanya. Soalnya dia lagi sakit dan butuh pengalihan perhatian biar gak sakit-sakit amat.
Temen-temennya ya gak jauh dari Suyeon, Yerin, Yena, Jiheon-Jihoon, Changmin, Emnet.
Emnet bukan temen sih, lebih tepatnya orang gak punya temen yang berusaha jadi temennya. Ya begitulah.
Dan yang terakhir juga, Yujin otomatis ikutan kalau si kembar ikut.
Gak bisa dideskripsikan gimana suasana dalem itu tenda. Musuh ketemu musuh, mantan ketemu mantan.
Yang gak bersangkutan diem aja.
"Maen ToD lah!" ajak Yena. Bibirnya sampe monyoung. "Semua harus ikutan. Lu juga, Gi!" di akhir kata dia memperingati Yujin.
Yang diperingati pun langsung berdecak, muter mata keliling dunia. "Iyaaa!"
Posisi duduknya, Yujin ada di ujung dari tenda, bisa dibilang jadi penengah antara Yena dan Jihoon. Kalau dia madep depan, mata udah langsung ketemu sama muka Sunjing.
Sesekali keliatan sama dia, Sunjing curi-curi pandang. Ihiw. Yujin mah tau begitu, pura-pura jaim aja.
"Gue yang muter." Changmin menawarkan diri.
"Boleh, boleh."
Botol diputer, Yena kena pertama. Padahal dia yang ngarep kena terakhir.
"Truth or Dare?!" tanya Yujin gak nyantai.
"T-truth mungkin?"
"Masih berharap gak sama Jihoon?"
Mukanya yang ditanya langsung gak ngenakin. Masalahnya, dia sendiri juga gak tau. "Gak tau dah."
"Itu bukan jawaban."
Jihoon pura-pura tuli seketika. Yha gimana, mereka udah pisah, gak usah berharap satu sama lain kalau endingnya masih sama.
Yaelah, jadi galau.
"Y-yaudah, gua jujur." Yena menghela napas samar, lewat idung. "Sejujurnya sih, masih. TAPI CUMA SETITIK, GAK LEBIH."
Ditimpukin pake krikil sama Yujin deh.
Next. Botol berenti di Changmin. Barisan temen Sunjing langsung heboh.
"Truth or Daㅡ"
"Dare," jawabnya langsung tanpa ragu.
Yujin masih sinisin. Lagian harus banget ya, duduk sebelahan sama waketosnya? Kan hatinya jadi tertohok lagi.
"Puk-pukin kepala Yujin tiga kali," kata Yerin memprovokasi.
"Kak Yerin?!"
"Wahh, bagus tuh!" setuju Emnet sampe tepuk tangan, dipelototin sama Yujin, pun langsung ceming.
Tanpa keraguan dan aba-aba dulu, Changmin nyamperin Yujin yang lagi duduk di ujung. "Permisi, kak." Sesuai perintah, puk-pukin kepala Yujin tiga kali.
"YHAA GIMANA? GIMANA?"
"ROMANTIS AMAT SI!"
"UHUK." Langsung diem lagi pas Sunjing entah sengaja atau enggak batuk keras-keras.
Matanya sama mata Yujin ketemuan, buang muka karena gak mau liat-liatan lama-lama.
Gak lama kemudian, Yena keluar karena dipanggil temennya. Satu persatu ikutan keluar. Tinggal Yujin sama Sunjing doang di tenda.
Mendadak canggung.
Sadar sama suasana, Sunjing bergerak untuk keluar. Tapi karena Yujin duduk depan resleting tenda, tangannya ditahan.
Mata mereka ketemuan lagi.
"Duduk dulu." Yujin berusaha senyum. "Kita belom kebagian game-nya."
Akhirnya Sunjing nurut, duduk di sampingnya tapi agak jauhan.
Yujin cuma senyum miris, kepalanya ikutan pusing. "Kalo gua, bakal milih truth."
"Kalo ditanya, Sunjing kenapa? jawabannya gara-gara kebegoan gua sendiri."
"Kalo ditanya, kehilangan Sunjing enggak? Jawabannya udah pasti iya."
Mulai nanya sendiri jawab sendiri.
"Kalo ditanya, mau minta maaf enggak? Jawabannya, gua pengen minta maap banget."
"Kalo ditanya, Sunjing mau maapin enggak? Jawabannya, gua gak yakin. Karena gua mulai nyadar dia beda."
"Kalo ditanya lagi, kenapa baru sekarang nyadar? Jawabannya, ternyata Sunjing itu berharga."
"Kalo ditanyaㅡini pertanyaan terakhir, kangen Sunjing enggak? Itu gak usah ditanya lagi."
Setelah lama nunduk, Yujin mendongak untuk ngeliat muka Sunjing yang daritadi merhatiin dia ngomong.
"Njing, bener-bener marah ya?"
Sunjing diem memperhatikan.
"Ternyata, gua udah terbiasa sama lu. Gak ada lu jadi sepi. Sejak itu gua sadar kalo lagu bang Roma bener. Kalau sudah tiada baru terasa, kalau kehadiran Sunjing sungguh berharga."
Yujin senyum lagi. "Gua sadar akhirnya."
Ada yang netes keluar dari idung Yujin, Sunjing langsung kaget. "Kak, itu mimisan!"
"Gua ... Minta maap. Jangan begini lagi, ya? Nyakitin tau gak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ganteng | Yujin
Fanfiction"Eh, liat. Itu osis ganteng amat!?" "Gila! Dia cewek, bodoh!" Tentang si dia, yang gantengnya ngalahin cowok beroti sobek. menurutnya, dia lebih ganteng dari semua cowok di sekolah. ⚠gxg area⚠ ©spin off from OONIVERSE [1/5]✅
