Part - 7

43 4 0
                                    

Zila nangis tersedu - sedu, tisu bertebaran dimana - mana, hidung merah dan mata yang teramat sembab. Tak habis pikir dengan alur cerita yang amat rumit, laki - laki kejam yang meninggalkan sebongkah berlian demi seupil kacang. Novel terbaru yang kemarin ia beli cukup menguras air matanya, ceritanya yang pas untuk remaja dan konflik yang tidak asing untuk para remaja masa kini. Hingga Zila terbawa suasana, seolah - olah dia merasakan apa yang terjadi dalam novelnya.

Back to you song.

Suara lagu Milik Louis Tomlinson ft Bebe Rexha mengalihkan perhatian Zila sedari terus menatap lembaran tulis kini beralih ke ponsel disampinnya. Tertera dengan nama "Monkey". Zila mendengus sebal, sahabatnya mengganggunya saat cerita yang ia baca benar - benar pada bagian puncak konfliknya dan itu menyebalkan.

"Nyet, kerumah gue dah. Ini rumah gue kek kuburan gila, nyokap bokap ilang tau deh dimana" Zila sedikit menjauhkan ponsel dari kupingnya, suara Karin benar- benar membuat Zila jantungan untung ia tidak punya riwayat penyakit jantung jadi aman - aman saja.

"Salam dulu bego, kaget gue dengar suara Lo langsung ngengas gitu" karin diseberang sana hanya terkikik geli.

"Hehe...Maafin dah, habis gue gabut dirumah sendiri, sini lah"

"Repot dah hidup Lo, iya gue kesana nih".

"Gue tunggu, dan kalo kesini lihat tukang jual kebab dijalan lo mampir ya, bawain gue tu kebab. Pengen nih tapi mager"

"Iye gue bawain segerobaknya juga"

"Thank you, sahabat cantik gue, baik hati deh"

"Lebay, geli gue"

Sambungan itu terputus, Zila ngancir ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka karena keadaan mukanya kali ini benar - benar tidak bisa dikatakan baik - baik saja, hidung merah, mata sembab dan rambut acak - acakan.

Sedikit memoles bibir tipisnya dengan lipgloss pink, supaya lebih terlihat fresh. Kemudian ia raih jaket, dan memakai celana jeans putih. Zila menyambar kunci motor yang ada diatas nakas. Tidak ada polesan bedak atau sejenisnya karena ini hanya kerumah karin yang notabenenya sahabatnya. Jika mau Zila memakai piyama juga pasti akan diterima masuk kerumahnya.

"Mau kemana" suara lembut milik sang mam menghentikan aktivitasnya memakai sepatu. "Kerumah karin ma" ucap Zila.

" Jangan malam - malam pulangnya" Reta berguman, sambil mengelus kepala sang anak yang lebih rendah darinya.

Setelah sepatu sudah terpakai dengan benar, Zila bangkit ia tarik tangan milik Reta dan ia cium kemudian beralih ke pipi Reta. Reta tersenyum hangat, rasa syukur terus terucap memiliki anak yang keduanya benar - benar taat dan berbakti kepadanya.

"Zila berangkat dulu, assalamualaikum" Reta melambaikan tangannya, kala Zila yang berjalan semakin jauh untuk menemui Motornya.

"Waalaikumsalam" lirih Reta. Ia berbalik dan kembali melanjutkan aktivitas.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai dipersinggahan Karin kurang lebih 20 menit, karena jalanan yang tampak lenggang, dan normal.

Zila langsung saja masuk tanpa salam ataupun permisi, karena rumah Karin sudah seperti rumah keduanya. Tidak lain juga Karin, dia bahkan lebih parah ketika kerumah Zila, ia langsung masuk dan bersemedi di meja makan. Mencari makanan apa saja yang ada di dapur itu, walau makanan itu juga tersedia dirumahnya tapi menurutnya makanan dirumah orang lain itu lebih nikmat dibanding rumah sendiri. Aneh memang tapi itulah keunikan tingkah karin.

SilentiumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang