Part - 6

40 5 0
                                    

.
"maafin yang.." Rengek Maya. Reynal tetap diam seribu bahasa, Rasa kecewa,kesal hinggap menjadi satu. Reynal tak habis fikir dengan kekasihnya itu, sering kali dia mengingkari janji tanpa kabar untuk bertemu dimalam hari entah apa itu sebabnya, Reynal masih tidak faham.

"Tadi malam temenku tiba - tiba datang, dan aku lupa" Reynal hanya melirik malas, kemudian berdehem.

"Hp kamu rusak?" Maya menggeleng. "Aku kira rusak, Sibuk ya? Sampai tanda WhatsApp centang satu semua" Maya terdiam sejenak.

"Maaf " lirihnya, "Hp ku mati tadi malam" lanjutnya. Reynal mengangkat alisnya.

"Nggak punya charger?" Pertanyaan kembali keluar dari Reynal.

"Nama nya juga lu...." Belum Maya menyelesaikan kalimatnya, Reynal lebih dulu memotong. "Lupa lagi? Huh sudah ku duga" dengusnya.

"Masih muda tapi kamu pelupa ya?" Tawa hambar tercetak dibibir tipis Reynal. Maya terus saja terdiam ini salahnya jadi dia siap menerima konsekuensinya.

"Penting sekali temanmu tadi malam yang entah seperti apa bentuk makhluknya, hingga melupakan diriku yang menunggu berjam-jam diparkiran, Aku nggak penting ya?" Maya menggeleng keras, tidak setuju dengan ucapan Reynal kali ini.

"Kamu penting Rey" sergah Maya. "Tapi lebih penting temanmu" hancur sudah pertahanan Maya untuk tidak menangis, kali ini Reynal benar - benar marah dan membuat Maya ketakutan sendiri.

***

"Penilaian volly Minggu lalu kamu hanya mendapat skor 3 dalam teknik servis bawah dan 2 skor teknik servis atas, kamu harus mengulanginya Minggu depan dengan nilai yang lebih baik, kurang lebih mencetak skor 10 dalam teknik keduanya" ujar pak Darto sebagai guru olahraga dikelas sebelas. Zila tertunduk cemas, sebab dia sangat kacau dalam materi olahraga.

"Penilaian ini cukup penting karena berpengaruh dengan nilai semester akhir ini, kamu sudah saya toleran disemester awal dengan nilai pas kkm walau praktek dalam bola basket kamu bisa dikatakan kacau balau, tapi untuk kali ini bapak nggak bisa mentolerir nya lagi."

"Tapi pak saya memang sulit untuk menangkap materi dan praktek dalam bidang olahraga" pak Darto menghela nafas.

"Kamu bisa minta bantu Reynal, teman sekelasmu. Karena nilai tertinggi praktek bola besar diraih oleh dia" seketika senyum tercetak dibibir Zila, membayangkan bagaimana Jika Reynal dibelakang tubuhnya dan menuntun Zila untuk melakukan Servis mungkin akan menyenangkan. Tapi mana mungkin Reynal mau? ,dan senyum itu kembali luntur

"Kalau Reynal nggak mau gimana pak? "

"Bapak yang bilang ke Reynal" Zila mengangguk

"Yaudah terimakasih pak"  Zila melangkah keluar dari ruang sang guru, ia langkahkan kakinya menuju kantin, tiba dikantin pandangannya mengarah tepat dimeja pojok paling belakang, Karin menunggunya disana.

"Ngapain tadi sama pak Darto?" Tanya karin. "Minggu depan disuruh praktek volly lagi" Karin terheran, dengan santai Zila menyeruput minuman Karin didepannya.

"Kan kemarin udah"Zila menghela nafas "skor gue rendah cuma 2 dan 3 dan gue harus memperbaiki" jelasnya.

"Mana bisa Lo volly?"

"Nah itu dia, pak Darto nyuruh gue buat minta dilatih sama Si Reynal" Karin mengangguk.

"Kapan mulainya?" Zila menaikkan bahunya.

" Nggak tahu belum dikonfirmasi"

Bel suara cukup keras terdengar diarea kantin sebab speaker besar disengaja terpasang tepat didinding tengah kantin,untuk para penghuni kantin bisa mendengarnya dengan jelas, supaya tidak ada alasan lagi keterlambatan siswa masuk kelas karena tidak dengar bel.

Karin dan Zila memasuki kelas yang sudah nampak ramai, walau belum ada guru tapi semua murid sudah memasuki ruang kelas. Mereka berdua duduk dibangku masing -masing.

"Nanti pulang sekolah pelatihan voli dimulai" Zila menoleh, memicingkan matanya.
"Dimana?" Reynal mendengus. " Ya dilapangan sekolah sini lah, mau dimana lagi?" Keluarlah cengiran khas tanpa dosa milik Zila.

"Tapi, disini mana ada net nya?"

"Ada, dipinjami pak Darto katanya"Ucap saga.

Guru pengajar sudah memasuki ruang kelas yang kini hening, semuanya fokus dengan pengajaran dipapan tulis, mendengarkan dan memperhatikan .

Selang Berjam - jam berkutat dengan buku - buku pelajaran, suara 3 kali bel yang nyaring mendakan pelajaran hari ini sudah selesai. Semua murid secara bergantian keluar dari kelas.

"Gue duluan" Zila mengangguk.

Zila masih setia duduk dibangku miliknya, hari ini dia akan pulang sore karena pelatihan dimulai hari ini.

"Langsung kelapangan saja, hari ini dimulai materi tentang volly dulu" Zila mengangguk, kemudian ia bangkit dan berjalan menuju lapangan.

***
" Voli adalah salah satu jenis olah raga bola besar, dimainkan 1 timnya 6  orang. Voli memiliki teknik dasar yaitu Servis,Passing, Smash,membendung (bloking), dan posisi  pemain" Reynal menjedanya sejenak.

"Dan kali ini gue mau menerangkan tentang servis, karena penilaian yang akan diambil adalah tehnik melakukan servis dengan  benar .Servis sendiri adalah bentuk serangan yang pertama dalam permainan bola voli. Servis sendiri pada dasarnya terbagi menjadi 3 jenis, ada servis atas, servis bawah, dan servis menyamping"

Zila tampak serius mendengarkan semua materi yang telah disampaikan Reynal. Tidak heran jika Reynal mendapat nilai tertinggi dalam praktek bola besar, karena dia benar - benar menguasai materinya dari dasar hingga materi rinciannya.

"Cukup sampai disini bes-" belum Reynal menyelesaikan kalimatnya, terdengar seseorang perempuan yang memanggilnya diujung lapangan.
"Rey,,," Reynal menoleh, suara nyaring yang tidak asing baginya. Reynal menghela nafas panjang dan berdecak sebal. Maya kekasihnya terus membuntutinya dari istirahat tadi sampai ini pulang sekolah. Sebab Reynal belum memaafkannya.

"Rey,, aku nggak bawa kendaraan apapun aku nebeng kamu ya" Reynal hanya meliriknya kamudian beralih menatap Zila yang terdiam sedari tadi.

"Zil besok bawa Baju olahraga, kita mulai praktek" Zila mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan kedua pasangan itu. Zila tau mereka berdua sedang berkonflik mungkin karena tadi malam batinnya.

Reynal beralih kembali menatap kekasihnya, tatapan Maya tampak sendu dan memohon

"Belum pulang?" Maya menggelang Kemis ia memberanikan diri menyentuh lengan kekar Reynal.
"Aku pulang sama kamu ya" Reynal tak bergeming kemudian berjalan begitu saja tidak memperdulikan Maya. Maya masih mematung ditempat.

"Katanya mau bareng,kenapa malah diam" Maya tersenyum senang, Reynal masih memperdulikannya. Dengan kecepatan kilat Maya berlari dan menyamai langkah Reynal.

TBC ?
Jangan lupa vote readers 🙏😃😊

SilentiumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang