Ketikaku ketikan sebuah judul ketika,
Kau yang harap di sana menghunusku dengan trisula
Namun tak separah itu, sampai bulir jatuh dari pelupuk mata
Ketikaku logikakan rumus yang tak berlogika,
Kau, yang malah datang tiba-tiba
Tanpa tahu, jika aku tengah rengsa
Ketikaku suguhkan senyum tuk sang renjana,
Kau, menderaku dengan racau niskala
Kabut-kabutmu yang samar, penuhi adiksi berdosa
Dan, ketikaku berdamai dengan sangkala
Kau yang sembari tertawa, mencercaku bak persona yang penuh tanda tanya
