#7

509 18 0
                                        

Pada pagi ini, semuanya tampak berbeda. Dimana semua anak semakin fokus dengan buku-bukunya.

Mungkin bahkan mereka tidak tahu kalau disebelah mereka ada temannya.

Dan gue belajar sih belajar juga tapi nggak sampai segitunya.

Pagi ini gue dan Nanda sengaja berangkat lebih awal dari sebelumnya.

Mengingat hari ini adalah ujian nasional pertama. Dan gue mau belajar disekolah, biar lebih masuk (menurut gue).

"Assalamualaikum Manda, Nanda"

Siapa lagi kalau bukan Airin, temen gue kan cuma dia.

"Wa'alaikumsalam" jawab gue bebarengan sama Nanda.

"Gimana? Kalian udah siap?"

Wuaah, ternyata bukan cuma Nanda. Airin juga punya virus yang sama. Udah tahu sekarang UN, nggak mungkinkan kalau gue bilang belum siap ujian nasional nya bakalan diundurin.

"Udah siap. Airin sendiri?"

"In syaa allah" kemudian mengangguk.

"Kalau Nanda udah pasti siap kan?" Tanyanya kembali.

Nanda cuma mengacungkan ibu jarinya, dan mengangguk. Dan gue tahu alasannya, kalau dia bicara pasti bakal keliatan banget dia lagi gugup.

'Hick, dasar abang. Udah tahu yang namanya cinta' pekik gue dalam hati.

Mungkin Nanda tidak mengakui hatinya sendiri namun dari segala perilakunya gue udah paham sebelum dia ngomong.

Semalam gue terus belajar tanpa sepengetahuan Nanda. Setidaknya gue udah berusaha. Masalah bagus enggaknya nilai gue nanti gue nggak peduli.

Kring...kring

Suara bel itu seolah menjadi suara maut yang tidak diharapkan kali ini.

Kita semua masuk kedalam ruangan masing-masing.

Berhubung gue, Nanda dan Airin sama-sama berhuruf depan 'A' makanya kita satu kelas.

Dari kejauhan gue mendengar suara langkah kaki ibu dan bapak pengawas, seolah langkah malaikat maut yang hampir membawa gue pergi dari orang tua gue.

Dan dari meja sebelah, Nanda mengacungkan jempol pertanda dia menyemangati gue. Heh, memang laki-laki sulit untuk memberikan sebuah dukungan, Aishhh.

Kelas disiapkan, dan lembar soal sudah dibagikan. Dan kini, lembar soal itu sudah ada tepat di atas meja gue.

Bel tanda mulai mengerjakan sudah dibunyikan, dan jujur gue gugup dan takut banget.

Dengan perlahan gue buka lembar soal itu dan gue mulai mengerjakan.

Dan hampir dua jam gue berkutat dengan mapel pertama ujian nasional kemudian bel usai telah dibunyikan.

"Alhamdulillah"

Jujur gue seneng, setidaknya ada beberapa soal yang keluar dari beberapa soal yang gue pelajari.

Flashback on

"Aishh, ternyata jadi pelajar jauh lebih susah dari yang gue bayangkan."

"Kenapa anak-anak harus belajar dengan semua mapel yang bahkan disaat besar nanti tidak digunakan?"

"Emak, bapak. Manda minta maaf."

Gue terus menggerutu malam itu. Gue pasrah kalau misalkan nilai gue jelek nanti,

toh ada peribahasa mengatakan

'hasil tidak pernah mengkhianati usaha'

Dan yah, usaha gue gue cuma bisa segitu, jadi jangan salahin gue kalau nilai gue nggak bagus.

Hijrah With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang