Gunung gede pangrango-

67 6 0
                                        

Rangga Anggara, ia adalah laki-laki salah satu sahabatku ini. Sahabat-sahabat ku ini terdiri dari kurang lebih 10 orang laki-laki semua seperti yang sudah ku bilang, mereka adalah Rangga, Reza, Ray, Fardan, Jetlay, Fiki, Rama, Jojo, Fatir dan Ricky. Sering sekali ku disebut sebut sebagai laki-laki pula sebab aku selalu nimbrung dengan laki-laki, tak masalah bagiku kesenanganku ada pada mereka kenapa juga aku harus dengarkan kata orang lain. This is my life and i just be my self.

Rangga orang yang menurut ku menyebalkan awalnya, dulu ia tak akrab denganku, dulu ia seperti jijik kepadaku entahlah mengapa ia seperti itu kepadaku.

Tapi setelah berjalannya waktu, aku dengannya sering sekali dekat di kelas XI akhir, dari mulai chattingan via whatsapp tak jelas, jail jail nya di sekolah, ku fikir memang awalnya kita hanya sebatas sahabat tak pernah memikirkan yang menurutku tak akan pernah terjadi, karena di posisi itu aku sedang memperjuangkan mati matian demi orang yang ingin mematikan ku.

Pada saat liburan sekolah aku dan teman-teman ku pergi untuk mendaki gunung, sayangnya saat itu tidak semuanya ikut hanya 7 orang ikut mendaki, pasti sebagian dari kalian tau ya gunung terkenal Gunung Gede Pangrango ini. Ya memang itu salah satu hobbyku dan hobby teman-teman ku, hobyy kita travelling kemanapun asal berbau alam pasti berangkat.

Kita bersiap dan berkumpul di salah satu rumah sahabatku yaitu Reza yang didekat rumahku juga, pukul menunjukan jam 15.45 kita bergegas untuk berangkat karena jika terlalu sore pasti cuaca tak memungkingkan saat itupun awan sudah terlihat murung menghitam akan turun hujan.

Aku di boncengi oleh Jetlay di motornya itu, di tengah perjalanan hujan deras menimpa, kita semua bergegas untuk mencari tempat teduh untuk terlindung dari air derasnya hujan, sudah sedikit reda kita pun memulai perjalanan kembali, tak selang waktu lama hujan pun turun dengan deras lagi kita bergegas berteduh di salah satu warung makan emperan di pinggir jalan, langit mulai menggelap dan hujan semakin deras, hujan tak kunjung reda perut terasa lapar, kita memutuskan untuk memesan makan untuk mengganjal perut yang keroncongan, disana kita makan sama-sama walaupun terlihat lebih seperti orang yang mengirit ya tak apa ini lah kebersamaan kita saling berbagi dan sederhana cukup, this is very happy.

Waktu menunjukan pukul 20.15 sudah hampir larut malam, hujan sedikit reda kita memutuskan untuk menerobos hujan tersebut di pertengah jalan hujan kembali turun, kita berhenti sejenak untuk memakai jas hujan agar semua barang bawaan tak basah karena terguyur hujan. Hujan terus turun langit terlihat sedih pada saat itu, langit sedang murung dan memanjakan perasaannya.

Sampai pada tujuan utama kita, kita menginap di salah satu basecamp disana karena memang kita tidak di perbolehkan mendaki pada saat malam, itu akan membahayakan para pendaki. Cuaca dingin kabut yang menebal mengalahkan semua kehangatan. Kita beristirahat karena pagi-pagi buta kita harus pergi mendaki agar sampai atas sana tak terlalu sore.

Di basecamp, aku tertidur dengan tak beralas, Rangga selalu menawarkan tidur di sampingnya karena cuaca yang sangat dingin ia tak merelakan aku tidur kedinginan tanpa alas.

"Juu ihh lo jangan tidur disitu, disini samping gue aja." tawarannya sedikit memaksa.

"Iya ngga gapapa gue disini aja." bicara sembari mata memejam.

"Jangan batu kalo di bilangin." sedikit membentak.

Aku tak menghiraukan nya, aku tertidur saja karena ku merasakan lelah sekali dengan perjalanan ini.
Pagi telah tiba, kita bergegas dan bersiap. untuk pergi mendaki, katanya perjalanan untuk mencapai Alun-alun surya kencana ini membutuhkan waktu yang sangat lama yaitu sekitar 7-8 jam belum lagi mendaki pada puncaknya ditambah waktu sekitar 2-3 jam dari Alun-alun. Semua berkumpul, di awali dengan doa, memulai perjanjian agar tak saling meninggalkan dan jaga kekompakan.

After-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang