Beberapa bulan udah berlalu, gue mulai terbiasa sama hijab gue. Tapi disisi lain, gue juga udah mulai mengenal cinta. Ya, cinta terhadap lawan jenis. Siapa lagi kalau bukan Radit.
Tanpa sepengetahuan abang gue, gue pacaran sama Radit. Alasannya simple, gue cuma butuh temen apalagi disaat seperti ini. Mungkin ada May sama Arin, tapi itu beda.
Waktu itu, Radit ngajak gue buat pergi ketempat yang dulu pernah kita datangi.
"Lo masih inget kan sama tempat ini?" Tanya Radit ke gue.
Nggak gue jawab, karena dia juga udah tahu jawabannya.
"Dulu gue ngajak lo kesini karena gue mau nunjukin tempat favorit gue ke lo. Tapi sekarang gue ngajak lo kesini mau nunjukin ketempat ini kalau gue punya orang yang favorit buat gue." Katanya dengan jelas.
Gue masih berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Radit. 'orang yang favorit? Gue?' dari situ gue udah mulai salah tingkah.
Tanpa minta izin ke gue, dia langsung memegang tangan gue. Jujur gue kaget, tapi perlahan gue coba buat tahan.
"Nda, sebenernya dari pertama gue liat lo, gue udah suka sama lo." Katanya.
"Gue mau ngungkapin ini sejak dulu, tapi gue masih belum sanggup."
"Apalagi dengan sikap lo yang beda sama cewe biasanya." Sambungnya.
Sekarang apa yang harus gue lakuin? Semoga aja Adit nggak lihat pipi gue udah kaya merah tomat.
"Amanda, lo mau kan jadi pacar gue?" Tanyanya yang jelas nembak gue.
Apa yang harus gue jawab? Jujur, sebenernya gue juga ada hati sama Radit. Tapi pas udah empat mata, gue sendiri yang grogi.
"Nggak lo jawab sekarang juga nggak papa kok, gue bisa nunggu jawaban lo." Katanya lagi.
Ampun, sekarang gue bingung. Lalu tanpa berpikir panjang gue mengangguk dan menyetujuinya. Dan sejak saat itu, gue dan Radit resmi pacaran. Tapi kita berdua sepakat untuk merahasiakannya dari siapapun.
Sepulang dari situ, gue masuk kamar dengan hati yang berbunga. Gue langsung merebahkan badan gue ke kasur, senyum-senyum sendiri kek orang dibawah waras. Tapi seperti umumnya, gue juga bilang 'inilah cinta'.
Gue nggak paham arti pacaran dalam islam, yang gue tahu waktu itu cuma sekedar pacaran dan selama nggak kelewat batas, ya menurut gue fine aja.
Berhubung abang gue lebih sering ngurus kerjaan, jadi gue bisa ambil kesempatan itu buat jalan sama Radit.
"Adit, gue mau itu dong!" Pinta gue sama Radit. Mungkin semenjak gue pacaran sama Radit, gue lebih sering meminta barang yang gue suka. Matre? Menurut gue enggak, wajar dong kalau minta hadiah sama pacar.
"Yang ini? Oke" Tanyanya meyakinkan dan langsung menyetujuinya. Kemudian Radit memanggil pelayan dan memesannya.
Gue nggak minta aneh-aneh kok, paling cuma jajan atau makanan. Tapi kalau Radit mau ngasih gue suatu barang ya gue terima aja. Nggak jarang kadang abang gue nanya barang-barang itu, tapi gue jawab aja 'gue lagi coba bisnis'.
Nggak lama nunggu, akhirnya pesanannya datang juga. Nggak pake aba-aba gue langsung melahap makanan yang ada didepan gue. Gue bahkan nggak mikir kalau didepan gue sekarang ada Radit, bukan lagi sekedar teman tapi pacar. Bagi gue nggak ada kata jaim. Masalah suka nggaknya terserah, yang penting gue jadi diri gue sendiri.
"Pelan-pelan Nda" Kata Radit yang bahkan cuma terdengar sayup bagi gue.
"Bentar" Sambungnya kemudian mendekatkan tangannya ke pipi gue. Gue salah tingkah, bingung. Dan kemudian dia mengusap lembut pipi gue yang ternyata ada makanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrah With You
Teen FictionHijrah itu mudah, yang susah istiqomah. Namun bersamamu aku mampu melewatinya. "Dulu gue belum terlalu paham arti berhijrah. Hampir gue jauh dari sang kuasa, hingga akhirnya Allah mengirim seseorang untuk membantu gue berhijrah."
