Jilid 28/39

1.1K 15 0
                                    

Kun Tek tertawa-tawa, suara ketawanya bebas lepas dan keluar langsung dari dalam perutnya, melepaskan semua keraguan dan kedukaan, dan menjadikannya gembira luar biasa sehingga segala sesuatu nampak indah.

"Ha-ha-ha, ahh, nona Pouw, pertama-tama kumohon padamu, janganlah menyebut aku taihiap! Selain itu, jangan engkau merendahkan dirimu. Engkau sendiri seorang gadis perkasa dan tentang ilmu silat, belum tentu aku akan mampu menang darimu! Engkau membuat aku malu saja dengan menyebutku taihiap. Aku tidak keliru, Nona, karena aku mengenal suara hatiku sendiri. Aku cinta padamu!"

"Tetapi... Toako (Kakak), aku tidak berharga mendapatkan cintamu. Aku... aku adalah seorang gadis yang hina, yang ternoda... aku... aku telah..." Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena duka telah menyergap perasaannya lagi ketika ia teringat betapa ia telah menjadi korban kebiadaban Siangkoan Liong.

"Aku sudah tahu, Nona," kata Kun Tek, suaranya tenang saja seolah-olah yang mereka bicarakan itu tak ada artinya baginya. "Aku telah mendengar apa yang dikatakan wanita itu, dan aku dapat menduga bahwa engkau tentu sudah menjadi korban dari pemuda yang bernama Siangkoan Liong itu."

Li Sian kini mengusap air matanya, memandang kepada Kun Tek.

"Benar...!" katanya tegas. "Biarlah engkau mendengarnya, Cu-toako, dan juga saudara Gu Hong Beng ini mendengarnya. Tak perlu aku menutupi lagi peristiwa itu karena kita semua akan mati. Dengarlah baik-baik pengakuanku. Ketika aku tiba di sini, aku telah terbujuk oleh mereka untuk dapat menemui kakak kandungku yang kemudian mereka bunuh tanpa sepengetahuanku. Dan pada saat aku berduka karena kematian kakakku, kesempatan itu dipergunakan oleh manusia iblis Siangkoan Liong itu, untuk merayuku. Terdorong oleh kelemahanku saat itu, juga dengan bantuan obat-obat, kekuatan sihir, dan rayuannya, akhirnya aku menyerah. Aku menyerahkan diriku kepadanya, kemudian akhirnya aku dapat melihat kepalsuannya, bahwa dia menyuruh bunuh kakakku, bahwa dia hanya mempermainkan aku... nah, engkau telah tahu sekarang, Toako, bahwa aku memang gadis yang sudah ternoda, bukan perawan lagi, aku seorang gadis hina yang tidak berharga untuk mendapatkan cintamu..." Li Sian menangis lagi.

Kalau saja tidak ada rantai yang menghalanginya, tentu Kun Tek sudah menghampiri untuk merangkul dan menghibur gadis itu. Dia menggerak-gerakkan rantai panjang itu sehingga mengeluarkan bunyi berkerontangan, lalu berkata dengan suara tegas.

"Nona Pouw Li Sian, jangan berkata demikian! Aku cinta padamu, aku semakin kasihan padamu. Dan yang kucinta adalah engkau seluruhnya, bukan keperawananmu! Engkau sekarang inilah yang kucinta, bukan engkau sebelum engkau menjadi korban kejahatan pemuda itu karena ketika itu aku belum mengenalmu. Akulah yang akan membalas sakit hatimu, Nona. Meski pun andai kata aku dibunuh, nyawaku masih akan berusaha untuk membalas kejahatan pemuda itu!"

Kata-kata ini seperti sebuah nyanyian merdu bagi Li Sian. Bukan sekedar menghibur, akan tetapi juga mengangkatnya, dan juga membersihkannya! Ia tidak lagi merasa kotor dan hina rendah dalam pandangan pemuda itu atau bahkan orang lain!

"Terima kasih, Cu-koko..., terima kasih! Aku akan berbohong kalau sekarang mendadak mengaku cinta padamu. Akan tetapi aku kagum padamu, aku berterima kasih padamu, dan aku berjanji bahwa kalau kita berhasil lolos dari maut, kelak aku akan siap untuk menjadi isterimu yang setia, atau kalau kita mati, aku ingin mati bersamamu, dan aku akan girang kalau nyawamu mendampingi nyawaku..."

Cu Kun Tek terbelalak. Ingin rasanya dia bersorak, ingin dia berjingkrak-jingkrak saking girang hatinya. Akan tetapi karena tidak mungkin hal itu dia lakukan, kini matanya yang lebar itu hanya mengamati wajah Li Sian, dan perlahan-lahan ada dua butir air mata besar menggelinding keluar dari kedua matanya, menuruni pipinya!

Melihat ini Li Sian terharu sekali. Bahkan Hong Beng juga merasa terharu dan maklum bahwa cinta pemuda itu memang murni dan hebat! Dia membiarkan saja kedua orang itu saling mencurahkan cinta kasih mereka melalui pandang mata, kemudian ia menarik napas panjang dan berkata, seperti kepada diri sendiri.

"Ah, betapa anehnya kalian ini. Saling mencinta dalam menghadapi maut, dan rela mati konyol...! Sungguh, ke manakah larinya kegagahan kalian?"

Mendengar ucapan ini, Kun Tek memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata marah. "Gu Hong Beng, sudahlah engkau jangan mengeluarkan suara karena tiap kali engkau bicara, engkau hanya membuat hatiku muak saja! Sepantasnya pertanyaanmu itu kau ajukan pada dirimu sendiri, bukan kepada kami. Ke mana larinya kegagahanmu? Aku dulu mengenalmu sebagai seorang pendekar gagah perkasa, akan tetapi sekarang engkau hanya seorang pengecut yang takut mati!"

"Kun Tek, engkau bicara tanpa dipikir lebih dahulu. Aku bukan pengecut, bukan pula takut mati. Akan tetapi aku bukan orang tolol yang ingin mati seperti seekor babi, mati konyol tanpa melawan. Kalau toh kita harus mati, sepatutnya kita mati sebagai harimau, mati dalam perlawanan. Akan tetapi, kalau kita dibelenggu seperti ini, bagaimana kita mampu melawan? Kita mati konyol begitu saja!"

"Karena tidak ada pilihan, perlu apa takut mati? Jauh lebih baik mati dibunuh lawan dari pada harus menyerah dan takluk! Dan engkau ingin takluk kepada lawan? Bukankah itu hanya untuk menyelamatkan nyawamu dan itu berarti engkau seorang pengecut?" tanya Kun Tek penasaran.

"Hemmm, nekat dan mati konyol bukan perbuatan gagah perkasa, melainkan perbuatan tolol! Dan menyerah karena keadaan belum tentu pengecut, melainkan perbuatan yang cerdik dan mempergunakan perhitungan."

"Sudahlah, aku tak sudi mendengar omonganmu lagi. Terserah engkau mau takluk, mau menjilati sepatu para pemberontak itu, mau masuk menjadi anggota golongan sesat. Akan tetapi, aku dan Pouw-moi lebih suka memilih mati!" kata Kun Tek.

Semenjak tadi Li Sian hanya mendengarkan saja. Kini, melihat percekcokan dua orang gagah yang tadinya menjadi sahabat itu, ia lalu berkata, "Cu-koko, kurasa ada benarnya juga apa yang dikatakan saudara Gu Hong Beng. Biarkan dia bicara mengemukakan pendapatnya dan jangan dibantah dulu sebelum dia selesai bicara."

Kun Tek mengerutkan alisnya, akan tetapi melihat sinar mata Li Sian yang lembut dan senyum manis ditujukan kepadanya, dia pun mengangguk dan menoleh kepada Hong Beng sambil berkata, "Nah, bicaralah!"

Gu Hong Beng menahan senyumnya karena baginya, sikap Kun Tek itu nampak lucu sekali. "Begini, Kun Tek dan nona Pouw. Memang sepintas lalu tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mati sebagai orang-orang gagah yang tidak sudi menyerah. Namun, kurasa jalan itu amat bodoh karena apa untungnya kalau kita mati konyol? Mereka itu akan melanjutkan gerakan pemberontakan mereka, sehingga rakyat banyak yang akan menderita dan mati pula, juga sakit hati nona Pouw takkan dapat dibalas sama sekali! Dan mereka itu memberi kesempatan kepada kita, sebab mereka membutuhkan tenaga kita. Nah, kenapa kita tidak mau berlaku cerdik? Tentu saja aku sendiri tidak sudi untuk benar-benar membantu mereka! Akan tetapi, kenapa kita tak menggunakan kelemahan mereka, yaitu membutuhkan tenaga kita, untuk berusaha meloloskan diri? Kita boleh pura-pura menyerah, dan kita melihat perkembangan selanjutnya. Yang penting, kalau kita dapat bebas dari belenggu-belenggu ini, kita dapat bergerak leluasa. Andai kata kita akan mengamuk juga, sebelum kita mati, kita akan dapat menewaskan banyak lawan sebelum kita mati konyol! Bukankah itu jauh lebih baik dari pada mati konyol seperti babi-babi dalam kandang?"

Kun Tek bukan seorang bodoh. Mendengar pendapat Hong Beng ini, dia pun mulai mengangguk-angguk dan melihat kebenarannya. Dia tadi terlalu terburu nafsu menduga bahwa kawannya itu ketakutan lalu ingin menyerah agar selamat. Kini dia tahu bahwa kalau mereka menakluk, hal itu hanya sebagai siasat untuk mencari kesempatan agar dapat memberontak dan menghantam musuh dengan leluasa. Dan tentu saja dia setuju sekali!

"Cu-koko, kurasa pendapat saudara Gu Hong Beng ini ada benarnya juga. Kalau aku diberi kesempatan, tentu akan kukerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk bisa menyerang dan membunuh si keparat Siangkoan Liong!" kata Li Sian.

Kun Tek mengangguk-angguk. "Memang benar juga. Aku pun setuju jika kita menyerah pura-pura saja, hanya untuk mencari kesempatan lolos dan menghantam mereka. Akan tetapi terserah kalian yang bicara, kalau aku yang disuruh berbicara dengan mereka, kiranya aku hanya dapat memaki dan mencaci mereka!"

"Serahkan saja kepadaku," kata Hong Beng gembira.

"Aku akan membantu saudara Gu Hong Beng," sambung Li Sian dan Kun Tek diam saja, namun setuju sepenuhnya.

Jika mereka dapat berhasil lolos, kemudian menghajar para pemberontak, dan akhirnya mereka dapat bebas, dan dia bersama Li Sian tidak mati, alangkah akan bahagianya. Ia akan dapat hidup berdua dengan gadis pujaannya itu, menjadi suami isteri! Bayangan ini saja mendatangkan semangat kepada Kun Tek!

"Sekarang lebih baik kita memperkuat tubuh. Kita menerima hidangan yang mereka suguhkan dan makan sekenyangnya, kemudian malam ini kita bersemedhi menghimpun tenaga baru. Besok, barulah kita menghadapi mereka dan aku sudah mengatur siasat untuk menghadapi mereka. Harap kalian jangan heran dan menyangka yang bukan-bukan kalau aku bersikap ramah kepada mereka. Mengertikah kalian, terutama engkau, saudara Kun Tek?"

Kun Tek mengangguk, setelah melihat Li Sian mengangguk.

"Aku akan sekuat tenaga menahan kemarahanku kalau melihat muka mereka!" katanya.

Li Sian menghadiahinya dengan sebuah senyuman manis. "Aku percaya engkau akan kuat, Cu-koko. Seorang gagah harus kuat segala-galanya, terutama sekali menekan perasaannya sendiri, bukan?"

Senyum itu cukup sudah bagi Kun Tek. Dia mau menebus apa saja untuk memperoleh senyuman seperti itu.

"Jangan khawatir, Moi-moi, demi engkau, aku mampu melakukan apa saja!" katanya bangga dan sekali ini kedua pipi Li Sian menjadi agak merah karena ia melihat betapa ada senyum mengembang di bibir Hong Beng.

Demikianlah, ketiga orang muda ini mulai memperlihatkan sikapnya yang suka bekerja sama ketika mereka menerima hidangan yang disuguhkan, dan mereka melihat bahwa pihak lawan memang agaknya ingin sekali menarik mereka sebagai pembantu. Sebagai bukti, hidangan yang disuguhkan selain banyak, juga masih panas dan cukup mewah, seperti hidangan di rumah makan besar saja!

Mereka bertiga lalu makan sampai kenyang, akan tetapi hanya minum arak sedikit saja. Mereka lebih banyak minum air teh yang mereka minta dari petugas yang menyuguhkan makanan dan minuman. Sesudah itu, semalaman suntuk mereka duduk bersila sambil bersemedhi, menghimpun tenaga murni untuk memulihkan kekuatan dan melenyapkan kelelahan mereka.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ouwyang Sianseng sudah datang berkunjung. Dia datang tanpa diikuti oleh Siangkoan Liong. Ouwyang Sianseng cukup cerdik untuk lebih dulu menjauhkan pemuda itu, mengingat betapa Li Sian mendendam kepadanya. Sebaliknya, dia datang bersama Siangkoan Lohan!

Dua orang paling tinggi kedudukannya dalam persekutuan pemberontakan itu, datang mengunjungi tiga orang tawanan muda itu! Hal ini saja sudah meyakinkan hati Hong Beng bahwa mereka itu benar-benar mengharapkan kerja sama, dan hal ini amat baik.

Setelah mengucapkan selamat pagi dengan sikap lembut seperti biasanya, Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan kemudian duduk di atas bangku yang berada di kamar tahanan itu, menghadapi tiga orang tawanan yang masih duduk bersila. Kun Tek dan Li Sian hanya mengangguk sebagai jawaban, akan tetapi Hong Beng membalas ucapan selamat pagi itu dengan suara yang cukup ramah.

"Bagaimana, orang-orang muda yang gagah. Apakah Sam-wi (Kalian bertiga) sudah mengambil keputusan dan pilihan yang tepat?"

Hong Beng menjawab dengan suara yang cukup tenang. "Ouwyang Sianseng, aku telah mendapat kepercayaan dua orang kawanku ini untuk menjadi wakil pembicara mereka. Sebelum kami menjawab, harap jelaskan lagi apakah pilihan yang harus kami pilih itu?"

Ouwyang Sianseng tersenyum. Sikap pemuda itu saja sudah melegakan hatinya, tidak seperti kemarin di mana mereka bertiga itu memperlihatkan sikap bermusuhan dan tidak ada kompromi.

"Hanya ada dua pilihan sederhana saja. Kalian sanggup bekerja sama dengan kami dan membantu kami berjuang melawan pemerintahan penjajah Mancu, atau kalian menolak, dan terpaksa kami akan membunuh kalian sebagai musuh yang berbahaya. Nah, bagai mana keputusan kalian bertiga...?"

"Nanti dulu, Locianpwe," kata Hong Beng, kini menyebut locianpwe untuk menghormati orang tua yang memang sakti itu. "Jika kami menolak, hal itu tak perlu dibicarakan lagi. Akan tetapi, kalau kami menerima, lalu bagaimana? Apakah yang harus kami lakukan? Bukankah sekarang belum terjadi perang antara pasukan yang Locianpwe pimpin dan pasukan pemerintah?"

"Lohan, coba jelaskan mengenai kedudukan dan rencana kita kepada mereka ini," kata Ouwyang Sianseng, suaranya ramah dan halus akan tetapi jelas bernada memerintah dan hal ini saja menunjukkan bahwa kedudukan kakek ini masih lebih tinggi dari pada ketua Tiatliong-pang itu.

Siangkoan Lohan yang dulunya ialah seorang yang terkenal sebagai ketua perkumpulan orang gagah yang pernah membantu Kerajaan Mancu sehingga dia dihadiahi seorang puteri, dapat mengerti akan siasat rekannya untuk membujuk orang-orang muda berilmu tinggi ini supaya mau bekerja sama membantu mereka. Maka dia pun menarik napas panjang dan berkata dengan suara tenang setelah mengisap hun-cwe emasnya dan mengepulkan asap yang berbau tembakau harum.

"Memang menggemaskan sekali kalau mengingat betapa penjajah Mancu yang dulunya kita semua harapkan akan mampu memimpin bangsa kita ke arah kemakmuran, kini ternyata malah menindas bangsa kita dan mendatangkan banyak kesengsaraan kepada rakyat, sedangkan mereka sendiri hidup serba berkelebihan! Hal inilah yang membuat kami semua merasa penasaran untuk berjuang menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu! Kalian tiga orang muda yang perkasa, tentu mempunyai jiwa patriot, siap untuk mengusir penjajah dan menyelamatkan bangsa dan tanah air kita. Dalam usaha untuk menumbangkan kekuasaan Mancu yang besar, tentu saja kita membutuhkan bantuan semua tenaga para patriot dan terus terang saja, kami terpaksa menerima pula uluran tangan dari dunia hitam. Kita membutuhkan tenaga mereka, dan karena itu, kami tidak pedulikan perasaan pribadi, yang terpenting menghimpun tenaga untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Tentu saja, kami akan merasa gembira sekali kalau para pendekar dan patriot, seperti kalian, suka membantu perjuangan ini." Dia berhenti sebentar untuk melihat reaksi dari tiga orang muda itu.

Kun Tek yang diam-diam tidak percaya, kalau menurutkan gairah hatinya, ingin memaki-maki dan mengatakan bohong, akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, demi Li Sian tentu saja, dan dia hanya menundukkan mukanya agar jangan nampak isi hatinya melalui sikap dan pandangan matanya. Li Sian lebih mampu menguasai perasaannya, maka dia pun mendengarkan seolah-olah merasa tertarik.

"Akan tetapi, Pangcu." kata Hong Beng dengan sikap hormat. "Walau pun semua yang Pangcu katakan itu benar belaka, akan tetapi bagaimana Pangcu akan bisa melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintahan yang mempunyai banyak bala tentara? Baru pasukan yang berjaga di tapal batas utara ini saja sudah banyak sekali! Dan tiga orang seperti kami ini, dapat berbuat apakah terhadap pasukan pemerintah yang besar jumlahnya?"

Siangkoan Lohan tersenyum bangga. Ia dan Ouwyang Sianseng memang telah sepakat untuk menceritakan segalanya kepada tiga orang muda itu. Andai kata mereka menolak, bukankah mereka akan dibunuh dan semua rahasia itu akan terkubur bersama mereka? Dan jika mereka suka bersekutu, berarti mereka adalah orang-orang sendiri yang layak mengetahui keadaan mereka.

"Hemmm, tentu kalian memandang rendah kepada kami. Akan tetapi ketahuilah, kami sudah lama mengadakan persiapan untuk gerakan perjuangan ini. Kami sendiri sudah mengumpulkan orang-orang yang menjadi anggota kami, yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus orang. Selain itu, kami mengadakan kontak dengan pimpinan bangsa Mongol, bahkan keturunan Jenghis Khan yang perkasa. Mereka sudah bersiap dengan pasukan yang akan dapat melintasi perbatasan dengan mudah berkat kekuasaan kami yang telah memungkinkan penyeberangan itu tanpa terhalang. Selain itu, kami tak takut menghadapi pasukan penjaga perbatasan ini, karena mereka itu pun akan membantu kami!"

"Ehhh...?" Hong Beng pura-pura kaget walau pun sudah dapat menduga bahwa tentu orang-orang cerdik ini berhasil pula mengadakan persekutuan dengan para pimpinan pasukan yang berkhianat terhadap negaranya. "Ahhh, kalau seperti itu keadaannya, sungguh membesarkan hati. Akan tetapi, kami ingin sekali tahu, kalau kami menerima uluran tangan Pangcu dan mau bekerja sama, lalu apakah tugas kami? Terus terang saja, kami bertiga sama sekali tidak mempunyai kepandaian untuk memimpin pasukan dalam peperangan."

Ouwyang Sianseng tertawa lembut. Hatinya gembira karena sikap tiga orang muda itu agaknya sudah condong untuk mau bekerja sama. Bagaimana pun juga, ketiga orang muda itu agaknya merasa ngeri dengan terjadinya peristiwa kemarin. Mereka tidak ingin mati konyol dan tersiksa, melainkan memilih hidup dan bekerja sama!

"Ha-ha-ha, orang muda yang gagah. Tentu saja untuk memimpin pasukan, kami sudah mempunyai ahli-ahlinya. Tugas kalian sama dengan tugas para orang gagah yang akan membantu kami, yaitu menghadapi pihak lawan yang mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi sebab pihak pasukan juga tentu mempunyai banyak jagoan. Akan tetapi, sebelum kami menerima penyerahan diri dari kalian, terpaksa kami harus menguji kalian lebih dahulu. Apakah kalian bertiga ini benar-benar jujur untuk bekerja sama menentang pemerintah penjajah, atau hanya siasat saja dan mencari kesempatan untuk kemudian melarikan diri atau membalik mengkhianati kami."

Diam-diam tiga orang muda perkasa itu terkejut, dan Hong Beng memuji dalam hatinya. Kakek ini selain lihai sekali ilmu silatnya, juga ternyata amat cerdik. Dia harus sangat berhati-hati menghadapi kakek ini. Seketika wajah Hong Beng menjadi merah dan sinar matanya mencorong karena marah.

"Locianpwe terlalu memandang rendah pada kami orang-orang muda!" katanya dengan nada suara marah, "Kami bukanlah pengkhianat bangsa, kami bukan penjilat penjajah asing. Kami berani bersumpah bahwa di dalam hati kami selalu menentang penjajahan! Kalau gerakan perjuangan yang Ji-wi pimpin ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi demi membebaskan rakyat jelata dari penindasan penjajah asing, maka kami akan rela membela dengan pertaruhan nyawa sekali pun!"

Hong Beng memang cerdik sekali. Seperti tanpa disengaja, dia menyinggung cita-cita perjuangan itu. Siapakah orangnya yang mau berterus terang mengemukakan cita-cita pribadinya? Setiap pemimpin penggerak perjuangan atau pemberontakan sudah pasti menyembunyikan tujuan pribadi, dan menonjolkan cita-cita yang mulia demi bangsa dan tanah air. Demikian pula dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan.

Mendengar ucapan itu, Siangkoan Lohan yang sebenarnya memberontak karena ingin mengangkat puteranya menjadi kaisar, cepat berseru. "Ahhh, tentu saja! Sudah pasti perjuangan ini demi kepentingan rakyat!"

Ouwyang Sianseng yang cerdik lalu berkata, "Bagaimana pun juga kami harus melihat bukti kejujuran kalian. Gu Hong Beng, dari beberapa orang pembantu kami, kami sudah mendengar bahwa semenjak dulu engkau adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa, dan sekarang kami ingin melihat bukti kegagahanmu itu. Kami mempunyai tugas untukmu. Dua orang temanmu ini akan tetap menjadi sandera, walau pun mereka akan diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, bukan sebagai tawanan. Nah, kalau tugasmu itu berhasil kau lakukan dengan baik, barulah kami percaya dan kalian bertiga akan kami terima sebagai pembantu-pembantu yang kami hargai. Dan sebaliknya, kalau engkau bermain curang, ingat bahwa dua orang temanmu masih berada di sini sebagai sandera."

Ouwyang Sianseng tentu saja sudah mendengar banyak tentang ketiga orang muda itu dari Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, karena mereka itu merupakan musuh-musuh lama, terutama sekali Hong Beng dan Kun Tek.

Hong Beng saling pandang dengan dua orang temannya, lalu berkata kepada mereka, "Kalian berdua tenanglah menjadi sandera di sini, karena sudah pasti aku akan mampu melaksanakan tugas itu dengan baik."

Kemudian dia menghadapi lagi Ouwyang Sianseng dan berkata, "Baiklah, Locianpwe. Tugas apa yang diserahkan kepadaku? Akan kulaksanakan dengan baik!"

Hong Beng merasa perlu untuk menenangkan hati dua orang temannya, terutama Kun Tek yang keras hati itu, agar Kun Tek mengerti bahwa tentu ia akan bisa mencari akal dan jalan yang baik untuk menghadapi tugas itu! Padahal, tentu saja Hong Beng sendiri belum mengerti bagaimana dia akan dapat keluar dari ujian ini, karena macam ujian itu pun dia belum tahu.

"Begini, orang muda. Seperti telah kukatakan tadi, kami mempunyai hubungan dengan panglima tinggi pemimpin pasukan yang berjaga di tapal batas. Komandan itu adalah Coa Tai-ciangkun sedangkan wakilnya ialah Song-ciangkun. Mereka berdua itulah yang kini memimpin puluhan orang perwira yang mengepalai pasukan-pasukan pemerintah di perbatasan! Dan mereka sudah siap membantu kami. Oleh karena itu, engkau kuberi tugas untuk pergi menyelundup ke dalam benteng itu sambil membawa surat kami untuk disampaikan kepada komandan Coa."

"Akan tetapi, Locianpwe, jika memang Locianpwe sudah mempunyai hubungan dengan mereka, apa perlunya lagi aku harus menyelundup ke dalam benteng? Bukankah masuk lewat pintu gerbang pun tak mengapa? Jika mereka tahu bahwa aku adalah utusan dari Tiat-liong-pang, tentu akan diterima sebagai sahabat," bantah Hong Beng yang cerdik.

"Ah, engkau sungguh bodoh, orang muda. Memang komandannya dan para perwiranya sudah bersekutu dengan kita, akan tetapi karena hal itu berbahaya tentu saja mereka tidak terang-terangan, dan tidak semua anak buah pasukan tahu akan hal itu. Pasukan hanya mentaati perintah komandannya, maka tidak perlu mengetahui semua hal, takut kalau-kalau hal itu dibocorkan mereka sebelum gerakan kita berhasil. Sudahlah, engkau bawalah surat dari kami, malam-malam menyelundup masuk ke dalam benteng dan menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Sanggupkah?"

Hong Beng tersenyum. "Tugas itu tidak berat, tentu saja aku sanggup!"

"Masih ada kelanjutannya. Jika engkau telah menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song, engkau harus siap melaksanakan semua tugas yang diserahkan mereka kepadamu! Ingat, membantah mereka berarti membantah kami pula."

Hong Beng diam-diam merasa gentar juga, akan tetapi dengan tenang dia mengangguk, "Bagaimana andai kata aku ketahuan orang di dalam benteng dan aku diserang dan hendak ditangkap? Apakah aku harus melarikan diri ataukah..."

"Kalau yang melihatmu hanya beberapa orang saja, bunuh mereka. Kalau banyak orang larilah. Akan tetapi kalau mungkin yakinkan hati mereka bahwa engkau adalah sahabat Panglima Coa. Nah, ini suratnya sudah kami persiapkan, sekarang juga berangkatlah, dan ini peta petunjuk di mana adanya benteng itu."

Hong Beng menerima surat dan peta itu, lalu sebelum berangkat dia menoleh kepada dua orang temannya. "Harap kalian bersabar dan percayalah kepadaku."

Li Sian merasa terharu. Tentu saja ia percaya kepada pemuda itu. Dia merasa betapa beratnya tugas Hong Beng, bukan hanya tugas menyerahkan surat itu, terutama sekali karena pemuda itu bertanggung jawab atas nyawa mereka berdua, seolah-olah nyawa mereka berdua di dalam genggaman tangan Hong Beng.

"Berangkatlah dan harap hati-hati, saudara Gu Hong Beng," katanya.

Kun Tek memandang kepada Hong Beng dan terdengar suaranya yang lantang. "Hong Beng, semenjak dahulu aku selalu percaya kepadamu, dan sekarang pun kami percaya penuh kepadamu!"

Hong Beng mengangguk. Setelah semua rantai yang membelenggunya dilepas dia pun segera berangkat meninggalkan sarang pemberontak itu, menuju ke benteng pasukan pemerintah seperti yang ditunjukkan di dalam peta.

Setelah Hong Beng berangkat, Ouwyang Sianseng memegang janji. Dia pun bersama Siangkoan Lohan membebaskan belenggu yang mengikat Kun Tek dan Li Sian, lalu mengantar mereka, dikawal oleh pasukan penjaga, menuju ke dua buah kamar di mana mereka berdua menjadi sandera. Hidup bebas seperti tamu, akan tetapi selalu dikawal dan dijaga ketat.

Ouwyang Sianseng tidak bodoh, maka yang bertugas menjaga kedua orang sandera ini adalah tokoh-tokoh sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, Thian Kek Sengjin, Ciu Hok Kwi, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit bahkan Siangkoan Liong sendiri selalu berada di tempat dekat sehingga selalu siap kalau kedua orang sandera itu mencoba untuk memberontak dan melarikan diri.

Akan tetapi dengan cerdik Siangkoan Liong tidak pernah lagi mencoba untuk menggoda Li Sian, bahkan dia tidak pernah memperlihatkan diri agar gadis itu tidak menjadi marah. Dia pun tahu akan siasat gurunya, dan memang dia harus mengakui perlunya banyak tenaga bantuan para ahli silat.

Dia masih ngeri kalau membayangkan kelihaian kakek dan nenek yang telah menolong rombongan utusan kota raja itu. Dia pun mengerti bahwa kini gurunya mengutus Hong Beng pergi mengunjungi Panglima Coa juga untuk melihat apa yang sudah terjadi di dalam benteng itu, karena sudah beberapa hari Panglima Coa tidak pernah mengirim utusan.....

KISAH SI BANGAU PUTIH (seri ke 13 Bu Kek Siansu)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang