" Zila!!" ucap Reynal dan Maya bersamaan, Zila yang ditatap hanya nyengir kuda.
"Ngapain Lo?" Ujar saga, Zila gugup menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu.
"Ah i- iya gua mau Ambil minum, iya mau ambil minum hehe" Zila segera berlalu kearah mejanya untuk mengambil sebuah botol air mineral miliknya.
"Udah selesai?" Zila menoleh, dia menggelengkan kepalanya sambil meneguk air seperti orang kesetanan. Hingga tandas dari awalnya penuh kini botol itu sudah kosong.
"Lo haus, gitu banget" Reynal tersenyum tipis, kala melihat cara minum Zila yang tidak wajar, terlihat seperti anak kecil yang habis bermain kejar-kejaran dan kecapekan.
"Biarin" ungkap singkat Zila, kemudian beranjak keluar untuk kembali ke kamar mandi dan melanjutkan hukumannya.
Reynal mengedikkan bahunya, kembali menatap sang kekasih yang tampak kebingungan.
"Zila kan tadi?" Reynal menganggukan kepalanya. "Beda banget" lanjutnya, reynal yang mendengar penuturan Maya mengernyitkan dahinya
"Beda Apanya" Maya mengedikkan bahunya, "nggak tau beda aja gitu" penuturan yang cukup ambigu dari Maya entah apa yang menurutnya berbeda dari Zila, namun Reynal tak ambil pusing.
***
Berjalan di koridor dengan tatapan kosong, bibirnya kian ngilu untuk berbicara, hati yang tampak porak poranda karena lelaki tampan itu, Zila tak bergeming satu katapun, senyum hanya sepintas untuk membalas sapaan dari murid lain.
Kejadian sederhana yang mampu membuat Zila hilang akan jiwanya, Zila menjadi sosok pencemburu buta kepada sosok yang bukan siapa - siapa.
Sakit batinnya, Zila terus menyemangati dirinya sendiri kala melihat sepasang kekasih yang tak ia restui, sebab Zila memiliki harapan dengan sang lelakinya, hampir satu tahun ini dia memendam rasa yang dia sembunyikan sangat rapat - rapat. Tidak ada satu orangpun mengetahui hanya fikiran dan hatinya yang tahu betul tentang perasaan yang terlanjur amat dalam itu.
"Udah minumnya?" Zila mengangguk kaku, kemudian dia memungut pel yang terjatuh dilantai untuk kembali melanjutkan hukumannya.
"Lo kenapa sih, sakit?" Karin tampak heran dengan lagak Zila yang berubah 180° dari tingkahnya tadi. Karin letakkan punggung tangannya ke dahi Zila. "Nggak panas" ujarnya.
Zila menepis halus tangan Karin yang bertengger didahinya.
" Gue nggak papa" Karin menghela nafas, sudah tau lagak Zila yang pemendam masalah.
"Ambigu banget kata - Kata Lo" Zila terdiam tak menanggapi celotehan - celotehan yang Karin ucapkan.
Suasana menjadi hening Zila yang terus diam, dan Karin pun juga ikut terdiam karena terus berfikir keras atas perubahan sifat Zila.
"Diem - diem Bae" Celetuk laki - laki yang tidak asing ditelinga dua perempuan itu.
Karin berbalik, tatapan kesal terlihat dari raut wajahnya mata melotot dan tangan yang sudah bertepat dipinggangnya.
Bryan mengedikkan bahu tegapnya, mendekat kearah dua wanita yang kini sama - sama berhenti dengan aktivitasnya.
"Nih gue kasih air, baik hati kan gue" dengan bahasa congkaknya Bryan memberi dua botol air mineral yang baru ia beli dikantin.
"Baik hati apaan dah, ini juga gara - gara elo" Karin menarik kasar minuman itu, dan langsung saja ia meneguknya hingga setengah.
Pandangan Bryan beralih menatap Zila, ia merasa heran dengan Zila yang terdiam seribu bahasa, tidak ada senyum - senyum kecil atau kekehan - kekehan kecil yang nampak seperti biasanya, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
"Lo kenapa Zil? Nahan berak?" Karin yang mendengar seketika terbelalak. Dengan reflek ia menoyor Bryan yang sembarangan dalam berbicara.
"Sakit bego" Bryan mengusap kepala yang kena Toyoran Karin. tenaganya gila kek kuli batin Bryan.
"Congor Lo tuh bego" Karin bersedekap dada.
"Gue gak papa, lagi unmood aja tiba - tiba" akhirnya Zila membuka setelah sekian jam ia bungkam terdiam.
"Gue kira nahan berak Zil, habis Lo diam terus dari tadi" Bryan nyengir kuda, kemudian merebut kain pel yang dipegang Zila.
"Eh.."
"Lo istirahat aja, biar gue gantiin" Zila menggeleng menandakan dia tidak setuju dengan tawaran Bryan.
"Nggak usah Bry, Lo masuk kelas aja" ucap Zila kembali menarik kain pel ditangan Bryan, alhasil Terjadi aksi tarik - menarikkain pel antara Bryan dan Zila.
"Stop!!!" Teriakan yang menggema didalam kamar mandi itu menghentikan tarik - menarik antara Zila dan Bryan.
"Zila kali ini gue setuju dengan dia sebaiknya Lo diam dan kembalikan mood Lo dulu, dan Bryan gantiin Lo" dengan senyum kemenangannya Bryan mengambil kembali kain pel yang terjatuh tadi. Zila mendengus sebal sebab dia tidak enak hati dengan Bryan dia yang dihukum dan Bryan yang menjalankan.
Dengan langkah lusuh Zila menuju teras didepan kamar mandi, dia senderkan punggungnya dipilar tembot itu, ia pejamkan matanya sejenak, kejadian itu kembali melintas dimana Zila melihat perhatian Reynal yang membuatnya cemburu buta, rasa iri itu tiba - tiba muncul dibenaknya ketika kejadian yang selalu menjadi angan Zila sejak lama. Reynal yang memeluknya, Reynal mengusap pucuk kepalanya ,dan Reynal yang berbuat manis kepadanya.
***
Suara bel yang cukup keras itu terdengar disetiap penjuru sekolahan, pertanda sekolah hari ini sudah selesai, semua siswa berhamburan menuju gerbang tinggi yang sudah terbuka.Hukuman Zila dan Karin yang dibantu Bryan sudah selesai dari 15 menit yang lalu, mereka bertiga beranjak ke kelas masing-masing untuk mengambil tas yang masih dikelas.
Zila berjalan gontai kearah parkiran sekolah, melihat parkiran sudah penuh dengan kepala berhelm. Dia juga termasuk dalam golongan berhelm itu, Zila menaiki motor berwarna pink matic miliknya. Berencana menuju toko buku untuk membeli sebuah novel terbaru incarannya.
Jalanan terlihat padat merayap, Zila harus terus menghela nafas dan bersabar. Anak sekolah,pejalan kaki, dan para mahluk - mahluk pedagang dipasar itu kumpul menjadi satu dijalanan utama kepusat kota. Hingga menimbulkan sedikit kemacetan.
30 menit berlalu Zila akhirnya bisa bernafas dengan lega karena sudah bebas dari jalanan yang padat itu. Sesampainya ditoko buku favoritnya dia terus berputar-putar mengelilingi rak - rak yang terisi berbagai macam buku. Padangannya beralih novel yang ia cari - cari sejak tadi berada di rak paling ujung seketika senyum Zila merekah dengan semangatnya dia mengambil dan menuju ketempat duduk panjang yang disediakan untuk membaca buku.
" Boleh duduk?" Zila mendongakkan kepalanya, laki - laki asing yang terlihat.
"Boleh" jawab singkat Zila, kemudian kembali fokus membaca sinopsis dan isi dari novel keluaran terbaru itu
"Badanmu mungil sepeti kelinci, nampak lucu nan menggemaskan" ucap pria itu lantang tanpa rasa malu, Zila melirik dengan ekor matanya berisik gerutu Zila dalam hati.
" Jikalau malam matamu bersinar terang, aku menyukai sinar yang tampak itu, coklat madu terlihat lucu"
Zila berdecak, dia terganggu dengan bacaan yang tidak sepantasnya dibacakan dengan keras.
"Masnya, kalau membaca jangan keras - keras lah, menganggu yang lain" ucap Zila menegur pria itu, pria itu hanya membalasnya dengan senyuman. Zila jengah dengan tingkah laku pria asing ini.
Laki - laki itu tiba - tiba mengulurkan tangannya, Zila yang melihatnya terheran maksud dengan pria itu.
"Saya Aga dirgantara, mau berkenalan"
TBC ?
Jangan lupa vote readers 🙏🙏

KAMU SEDANG MEMBACA
Silentium
Teen FictionZila gadis cantik yang mempu memendam rasa. Zila menyukai teman sekelasnya bernama Reynal. Namun Reynal sudah memliki kekasih sehingga membuat Zila harus bersabar menunggu Reynal Putus dengan pacarnya walau sempat berfikir Tidak ada kata putus diant...