Tidak perlu masuk terlalu dalam ke duniaku. Kenapa? Karena terlalu banyak pecahan kaca yang mungkin akan melukaimu.
Arabelle Ellora Zaviera
❤❤❤
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Semua murid bergegas keluar dari kelas untuk pulang ke rumah. Ara terlihat masih tidur didalam kelasnya sedari kembali ke kelas tadi.
"Ra bangun. Ayo pulang" ucap Celin sambil menyenggol lengan Ara pelan, takut membuat Ara kaget dan malah menambah sakit kepalanya.
Ara menggeliat kecil dan mulai mengangkat kepalanya. Ia memerhatikan keadaan kelas yang sudah sepi. Hanya tinggal Celin dan beberapa teman sekelasnya yang masih membereskan barang-barangnya. Marsha sudah pulang duluan karena ada urusan setelah ini.
Ara mengambil tasnya dan mulai menggendong di bahu kanan nya saja. Ia berdiri agak sempoyongan tapi masih bisa ditahannya.
"Ra lo gapapa?" ucap Celin dengan nada khawatir karena melihat Ara yang sedikit terhuyung saat berdiri tadi.
"Gapapa. Yuk" ajak Ara kemudian.
Kedua orang itu berjalan bersama keluar dari kelas. Ara masih terlihat pucat sedari tadi. Saat di depan kelas, ia melihat Ravin sedang berdiri sambil menyenderkan badannya di samping pintu kelas. Tak lupa tangan yang disilangkan di depan dada. Sesekali ada adik kelas ataupun murid satu angkatan yang lewat dan auto memperhatikan Ravin yang sangat tampan. Tapi cowok itu tetap memasang wajah dinginnya.
"Lo pulang bareng gue" ucap Ravin saat melihat Ara keluar dari kelas bersama Celin.
"Gue bawa motor" kata Ara dingin. Tak lupa raut datarnya.
"Motor lo gue yang urus" ucap Ravin lalu menarik Ara pergi dari situ.
Celin yang sedari tadi berdiri di sebelah Ara pun hanya bisa melihat kedua orang itu.
"Hati-hati Ra" teriak Celin kemudian.
Ravin membawa Ara menuju ke tempat parkiran motor. Ara tak bisa melawan karena dirinya sangat lemas saat ini. Dan jangan lupa rasa pusingnya yang belum hilang.
Ravin melepas tangan Ara lalu berjalan ke arah motor Ara untuk mengambil helmnya. Ravin kembali lagi ke tempat Ara berdiri dan menyodorkan helm tersebut. Tanpa banyak protes, Ara memakai helm itu.
Ravin juga mulai memakai helm dan mengeluarkan motor besar nya dari parkiran.
"Naik" ucap Ravin dibalik helm full face nya.
Ara menaiki motor Ravin sambil memegang bahu Ravin agar tidak jatuh. Setelah duduk dengan manis disana, Ravin pun melaju meninggalkan sekolahan.
Di perjalanan, Ara hanya menyenderkan kepalanya pada punggung Ravin. Hening. Tidak ada percakapan apapun. Ara hanya memejamkan matanya saja. Ia masih pusing. Padahal dari tadi sudah tidur. Mungkin karena posisinya yang kurang bagus, jadinya malah tambah pusing.
Ravin membiarkan saja posisi Ara seperti itu. Tapi jangan lupakan jantung Ravin yang berdegup kencang saat berada di dekat Ara dengan posisi seperti itu.
Aduh jantung gue kenapa dah ni-batin Ravin-
Ravin tetap melaju menuju ke rumah Ara yang berada satu kompleks dengannya.
Saat sampai ia menyuruh Ara untuk turun. Ara turun dengan berhati-hati dan sedikit terhuyung ketika kakinya berhasil menapak ke tanah.
"Pelan-pelan aja" ucap Ravin kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARAVIN [ON GOING]
Novela JuvenilUPDATE TIDAK PASTI KAPAN^^ Ada beberapa kata-kata kasar. Maaf✌ ❤❤❤ Gimana jadinya seorang Adelino Ravindra Renfred mengenal Arabelle Ellora Zaviera hanya gara-gara masalah konyol di depan gerbang sekolah? Apakah Ara bisa menghilangkan trauma nya yan...
![ARAVIN [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/175987148-64-k762292.jpg)