M83 - Wait
_______***_______
Di suatu Jumat malam, dengan gerimis yang tak berhenti semenjak siang tadi, Ikram menyanggupi untuk mengantar Kia pulang ke Bogor. Ini tidak seperti biasanya. Biasanya nih Kia akan berusaha untuk ngotot pulang sendiri naik kereta ketika Ikram menawarkan diri mengantarnya pulang ke Bogor. Namun berbeda dengan hari ini. Ikram tidak tahu kenapa, tapi semoga saja Kia tidak ketempelan atau kemasukan makhluk halus. Karena tiba-tiba sore tadi Kia yang meminta padanya dengan manja untuk mengantarkan perempuan itu ke Bogor.
Rezeki nomplok jangan ditolak. Apalagi Kia meminta padanya dengan manja seperti tadi, bikin Ikram ingin mencubiti pipi Kia, gemas. Ikram sangat suka mengantar Kia ke mana-mana. Bahkan ia sudah memasukkan hal tersebut ke dalam list hobinya.
Hujan gerimis berubah menjadi hujan deras saat mobil Ikram menepi di pinggir rumah Kia.
"Yah, saya nggak ada payung di mobil," keluh Ikram saat teringat payungnya kemarin-kemarin sempat dipinjam ibunya dan belum dikembalikan ke dalam mobil.
"Kia lari saja deh, Mas," ucap Kia.
"Sebentar, sebentar."
Ikram lalu membuka jaket denim yang dipakainya, keluar dari mobil, lalu berlari ke sisi pintu mobil penumpang dan membuka pintu itu. Diangkatnya jaket denim itu untuk menaungi kepala mereka, lalu mereka berdua pun berlari-larian ke dalam rumah. Sempat berhenti lama ketika pintu pagar sulit dibuka karena gelapnya area di sekitar situ. Ketika akhirnya pintu pagarnya terbuka, Kia dan Ikram kembali berlari mencapai teras. Mereka berdua tertawa-tawa. Dilihatnya tubuh mereka berdua, tetap basah. Mereka pun kembali tertawa konyol. Merasa sia-sia usaha Ikram menaungi mereka dengan jaketnya.
"Tetap basah," ucap Kia.
"Maaf ya," balas Ikram dengan cengiran khas anak kecil.
"Mas mau mampir dulu nggak?" tawar Kia.
"Makasih, Ki. Tapi sudah malam juga. Takut kena macet parah pas pulang."
"Oh. Hmm... Makasih ya, Mas."
"Iya, sama-sama."
"Maksudnya... makasih sudah sebegininya sama Kia."
Ikram mengernyit, kebingungan. "Gimana?"
"Waktu itu, waktu dengan noraknya Mas ngasih bunga ke Kia... inget nggak?"
Pertanyaan yang penuh ke-absurd-an, batin Ikram.
"Inget. Kenapa?" balas Ikram clueless.
"Inget nggak setelah Kia ngatain Mas norak, Mas bilang apa?" tanya Kia semakin membuat Ikram bingung. Ini mau main tebak-tebakan ala Kuis Komunikata atau gimana?
"Hmm...."
"Masa lupa, sih?" rengeknya membuat Ikram gemas. "Yang Mas bilang bahwa 'norak-norak gini juga...' apa deh lanjutannya tuh?"
Iiihhh, Kiaaa...! Apa sih? Nggak jelas tapi bikin gemas!
Eh Ikram malah menertawakannya. "Iyaaa.. saya inget. Terus?"
"Yaa... Kia juga... hmm...." Ucapan menggantung Kia akhirnya dapat Ikram mengerti ketika perempuan itu menganggukkan kepalanya berulang kali, seperti memberi kode pada Ikram.
Saat itulah bola mata Ikram membesar.
"Maksud kamu... kita...." tunjuk Ikram pada dirinya dan Kia bergantian.
Kia mengangguk semakin kencang dengan mata terpejam dan kepala sedikit menunduk. Tampak malu-malu.
"Jadi sekarang kita... paca—"
Kia langsung membekap mulut Ikram secepat kilat. Dengan wajah malu-malunya Kia berujar, "Jangan disebutin, ih!" Wajahnya memanas. Meskipun cahaya di teras agak-agak redup, tapi Ikram bisa melihat rona merah di pipi Kia.
Ya Tuhan, dadanya meletup-letup.
"Kenapa nggak boleh disebutin? Kan biar jelas," goda Ikram.
Kia menggeleng. Wajahnya menggemaskan. "Malu."
Ikram tertawa melihatnya. Diambilnya sisa rambut yang menutupi pelipis Kia untuk ia selipkan di balik telinga perempuan itu. Kemudian ia sentuh pipi kemerahan Kia yang terasa hangat di jarinya yang dingin.
"Saya sayang sama kamu, Ki," lirihnya.
"Pelan-pelan, ya, Mas. Kita jalani saja dulu," tandas Kia dengan senyuman yang merekah.
Ikram mengangguk, yakin bahwa cinta itu bisa dipupuk dan dirawat. Dan Ikram memercayakan itu pada Kia.
Laki-laki itu akhirnya pamit dengan perasaan bahagia. Ia sampai ingin berlari-lari mengelilingi komplek rumah Kia hujan-hujanan, merayakan letupan kembang api di dalam dadanya.
Kia sulit untuk tidak tertawa melihat tingkah Ikram yang kocak.
Ketika masuk ke dalam rumah, Bunda dan Ayahnya langsung menghampiri dirinya dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran. Ayahnya bahkan sampai harus mengelus pelan punggungnya, seolah menenangkan Kia.
Ini kenapa? Kok perasaan Kia nggak enak?
"Dek, kamu yang sabar, ya," ucap Bunda. Kia tetap tak mengerti.
"Kenapa, Bun?" Sungguh, Kia sangat khawatir. Ini ada apa sebenarnya?
"Barusan ada telepon. Eyang Utinya Nando... meninggal tadi sore," papar Bunda.
Kia langsung lemas. Jika ayahnya tidak merengkuh tubuh putri bungsunya itu, tubuh Kia sudah menghantam lantai sekarang.
Pikirannya langsung kalut. Eyang Uti... orang yang paling dekat dengan Nando. Bahkan melebihi dekatnya Nando pada bapak dan ibunya. Secara otomatis otaknya langsung memikirkan kondisi Nando.
"Nando gimana, Bun?" tanyanya khawatir dengan mata berkaca-kaca.
"Besok pagi kita melayat, ya."
Dan semalaman itu Kia tidak bisa tidur. Sempat terpikirkan untuk menelepon Nando dan mengucapkan rasa prihatinnya serta memastikan keadaan Nando baik-baik saja. Namun, ia tak berani. Ia terlalu takut menerima penolakan Nando. Setidaknya skenario itu yang ada dalam benaknya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Broken
RomanceKegagalan pernikahan membuat KIA rapuh dan selalu tidak siap untuk menjalin hubungan dengan lelaki mana pun. Bukan karena trauma akan kegagalannya, tetapi bayang-bayang masa lalu masih saja terus menghantuinya. Ia adalah perempuan yang penuh luka ka...
