#16

373 16 1
                                        

"Bismillahirrohmanirrohim"

Nanda memimpin doa makan malam kali ini.

Ya ampun, kalo gue itung. Udah jarang banget momen makan satu meja bareng semua keluarga.

Hal itu dihitung sejak gue sama abang gue masuk SMA. Gue sama Nanda pulangnya sore terus dan abang gue itu setelah pulang langsung bantu emak di ladang, atau mencari uang tambahan buat bantu bapak. Emak tidur duluan, karena kecapean di ladang. Sedangkan bapak sibuk mencari pemasukan tambahan. Mengingat kebutuhan kita yang semakin banyak sejak kita masuk SMA.

Dan gue baru merasakan betapa nikmatnya berkumpul satu keluarga.

Ya allah, Gue kangen semua yang dulu.

Tanpa gue sadari, hampir aja gue nagis.

"Nduk piye sekolahe?¹" Tanya emak.

"Biasa mak, ketemunya sama buku terus." Jawab gue.

"Jenenge yo sekolah, nek pacaran lah ketemune karo pacare.²" Kata emak dan kemudian disusul tawa semuanya.

"Nda, kakangmu nek nang sekolah keprie?³" Tanya bapak.

Gue melirik abang gue dulu sambil senyum sinis.

"Abang kalo di sekolah genit pak, sok kegantengan" Jawab gue.

"Heh, enggak pak. Bohong Manda. Manda tuh yang kecentilan." Timpal abang gue. Sekali lagi kita semua ketawa lagi.

"Bapak percaya, anak bapak semuanya baik. Bisa membedakan antara yang benar dan salah. Bapak cuma pesen, tolong jaga kepercayaan bapak. Jangan sampai kalian salah jalan. Dan kalian harus saling menjaga."

Gue nggak heran, karena bapak gue emang selalu ngasih nasehat apapun kalau lagi kumpul begini.

Kita melanjutkan makan malam sederhana ini. Kemudian kembali ke rutinitas masing-masing. Kita semua masuk dalam kamar.

Malam itu gue nggak bisa tidur. Tiba-tiba aja wajah bapak terlintas, tampak kerutan di pipinya dan tersenyum.

'Kok gue jadi kepikiran bapak ya?'

Memorinya seakan diputar lagi ke masa kecil dulu dan gue menikmati itu.

'Semoga bapak sehat selalu, aamiin.'

Doa gue malam itu dan kemudian tertidur.

Pagi harinya semua tampak baik-baik saja. Gue dan Nanda berangkat sekolah.

Nggak ada hal spesial hari ini. Di sekolah juga, hanya mendengar ocehan guru yang tidak pernah bosan dengan rumus-rumusnya.

Hingga akhirnya, Nanda mendapat telepon yang gue rasa itu penting.

Nanda kembali dengan wajah penuh khawatir.

"Bang, ada apa?" Tanya gue,

"Ayo pulang nda!" Ajaknya langsung narik gue keluar rumah.

"Nda, ada apa sih?" Tanya gue satu kali lagi.

"Hm, nanti gue jelasin di rumah aja."

Perasaan gue nggak enak, gue terus berpikir positif.

'Nggak ada apa-apa, semuanya baik'

Dan sampai didepan rumah gue melihat bendera putih. Sesampai gue disana, banyak orang langsung melihat gue dan abang gue.

Dengan perasaan yang udah nggak jelas, gue mulai masuk ke ruangan. Lutut gue lemes dan nggak kuat, ketika gue ngelihat satu jenazah udah ditutup kain. Disampingnya ada emak yang nangis nggak henti-henti.

Hijrah With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang