"Ada saatnya hati salah memilih kepada siapa dirinya jatuh."
🌌🌞🌌
"Belum selesai bersihinnya?"
Mega memicingkan matanya mendengar suara bariton itu. Kedua alisnya terangkat melihat Jingga sudah menyandar pada dinding yang berada tak jauh darinya.
"Ngapain lo ke toilet cewek?" tanya Mega ketus karena rasa kesalnya kepada Jingga masih belum hilang.
"Emang nggak boleh ya?"
"Ya nggak boleh lah, nanti di kira mau berbuat macam-macam. Lagian lo 'kan disuruh bersihinnya toilet cowok bukan cewek. Udah ah sana pergi, sebelum ada yang lihat."
Mega mencipratkan air dari dalam ember ke arah Jingga. Tetapi cowok itu justru menahan tangannya dan mengambil alih sikat kamar mandi yang digenggamnya. Lalu, mulai menyikat lantai toilet yang belum sempat ia bersihkan.
Melihat itu, Mega menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal. Ia tidak enak hati karena Jingga membantunya padahal cowok itu mempunyai pekerjaan sendiri.
"Nggak usah Ga. Lebih baik lo selesaiin hukuman lo."
Mega berusaha menghentikan Jingga. Ia maju beberapa langkah untuk mengambil kembali sikat kamar mandi itu. Tapi, belum sampai ke tujuannya, kakinya terpeleset lantai yang masih basah oleh air sabun dan otomatis tubuhnya ikut terhuyung ke belakang. Sebelum ia terjatuh ke lantai, ia merasakan sebuah tangan menahan tubuhnya. Napasnya tertahan, saat menyadari Jingga berada sangat dekat dengan dirinya.
Mega langsung menegakkan tubuhnya yang diikuti oleh Jingga. Cowok itu berdehem untuk sedikit menepis kecanggungan yang tiba-tiba saja menghampiri keduanya.
"Gu--gue sudah suruh Izul yang bersihin," sahut Jingga memberitahu agar Mega tidak berusaha mengusirnya lagi.
Menyadari suaranya yang terbata-bata, Jingga merutuki dirinya sendiri dalam hati, "Gue alay banget sih! Sentuhan sama Mega beberapa detik aja udah deg-degan."
"Adkel yang sering gabung sama gerombolan lo itu?" tanya Mega pelan.
Jingga mengangguk seraya sedikit menggeser posisinya untuk membersihkan lantai yang masih kotor lainnya. Kini Mega membiarkan Jingga yang membersihkan, takut hal tadi terulang lagi.
"Kok Izul mau? Bukan karena lo kakelnya dia 'kan?"
"Ya bukanlah. Gue, dia, sama anak-anak lain nggak ada yang namanya senioritas." Jingga menyahut bangga.
"Terus?"
"Gue kasih dia rokok. Kebetulan dia juga lagi males masuk kelas," jelas Jingga santai.
Berbeda dengan Mega yang langsung memasang wajah muram, "Lo belum berhenti ngerokok ya?"
"Udah, tapi kadang pingin."
"Seperti sekarang dan lo kembali ngerokok?" sambung Mega dengan suara sedikit meninggi.
Jingga yang tadinya membelakangi Mega, membalikkan badannya. Ia tersenyum jail kearah gadis itu, "Lo khawatir ya kalau gue kenapa-napa?"
"Iya, karena gue sahabat lo. Gue nggak mau sahabat yang selalu ada buat gue merasa kesakitan nantinya akibat rokok mematikan itu."
Senyum Jingga berubah menjadi miris. Dalam diam, ia menyumpah serapahi dirinya sendiri yang terlalu berharap lebih. Sampai kapanpun Mega hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih.
"Selesai," seru Jingga tak lama kemudian seraya mengedarkan pandangannya mengamati toilet yang sudah bersih.
"Makasih udah dibantuin," ujar Mega tulus dengan bibir yang melengkung indah
"Ini bukan di bantuin lagi, tapi gue yang ngerjain." Jingga melirik Mega yang langsung mengerucutkan bibir mendengar sindirannya.
"Eh, gue juga ikut bersihin ya, walaupun cuma sedikit," elak Mega tidak terima.
Jingga terkekeh seraya mengacak rambut Mega, "Iya-iya gue percaya."
Hening sejenak, sebelum Jingga kembali berbicara, "Ke kantin yuk! Masuk kelasnya waktu pelajaran Bu Lena habis aja," ajaknya mulai menghasut.
"Enggak ah. Gue udah puas dapat hukuman dari Bu Lena."
Jingga tidak menghiraukan. Setelah mengambil tas mereka yang belum sempat ditaruh di dalam kelas, ia menarik paksa Mega ke kantin sekolah dan berhenti di salah satu warung yang menjual makanan ringan.
"Tunggu sini dulu! Gue mau beli sesuatu, nanti habis itu langsung balik ke kelas," ujar Jingga sebelum berjalan menuju wanita paruh baya penjaga warung tersebut.
Dengan berat hati Mega duduk di salah satu kursi yang disediakan. Ia melihat sekitarnya, yang ada disini kebanyakan murid-murid nakal. Penampilannya pun tidak jauh beda dari Jingga yang urak-urakan. Tetapi, kalau sifatnya ia tidak tahu. Karena sahabat cowoknya itu walaupun nakal masih dalam batas wajar.
"Takut ketahuan bolos?" Jingga mengambil duduk di sebrangnya, lantas menyodorkan sekardus coklat seribuan kepada Mega.
"Sedikit. Lo ngapain beli coklat satu kardus?"
"Sesuai apa yang tadi gue bilang, kalau gue bakal beliin lo coklat. Gue cuma nggak mau kasih harapan palsu ke lo," ujar Jingga seraya membuka segel minuman botol yang ia beli.
Mega tersenyum geli, "Makasih."
"Sama-sama ... tapi sorry ya kalau coklatnya bukan yang biasa cowok kasih ke pacarnya waktu valentine. Soalnya warungnya nggak jual."
"Nggak papa kali Ga. Lagian kita juga nggak pacaran."
Jingga mengulas senyum tipis yang dipaksakan. Jujur saja, ia tertohok mendengar ucapan Mega yang benar adanya. Dirinyalah yang harus diluruskan agar tidak memiliki rasa berlebih kepada Mega, karena hal itu dapat merusak persahabatan mereka yang lebih indah dari hubungan apapun itu.
🌌🌞🌌
Happy reading ;)
Ditunggu vomentnya ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Semburat Jingga
Teen FictionBagi Jingga, Mega adalah kanfas putihnya. Tempat ternyamanya melukiskan senyum juga berbagi kehangatan melalui semburat fajar maupun senja. Namun, tidak dengan Mega yang menganggap Jingga hanyalah teman yang setia bersamanya menyusuri lorong panjan...
