Ngga selamanya yang cuek terus cuek. Semua akan sakit pada waktunya:v
-Author-
❤❤❤
Senin telah tiba. Hari yang dibenci oleh murid-murid karena harus kembali ke rutinitas membosankan yang wajib dilakukan oleh seorang pelajar. Bersekolah dan upacara. Mendengarkan ceramah pembina ditengah lapangan yang sangat panas. Diantara lautan murid yang menggerutu, entah takut hitam, pusing, panas, dan lainnya. Semua itu adalah kegiatan sakral yang harus dijalani pada hari senin.
Ara sampai sekolah tepat pukul 06.40 AM. Lima menit lagi bel berbunyi dan waktunya berkumpul di lapangan untuk upacara. Sebelum itu, Ara meletakkan tasnya di dalam kelas. Kelas cukup ramai. Hanya tinggal beberapa kursi saja yang kosong karena pemiliknya belum datang.
"Morning Arakuhh" sapa Marsha setelah melihat Ara memasuki kelas.
"Hm" balas Ara lalu segera duduk dibangkunya.
"Pagi-pagi udah dingin gini ya. Padahal cuacanya panas" balas Marsha yang melihat sikap Ara yang dingin.
Ara tidak menanggapi ucapan Marsha. Ia memilih mencari topi upacaranya di dalam tas. Gadis itu mengobrak abrik tasnya. Mulai dari bagian depan, tengah, dan belakang. Tapi tak menemukannya. Berkali-kali ia mengecek tas nya, namun topinya memang sedang malu-malu menampakkan diri. Ara mendengus pelan. Sepertinya nasib nya hari ini akan buruk. Kuatkan Ara agar bisa melewati ini semua dengan ikhlas ya gais. Apalagi jika sudah berurusan dengan BuPret, guru BK tercinta.
"Yok ke lapangan Ra. Udah di semprit tuh sama BuPret" ajak Celin sambil berjalan keluar kelas.
Ara mengikuti kedua temannya yang sudah berjalan duluan. Banyak murid yang berbondong-bondong menuju ke lapangan. Tak lupa topi yang sudah bertengger manis diatas kepala mereka. Ara berjalan santai walaupun tidak membawa topi. Ia tidak memusingkan hal itu.
Ara sampai di lapangan dan berjalan berlawanan arah dari tempat teman-teman kelasnya berdiri. Ia menuju ke tempat dimana murid tidak berpakaian lengkap, entah tidak membawa topi, sabuk, kaos kaki bukan putih, dan lainnya. Ada 2 murid laki-laki juga yang sudah berdiri di barisan itu. Ara ikut berbaris dengan mereka.
Upacara pun dimulai. Semua berjalan lancar walaupun banyak yang mengeluh kepanasan dan amanat nya terlalu lama. Setelah 45 menit berlalu, upacara pun akhirnya dibubarkan. Tapi jangan berpikir Ara akan ikut bubar menuju kelasnya ya karena saat ini BuPret sudah berada di depan mereka. Guru itu menatap muridnya dengan jengah. Sudah bosan melihat murid yang selalu kangen dengan hukumannya.
"Rino yang tidak memakai sabuk, Fahri dan Ara yang tidak membawa topi dan Ravin yang terlambat. Sekarang apa hukuman yang kalian inginkan?" ucap BuPret sambil memijit pelan pelipisnya.
Ara yang mendengar nama seorang cowok disebut pun menoleh ke belakang. Ternyata Ravin berbaris tepat dibelakangnya. Sejak kapan Ravin ada disitu? Datang ngga diundang pulang ngga dibolehin. Ara pun kembali menghadap kedepan.
"Jangan kasih hukuman bu. Kita capek nih" keluh Rino menjawab pertanyaan BuPret.
"Enak sekali kalian ya. Sudah melanggar aturan tetapi tidak mau diberi hukuman. Sekarang kalian lari keliling lapangan 5 kali" putus BuPret dengan nada tegas.
"3 lah bu" ucap Fahri menawar.
"Mau 5 atau ibu tambahin?!" ucap BuPret dengan galak.
Fahri menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut.
"Lakukan sekarang!" teriak BuPret sambil melipat tangannya di depan dada.
Mereka berempat pun mulai berlari mengelilingi lapangan. Ara dan Ravin memasang wajah datarnya. Mereka berlari sesekali berhenti untuk berjalan. Keringat membasahi baju mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARAVIN [ON GOING]
Teen FictionUPDATE TIDAK PASTI KAPAN^^ Ada beberapa kata-kata kasar. Maaf✌ ❤❤❤ Gimana jadinya seorang Adelino Ravindra Renfred mengenal Arabelle Ellora Zaviera hanya gara-gara masalah konyol di depan gerbang sekolah? Apakah Ara bisa menghilangkan trauma nya yan...
![ARAVIN [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/175987148-64-k762292.jpg)