“Penantian panjang yang hanya menyisakan harapan, lama-kelamaan akan mengikis kesabaran yang setiap waktunya berkurang .”
🌌🌞🌌
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu. Mega membereskan bukunya yang berserakan di atas meja setelah guru mengakhiri pelajaran dan berlalu keluar kelas.
"Mega, mau istirahat bareng nggak?" tanya Kisha, teman sebangkunya bersama dua sahabat gadis itu yang juga akrab dengannya.
Mega tidak langsung menjawab. Ia menengok ke kursi Jingga yang berada di pojok paling belakang. Ternyata Jingga masih ada di sana dan sedang bergurau dengan gerombolan cowok itu yang lebih didominasi anak-anak dari kelas IPS daripada anak-anak IPA sendiri.
"Gimana?" tanya Kisha lagi.
"Kalian duluan aja. Maaf ya sebelumnya ..."
"Enggak papa, gue ngerti kok," sahut Kisha yang memang tahu terkadang Mega istirahat bersama Jingga. Walaupun lebih sering dengan ketiga gadis itu.
Mega mengambil handphonenya yang ia simpan didalam tas. Tak lama setelah handphone itu memancarkan sinar, jarinya menari mengetikkan pesan untuk Jingga.
Ga, lo nggak istirahat?
Tidak perlu menunggu lama, handphonenya yang Mega letakkan diatas meja bergetar. Ia mengukir senyum, membaca balasan dari Jingga.
Jingga :
Mau istirahat bareng?
Mau ... Gue tunggu di luar kelas ya.
Dalam hati Mega bersyukur Jingga langsung bisa menangkap maksudnya. Sebenarnya bukan ia tidak suka kalau Jingga bersama gerombolan cowok itu. Tapi ia cuma takut Jingga akan kembali merokok jika bergabung dengan mereka yang sama-sama perokok.
Jingga :
Nggak gue samperin aja?
Mega tidak berniat membalasnya. Sebelum berjalan keluar kelas, ia mendengar gerombolan Jingga bersorak kecewa karena cowok itu tidak istirahat bersama mereka.
"Lo kenapa tadi di kelas nggak mau gue samperin?" kini Jingga sudah berjalan beriringan dengan Mega menuju kantin.
"Enggak enak aja dilihat sama temen-temen lo."
"Mereka tahu kalau kita cuma sahabatan." setelahnya Jingga tidak lagi bersuara, begitu juga dengan Mega. Sampai mereka berpisah di pintu kantin, setelah membagi siapa yang mencari tempat duduk dan siapa yang akan membeli makanan.
Jingga mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang masih kosong, tapi matanya justru menangkap sosok rivalnya, Pelangi. Tiba-tiba saja ia menyeringai licik dan berjalan menghampiri orang yang baru saja menjadi objek pandangannya.
"Pelangi, Pelangi, nggak sekalian nempel aja itu." seru Jingga menyindir saat sampai didekat Pelangi.
Penghuni kantin yang tadinya sibuk mengisi perut, mendengar suara lantang Jingga langsung menatap geli ke arah Pelangi yang duduk hanya berjarak beberapa senti dari seorang cowok yang Jingga ketahui bernama Ezra.
Jingga menahan tawanya, melihat raut malu Pelangi dan Ezra walaupun mereka berdua sudah saling menjauh.
Jingga membungkukan badannya di samping Pelangi, "Kalau mau modus sama Ezra jangan tanggung-tanggung," bisiknya yang masih bisa di dengar oleh banyak orang yang belum mengalihkan pandangannya dari keduanya. Dan detik selanjutnya sorak tawa meramaikan kantin siang ini.
🌌🌞🌌
Jingga mencekal tangan Mega saat gadis itu akan beranjak meninggalkannya setelah menghabiskan semangkuk soto tanpa berceloteh. Tidak seperti biasanya.
"Buru-buru banget. Masih ada sepuluh menit sebelum bel masuk," ujar Jingga sekilas melirik jam yang menempel di dinding kantin.
Dengan bibir yang terkatup rapat, Mega menatap Jingga kecewa dalam beberapa detik. Karena setelahnya, ia menghentakkan tangan Jingga sampai terlepas dari tangannya dan melangkah lebar meninggalkan Jingga.
Di sepanjang koridor, Mega beberapa kali hampir menabrak murid lain yang datang dari lawan arah. Sayup-sayup ia mendengar suara Jingga memanggil namanya. Dan semakin lama justru semakin jelas terdengar walaupun ia sudah mengubah jalannya menjadi berlari pelan.
Mega berdecak tak suka saat Jingga berhasil menghentikkan langkahnya dan membuatnya menghadap lelaki itu. Tanpa disuarakan pun, Mega tahu apa yang akan di tanyakan Jingga padanya. Ia tidak ingin bertambah kecewa jika pertanyaan itu keluar dari sela bibir Jingga, sehingga walaupun sungkan ia terlebih dulu menjelaskan, "Apa sih Ga?! Gue nggak enak badan makanya gue cepet-cepet balik ke kelas."
"Gue nggak percaya," ucap Jingga menatap tepat manik mata Mega, membuat gadis itu menghela napas pelan.
"Lo mau tahu apa yang sebenarnya ngebuat gue tiba-tiba begini?" tanya Mega dengan suara yang terdengar lelah. Ya, dia lelah dengan sikap Jingga yang semena-mena.
Jingga mengangguk.
"Gue kecewa sama lo. Karena lo mempermalukan Pelangi tadi di kantin." Mega menghela napas panjang, "Gue tahu lo sama dia rival. Gue kira itu hanya di perlombaan, tapi ternyata gue salah menduga."
Mega melebarkan senyum getirnya mendapati tatapan Jingga tidak melunak. Itu tandanya Jingga tetap menganggap apa yang sudah dirinya lakukan benar.
"Percuma gue jelasin kayak gini. Ujung-ujungnya lo juga nggak akan merasa menyesal. Kayak sebelum-sebelumnya 'kan?" tanya Mega memastikan, tapi justru bel masuk yang menjawab.
"Nanti pulangnya gue nggak bareng lo, soalnya gue mau ke toko buku dulu," sambung Mega dan kembali melangkah menuju kelasnya.
Jingga tidak lagi mengejar, ia hanya mengawasi Mega sampai hilang di kelokan. Bukannya kembali kekelas, ia justru bertolak menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Saat tidak bersama Mega, ia memilih merokok di tempat itu untuk menghentikan sementara bayang-bayang masalah yang berputar seakan menghantuinya.
🌌🌞🌌
Happy reading, guyss :')))
KAMU SEDANG MEMBACA
Semburat Jingga
Novela JuvenilBagi Jingga, Mega adalah kanfas putihnya. Tempat ternyamanya melukiskan senyum juga berbagi kehangatan melalui semburat fajar maupun senja. Namun, tidak dengan Mega yang menganggap Jingga hanyalah teman yang setia bersamanya menyusuri lorong panjan...
