Jangan bermain api kalau tidak mau api itu membakarmu
Arabelle Ellora Zaviera
❤❤❤
"Lo ngapain disini?"
Orang itu hanya diam saja memperhatikan Ara. Mereka berdua saling tatap beberapa detik. Hingga akhirnya Ara memutuskan tatapan itu.
"Budek lo?" ucap Ara dengan kata-kata pedasnya.
"Nganter motor lo" jawab cowok itu kemudian.
"Udah kan? Lo bisa pulang sekarang" kata Ara dengan wajah datarnya.
Ravin masih berdiri di kamar Ara sambil memperhatikan gadis itu. Wajahnya tidak sepucat tadi. Sepertinya sudah sembuh.
"Kenapa lo suka teru teru bozu?" tanya Ravin sambil melihat boneka yang tergantung diatas jendela kamar Ara.
Ara diam sambil membalikkan badannya ke arah jendela lagi. Ia belum siap menceritakan kejadian yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Lagipula Ravin hanyalah orang asing baginya yang kebetulan mengenal Ara. Biarlah waktu yang menyembuhkan semua.
"Bukan urusan lo" ucap Ara setelah beberapa menit terdiam.
Ravin tau jika gadis didepannya ini belum siap untuk bercerita. Cowok itu memakluminya.
"Oke. Gue pulang. Gatau kenapa gue jadi khawatir sama lo padahal biasanya ngga pernah gue ngerasain kayak gini" ucap Ravin sambil berbalik badan untuk keluar dari kamar Ara.
Ara diam mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut Ravin. Cowok yang biasanya sangat irit bicara itu tiba-tiba mengeluarkan lebih dari 5 kata. Mungkin ini akan dicatat sebagai sejarah oleh dunia.
Tapi ia tidak peduli. Ara kembali terdiam sambil memperhatikan langit. Ia kembali mengingat memori saat bersama 'dia' dulu. Satu kata untuknya saat ini yaitu rindu.
Bagaimana rasanya rindu tapi tak bisa bertemu? Padahal obat dari 'penyakit' rindu adalah temu. Mungkin rindu memang perlu diciptakan. Supaya tau sampai mana bisa bertahan.
Tapi sampai kapan? Semakin lama semakin menyesakkan. Dan akhirnya memuakkan.
Tak terasa setetes air matanya jatuh. Ara segera menghapusnya. Ia tidak mau terpuruk lagi seperti dulu.
Ara akhirnya kembali ke ranjangnya dan memejamkan matanya sampai terlelap ke alam mimpi.
🌸🌸🌸
Pagi harinya seperti biasa Ara berangkat ke sekolah menaiki motor maticnya yang kemarin sudah diantar oleh Ravin. Ia telah sampai di sekolahnya dan segera memarkirkan motor di parkiran. Ara berjalan sambil memakan permen karet yang dibelinya tadi sebelum sampai di sekolah. Saat sampai di kelas, ia langsung duduk di bangku.
Saat ini masih pukul 06.20 . Entah Ara yang terlalu pagi atau bagaimana, tapi kelas masih sepi. Hanya ada beberapa temannya saja yang sudah berangkat. Kedua sahabatnya juga belum berangkat semua. Mungkin sebentar lagi.
Ara mengambil headset dari dalam tasnya dan mulai menyambungkan ke ponselnya.
Ia memutar lagu All I Need milik Skylar Grey. Entah kenapa ia sangat menyukai lagu itu. Ia ikut bersenandung kecil.
🎶Cause baby everything you want, is everything i need, you're everything to me🎶
Tanpa disadari, kelasnya sudah mulai ramai. Teman-teman Ara memperhatikan Ara yang bersenandung kecil. Mungkin terkagum-kagum dengan suara Ara yang merdu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARAVIN [ON GOING]
Teen FictionUPDATE TIDAK PASTI KAPAN^^ Ada beberapa kata-kata kasar. Maaf✌ ❤❤❤ Gimana jadinya seorang Adelino Ravindra Renfred mengenal Arabelle Ellora Zaviera hanya gara-gara masalah konyol di depan gerbang sekolah? Apakah Ara bisa menghilangkan trauma nya yan...
![ARAVIN [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/175987148-64-k762292.jpg)