*Hampir Kembali Kehilangan*
"Assalamu'alaikum...." Salam ceria Manda langsung terhenti ketika melihat seseorang sedang duduk ngobrol dengan Nanda.
"Abi!" bibir Manda bergetar mengucapkan nama orang tersebut.
Sang pemilik nama tersebut menoleh dan seketika tatapan mereka bertemu. Tatapan yang masih sama seperti dulu, dingin tapi menghangatkan.
"Kebetulan lo udah dateng, sini duduk Nda." Ucap Airin yang keluar dengan membawa camilan. Amanda hanya mengangguk dan mengikutinya.
Dalam hati Amanda bahagia bahwa seseorang yang selama ini dia tunggu kini hadir dihadapannya.
_
_
_
_
Manda dan Abi memilih untuk duduk di taman dekat rumah. Hening, tidak ada yang bisa mereka katakan. Mereka sedang melepas rindu diam-diam.Mengingat betapa lucunya kisah mereka dulu saat SMP dan SMA.
"Kapan nyampe?" Tanya Manda.
"Kemarin" Jawab Abi singkat sama seperti dulu. Abi tetaplah Abi, tidak ada yang berubah selain penampilannya.
Manda ber-oh lalu mangangguk-angguk.
"Kok lo lost kontak sih selama ini?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Amanda.
Lost kontak? Gimana ceritanya? Padahal setahu Abi, dia selalu mengirim surat untuk Manda. Bahkan untuk masalah yang dihadapinya saat ini.
Setiap bulan Abi mengirim surat untuk Manda dan dititipkan kepada Radit. Apakah selama ini orang itu menyembunyikan semua suratnya dari Manda? Tapi kenapa? Entah pikiran apa saja yang langsung datang di otak Abi.
"Heh, ditanya malah bengong."
"Maaf, waktu itu ponselku hilang dan aku lupa semua nomor didalamnya." Jawab Abi mengada-ada. Dia tidak mau salah paham dulu terhadap Radit.
"Nda, maaf aku rasa kita nggak bisa bersama." Kata Abi tanpa basa-basi tapi dengan raut wajah yang tampak menyesal.
"Kenapa?" Tanya Manda terkejut dan bingung.
"Karena ada hati yang lagi membutuhkan gue." Jawab Abi.
Manda merasakan matanya mulai memanas.
"Siapa?" Tanya Manda yang kini mulai mengalir liquid bening dipipinya.
"Gue nggak perlu ngasih tahu. Sekali lagi gue bener-bener minta maaf." Jawab Abi lagi.
Abi sangat menyesal sedangkan Manda hanya bisa menangisi kebodohannya.
"Trus, lo pikir gue nggak butuh lo? Lo bilang kalau kita saling mendoa kita bakal bersatu, trus kenapa sekarang malah gini? Apa lo udah nggak pernah berdoa biar kita bisa bersatu...?"
"...empat tahun bi, empat tahun lo buat gue disangka orang nggak waras dan ada kelainan karena selalu nolak pria tajir yang datang berta'aruf sama gue." ucap Manda benar-benar meluapkan emosinya.
Ucapan Manda semakin membuat Abi menyesal tapi tidak ada jalan lain. Sebenarnya Abi ingin menceritakan semuanya tapi rasanya tidak mungkin. Dan Abi memilih untuk mendengarkan semua emosi Manda untuknya.
"Lo pasti mau bilang kan, 'dulu kan gue udah pernah bilang jangan tunggu gue' gitu? Emang gampang teorinya Bi tapi susah prakteknya. Hati gue udah terlanjur jatuh sama lo."
Amanda terisak diam sedangkan Abi hanya bisa meruntuki kebodohannya.
"Gue minta maaf"
"Manda mau kan maafin Abi?"
"Nda, lo mau ke mana?"
Manda tidak berbicara sedikitpun, hatinya tidak mampu menahannya untuk menangis. Maka dari itu dia memilih untuk pergi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrah With You
Roman pour AdolescentsHijrah itu mudah, yang susah istiqomah. Namun bersamamu aku mampu melewatinya. "Dulu gue belum terlalu paham arti berhijrah. Hampir gue jauh dari sang kuasa, hingga akhirnya Allah mengirim seseorang untuk membantu gue berhijrah."