#15

390 18 3
                                        

Dengan susah payah gue bangunin abang gue yang udah kaya kebo kalo udah tidur. Tapi kebonya tetep ganteng sih.

Gue dan abang gue kali ini sebenernya nggak berencana kemana-mana. Tapi sayang banget liburan seperti ini nggak dimanfaatin. Tugas alhamdulillah udah beres semua yaudah tinggal santai lah.

Pas musim tugas, semua mata pelajaran ada tugas. Giliran diminta dikumpulkan yang belum selesai gurunya langsung bilang, "Satu minggu kalian buat apa?".

Menurut gue, pertanyaan kaya gitu nggak pantes buat dijawab. Pak, buk, satu minggu kita juga dipake buat ngerjain tugas yang lain, emangnya yang diprioritaskan cuma tugasnya bapak ibu.

Pengen banget rasanya ngomong kaya gitu. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat gue kepada para guru yang telah berjasa, gue urungkan semuanya.

Dan sekarang adalah waktunya libur, jadi kenapa nggak dimanfaatin?

Gue sibuk cari baju yang pantes buat gue pake. Akhirnya gue pakai baju panjang sama celana panjang. Padahal udah gue cepetin, tapi pas gue kelar bersiap, abang gue udah tidur lagi dikursi tamu.

"Bang, udah ayo!"

Abang gue perlahan buat buka mata, trus liatin gue dari atas sampai bawah.

"Heh, biasa aja kali. Gue emang cantik." Ucap gue berlagak sombong.

"Pakai kerudung sana" Suruhnya.

Gue bingung, gue cari kesalahan gue dimana.

"Emangnya kenapa? Baju gue salahkah?" Tanya gue.

"Enggak"

"Trus?"

"Lo tahu kenapa Airin kalo kemana-mana selalu pakai hijab?"

"Kok Arin sih? Jangan disamain ya, gue beda."

Gue mulai kesel, kenapa harus disambungin ke Airin sih?

"Dia mah emang udah cantik dari sananya kali bang, bukan dari hijabnya." Jawab gue seadanya.

Abang gue diam sejenak, menghela napas pelan,

"Nda, gini. Hijab itu emang menambah kecantikan seorang wanita. Tapi yang paling penting itu lo nggak nambah dosa."

Bentar, kok jadi serius gini. Gue duduk disebelahnya.

"Lah emang kenapa? Dosa-dosa gue, gue yang nanggung"

Astagfirullah, gue bener-bener udah kemakan hasutan setan.

"Ini kewajiban gue sebagai abang lo. Dosa lo bapak yang nanggung"

Hah,

"Setiap langkah putrinya keluar rumah tanpa hijab, itu sama aja mendorong satu langkah ayahnya ke neraka. Naudzubillah. Lo pikir deh sekarang, udah berapa banyak langkah lo keluar tanpa hijab? Udah berapa langkah lo dorong bapak ke neraka?"

Mata gue mulai memanas, astagfirullah, ternyata dosa gue sebanyak itu dan semuanya bapak yang tanggung.

Sekilas wajah bapak terlintas, dan gejolak api neraka. Naudzubillah.

Gue nggak mau bapak masuk neraka, apalagi gue adalah alasan utamanya.

"Terus, gimana caranya gue narik langkah gue bang?"

"Sesuatu yang udah terjadi nggak bakal bisa diulang lagi. Tapi setidaknya lo nggak semakin jauh lagi."

"Jadi lo pake hijab ya dek, gue bakalan dukung lo sepenuhnya." Kata abang gue meyakinkan.

Berulangkali gue usap air mata gue.

"Tapi bang...ibadah gue belum baik." Sebelum gue meyakinkan diri, gue buat berhijab. Bagi gue, hijab bukan hal main-main. Sekali ya untuk selamanya.

Hijrah With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang