Keesokan harinya, Zila tampak bermalas sebab hari ini hari libur, Zila lebih memilih lebih lama berguling dikasurnya walau sinar matahari yang sudah nampak menembus jendelanya.
Tok tok tok
"Zila,,,bangun diluar ada temanmu" teriak Reta, sang mama dari luar.
Zila menghiraukannya, tubuhnya terasa lelah apalagi hatinya. Jadi tidak diherankan jika Zila akan sulit untuk dibangunkan.
"Nak,,,Zila" teriak Reta lagi, tidak ada jawaban seperti tadi. Reta mendengus sebal.
Dasar anak ini.
Reta berinisiatif mencari kunci duplikat kamar anaknya.
Kunci itu sudah ditemukan
Cklekk
Reta hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan Zila anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 tapi Zila masih saja terlelap.
"Zila" ucapnya lembut, Zila hanya merubah posisinya tanpa membuka matanya.
Harus ekstra sabar sepertinya.
"Zilaaa" ucapnya sedikit keras, tapi hasilnya masih seprti tadi.
Reta beranjak rasanya dia harus melakukan hal yang lebih dari ini.
Pyur pyur pyur
Percikan air yang itu berhasil membuat Zila terbangun.
"Mama apaan sih?" Gerutunya. Reta hanya tersenyum geli.
"Anak perawan jam segini kok belum bangun" olok Reta, Zila berdecak sebal.
"Capek ma"
"Capek?mama juga capek, kalau capek apa terus tidur gitu?. Anak perempuan jangan dibiasakan seperti ini sayang, nggak baik"
"Didepan ada temanmu"
Zila menoleh heran, siapa temannya? Hari ini sepertinya tidak ada janji dengan siapapun. Tapi kenapa sang mama berujar seperti itu.
"Siapa?Zila nggak ada janji sama siapapun" Ucap Zila disertai kernyitan didahinya menandakan dia sedang kebingungan.
"Mama juga nggak tahu, Udah sana mandi"
Reta beranjak, Zila masih berfikir tentang teman yang datang kerumahnya. Tidak ingin lebih rama berfikir Zila bangun dari kasurnya kemudian ia rapikan bantal hingga selimut yang sudah tidak beraturan.
Sudah selesai, segera zila ngacir kekamar mandi, dia bersihkan badannya.
***
Sementara diruang tamu, Tirta sedang berbincang dengan seseorang yang dikatakan Reta sebagai teman Zila. Mereka tampak Akrab seperti sudah lama kenal, padahal hanya sekali saja waktu dimall.
Siapa lagi? Yah, dia Reynal. Keadaanya sudah membaik, raut wajahnya yang sudah terlihat lebih segar dibanding kemarin. Walau tubuhnya masih sedikit hangat tapi menurutnya dia sudah sembuh.
"Tuh, pasti baru bangun"
Pandangan Reynal mengikuti arah telunjuk Tirta, terlihat Zila yang menuruni tangga dengan pakaian santainya.
"Ngapain lo?" Ucap Zila tanpa basa - basi.
"Sebentar, gue pamit dulu" Tirta lebih memilih pergi, dia tahu dari nada bicara sang adik sedang marah. Mungkin dengan Reynal. Sehingga tirta memutuskan untuk tidak ikut campur.

KAMU SEDANG MEMBACA
Silentium
Teen FictionZila gadis cantik yang mempu memendam rasa. Zila menyukai teman sekelasnya bernama Reynal. Namun Reynal sudah memliki kekasih sehingga membuat Zila harus bersabar menunggu Reynal Putus dengan pacarnya walau sempat berfikir Tidak ada kata putus diant...