Kakek bermuka singa ini memang bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian dan berjuluk Hoan Saikong, dan baru beberapa tahun saja dia meninggalkan tempat pertapaannya di Pegunungan Thai-san di mana selama puluhan tahun dia bertapa dan mematangkan ilmu-ilmunya. Dia turun gunung dan hidup sebagai seorang pertapa yang mengharapkan makanan dari sedekah para dermawan.
Tapi agaknya puluhan tahun bertapa itu sama sekali tidak mengubah dasar wataknya, dan ternyata setelah berada di dunia ramai, sebentar saja dia sudah kembali menjadi hamba nafsu-nafsunya seperti sebelum dia bertapa. Memang pada waktu muda dahulu Hoan Saikong terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang amat kejam.
Phoa Hok Ci secara kebetulan saja bertemu dengan Hoan Saikong empat tahun yang lalu. Dia melihat betapa saktinya kakek ini, maka segera didekatinya dan dengan royal dia memberi pakaian dan makan minum kepada kakek itu, bahkan melihat betapa kakek itu tidak pantang bermain dengan wanita, Phoa Hok Ci lalu mencarikan gadis panggilan untuk menyenangkan hatinya.
Hoan Saikong merasa senang dan dia mau menerima Phoa Hok Ci sebagai muridnya, asal Phoa Hok Ci dapat mencukupi semua kebutuhannya. Kemudian, setelah pergaulan mereka sebagai guru dan murid semakin akrab, mereka merencanakan sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan bagi keduanya.
Phoa Hok Ci tergila-gila kepada Siang Cun, puteri gurunya sendiri, akan tetapi gurunya tidak suka menerimanya sebagai calon mantu, bahkan sudah menerima pinangan pihak Kim-liong-pang. Hal ini membuat Phoa Hok Ci penasaran dan dia lalu berunding dengan gurunya yang baru, gurunya yang dia rahasiakan dari siapa pun juga.
Di dalam perundingan inilah keduanya merencanakan siasat mereka mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan. Kalau mereka berhasil, maka pertalian jodoh antara Siang Cun dan Ciok Lim akan putus, dan ada harapan Siang Cun akan menjadi isteri Phoa Hok Ci. Dan harapan lain bagi Hoan Saikong adalah untuk merebut dan menguasai Kim-liong-pang di mana dia akan menjadi ketua yang baru sehingga namanya akan terangkat tinggi dan dia akan menjadi seorang pangcu yang terhormat.
Hal ini tidak akan sukar dilakukan kalau Kim-liong-pang sudah menjadi lemah karena permusuhannya dengan Ngo-heng Bu-koan. Tentu saja dengan bantuan Hoan Saikong yang lihai, mudah bagi Phoa Hok Ci untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan pada ke dua pihak dan mengadu domba mereka. Dan sebagai awal siasat keji itu, dengan kejam sekali dia memperkosa dan membunuh sumoi-nya sendiri, Bong Siok Cin, setelah berhasil mencuri topi dari Ciok Lim yang baru saja dijamu oleh calon mertuanya sampai setengah mabuk. Dalam keadaan setengah mabuk itu, mudah saja bagi Phoa Hok Ci dan Hoan Saikong untuk mencuri topinya tanpa dia ketahui.
Demikianlah sedikit mengenai Hoan Saikong yang kini berhadapan dengan Sin Hong. Ketika Phoa Hok Ci melihat bahwa Sin Hong mendengarkan percakapannya dengan sute-nya sebelum sute itu dibunuhnya, dia menjadi kaget dan juga khawatir sekali. Maka dia pun teringat kepada gurunya itu dan dia sengaja memancing Sin Hong ke kuil tua itu di mana terdapat Hoan Saikong yang segera siap untuk membantu muridnya.
Kini, dia berhadapan dengan Sin Hong, dan karena kesombongannya, dia menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong, mengira bahwa dengan mudah saja dia akan dapat membunuh lawan yang agaknya ditakuti muridnya itu.
Namun dia kecelik! Tubrukan dengan kedua lengan mencengkeram dari kanan kiri itu hanya mengenai angin saja. Tiba-tiba kaki Sin Hong menggeser ke samping dan tangan kirinya cepat menotok ke arah lambung lawan. Gerakan pemuda itu demikian cepatnya, merupakan serangan balasan yang serentak sehingga Hoan Saikong juga cepat-cepat harus menarik tangannya dan menangkis sambil mencoba untuk mencengkeram lengan Sin Hong.
"Dukkk!"
Tangkisan itu membuat tubuh Hoan Saikong tergetar hebat dan tentu saja dia tidak jadi mencengkeram karena lengannya sendiri sudah ditarik saking kagetnya melihat betapa lawan yang amat muda itu memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya. Dari pertemuan lengan itu Hoan Saikong dapat menduga bahwa meski lawannya itu masih amat muda, akan tetapi tidak seperti yang diduganya, bukan seorang lawan yang boleh dipandang ringan.
Hoan Saikong kemudian mengeluarkan suara menggereng seperti harimau dan kini dia menyerang lagi dengan dahsyat, sambil mengerahkan semua tenaganya. Dan tahulah Sin Hong ketika melihat gerakan kaki tangan lawan bahwa kakek itu adalah seorang ahli silat dengan gaya harimau. Akan tetapi bukan sembarang Hauw-kun (Silat Harimau).
Memang banyak macamnya silat harimau diciptakan oleh perguruan silat yang berbeda aliran, walau pun pada dasarnya ada persamaan yaitu dengan meniru ketangkasan dan kegesitan harimau. Akan tetapi gaya silat harimau yang dimainkan oleh kakek bermuka singa ini sungguh dahsyat sekali, bahkan jauh lebih berbahaya dari pada melawan seekor harimau tulen!
Kedua tangan kakek itu membentuk cakar harimau yang amat kuat, dan walau pun kuku-kuku jari tangannya tidak panjang melengkung dan kokoh seperti kuku harimau, namun jari-jari tangannya itu mengandung sinkang kuat sekali dan cengkeraman kedua tangannya dapat menembus batang pohon, bahkan batu karang. Dapat dibayangkan betapa kulit daging akan koyak-koyak, tulang akan remuk kalau terkena cengkeraman kedua tangan yang membentuk cakar itu!
Akan tetapi sekali lagi kakek itu kecelik. Yang dilawannya sekarang bukanlah seorang pendekar biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi yang sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari para penghuni Istana Gurun Pasir!
Ketika Sin Hong melihat betapa lawannya menggunakan ilmu silat harimau yang sangat dahsyat, yang sambaran angin dari kedua tangan itu saja sudah mendatangkan hawa panas dan sangat berbahaya, dia pun maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti. Maka, dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dan memainkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun, yaitu ilmu gabungan dari ketiga orang gurunya.
Ilmu silat ini memang hebat bukan main, bukannya seperti ilmu-ilmu silat Ho-kun (Silat Bangau) biasa saja. Biar pun gaya dasarnya meniru gerakan burung bangau putih yang indah dan lemas di samping kekuatan dan kecepatan burung itu, akan tetapi intinya mengandung perasan dari ilmu-ilmu yang dikuasai tiga orang tua sakti itu! Bahkan untuk mempelajari ilmu silat sakti ini, Sin Hong terlebih dahulu menerima pengoperan sinkang gabungan dari tiga orang gurunya, dan untuk bisa berhasil menguasai ilmu itu dengan sempurna, dia bahkan harus bertapa selama setahun, tidak boleh mengerahkan tenaga sedikit pun karena hal ini akan dapat menewaskannya.
Begitu Sin Hong menghadapi Houw-kun yang amat hebat dari kakek itu dengan Pek-ho Sin-kun, kakek itu kembali terkejut. Gerakan dua lengan pemuda itu yang mirip dengan gerakan leher dan kepala burung bangau, mengandung hawa pukulan yang kuat sekali. Setiap kali mereka beradu lengan, Hoan Saikong lantas terdorong ke belakang seperti diserang angin taufan!
"Haaauuuwww...!"
Tiba-tiba Hoan Saikong mengeluarkan suara gerengan yang sangat dahsyat. Gerengan ini mengandung khikang yang kuat dan kalau lawannya bukan Sin Hong, sedikit banyak tentu akan terpengaruh oleh getaran suara menggereng ini. Dan sambil menggereng, kakek itu menubruk ke depan, cakar kanannya mencakar ke arah ubun-ubun kepala Sin Hong, cakar kiri dari samping mencakar perut. Gerakannya cepat dan amat kuat, kedua cakar itu ketika menyambar mendatangkan angin keras.
Sin Hong maklum akan bahayanya serangan ini, maka dia pun melangkah ke belakang. Tubuhnya ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyambut serangan itu dengan tangkisan kedua lengan yang dikembangkan dari tengah, yang kiri mendorong ke atas dan yang kanan mendorong ke bawah.
"Dukkk! Dukkk!"
Dua pasang lengan bertemu dan kembali tubuh kakek itu terdorong ke belakang. Tetapi dengan cepat Hoan Saikong kini menubruk ke depan, bukan hanya kedua tangan yang bergerak seperti sepasang kaki depan harimau untuk mencakar, juga mulutnya dibuka lebar seperti harimau yang hendak menggigit. Namun kakek ini tidak menggigit karena giginya pun sudah banyak yang ompong, melainkan menggunakan kepalanya untuk menyeruduk ke arah dada lawan! Serangan kedua tangan dan kepala ini memang lebih dahsyat dari pada tadi, dan tubuhnya meluncur seperti harimau meloncat.
Dengan ringan sekali, tiba-tiba tubuh Sin Hong meloncat ke atas seperti seekor burung terbang. Tubrukan Hoan Saikong lewat di bawahnya dan kini tubuh Sin Hong berjungkir balik membuat salto, kemudian dengan kepala di bawah, tubuhnya meluncur ke bawah, tangannya membentuk paruh burung yang menotok ke arah tengkuk dan pundak Hoan Saikong!
Hoan Saikong mengeluarkan seruan kaget. Tak disangkanya bahwa serangannya yang dilakukan dengan seluruh tenaganya itu selain gagal sama sekali, juga berbalik, bahkan kini lawan yang menyerangnya dari atas. Dan serangan dua totokan dari atas itu hebat bukan main. Hoan Saikong melempar tubuhnya ke atas lantai dan bergulingan menjauh sehingga serangan Sin Hong itu pun luput.
Ketika melihat lawannya menyambar tombak dan kini menyerangnya dengan tombak, Sin Hong cepat mengatur langkah dan mengelak ke sana-sini dengan ringannya. Kedua kakinya bagai kaki burung bangau, melangkah ringan tanpa mengeluarkan suara namun selalu dapat menghindarkan sambaran ujung mata tombak yang berkelebatan.
Namun kini Phoa Hok Ci sudah maju mengeroyok dengan menggunakan pedangnya. Sebagai murid pertama dari Ngo-heng Bu-koan, apa lagi telah menerima gemblengan selama empat tahun dari Hoan Saikong, tingkat kepandaian Phoa Hok Ci ini tidak boleh dipandang ringan dan begitu dia maju mengeroyok, Sin Hong dihujani serangan tombak dan pedang.
Jika saja Si Bangau Putih, demikian julukan Sin Hong, menghendaki, agaknya dia akan mampu merobohkan dua orang pengeroyoknya itu dengan ilmunya yang tinggi. Namun, dia tidak bermaksud membunuh mereka, bahkan dia harus dapat menangkap Phoa Hok Ci hidup-hidup, oleh karena orang inilah yang dapat dijadikan kunci perdamaian antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan dan melenyapkan kesalah pahaman yang timbul karena fitnah yang disebarkan oleh Phoa Hok Ci. Karena hendak menangkap Phoa Hok Ci, maka Sin Hong tidak mau melakukan serangan mautnya. Ia menunggu kesempatan untuk dapat menangkap pengkhianat itu.
Setelah menghadapi serangan dua orang bersenjata itu dengan hanya mengandalkan kelincahan gerakannya, sambil menunggu kesempatan baik, akhirnya Sin Hong melihat terbukanya kesempatan. Dia berhasil menangkap tombak di tangan Hoan Saikong, lalu mengerahkan tenaga menarik sehingga lawannya itu ikut tertarik, dan dengan gagang tombak yang masih dipegangnya itu, Sin Hong menangkis pedang Phoa Hok Ci yang menyambar, berbareng dia mengirim tendangan kilat ke arah lutut kaki kiri Phoa Hok Ci.
Orang ini terkejut, namun masih sempat meloncat ke samping sehingga yang terkena tendangan hanya betisnya, namun cukup membuat dia terpelanting dan Sin Hong yang menarik tombak, lalu membalikkan tubuhnya sambil tangan kirinya menampar ke arah kepala Saikong itu.
Hoan Saikong cepat memutar tombaknya terlepas dari pegangan Sin Hong, dan sambil mengelak dengan merendahkan tubuhnya dan menggeser kaki ke kiri, Hoan Saikong menggerakkan tombaknya untuk menusuk perut lawannya! Tusukan yang sangat cepat datangnya itu dielakkan oleh Sin Hong yang memiringkan tubuhnya dan ketika tombak meluncur lewat dekat pinggang, dia mengerahkan tenaga dan memukul dengan tangan miring ke arah gagang tombak.
"Krekkk!" Tombak itu pun patah menjadi dua potong!
Hoan Saikong terkejut dan melompat ke dalam kuil, menyusul muridnya yang sudah lebih dulu melarikan diri setelah tadi betisnya kena ditendang oleh Sin Hong.
"Phoa Hok Ci, hendak lari ke mana kau?" Sin Hong membentak dan cepat melompat ke dalam kuil melakukan pengejaran.
Setelah mencari-cari, dia melihat Hoan Saikong berdiri menantinya di ruang belakang, sebuah ruangan kecil yang cukup terang karena di sudut dinding tergantung sebuah lampu dinding yang cukup terang. Melihat ini, Sin Hong merasa curiga. Dia bukan orang bodoh.
Jika musuh yang telah melarikan diri dan dikejarnya kini menantinya di sebuah ruangan yang diterangi lampu, maka hal ini patut dicurigakan. Mungkin ada sebuah perangkap, pikirnya, maka dia pun melangkah masuk dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan. Mungkin Phoa Hok Ci yang tidak nampak akan menyerangnya dengan senjata rahasia.
Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu ketika dia melangkah masuk dan dia pun berkata kepada kakek itu, "Locianpwe, di antara kita tidak ada permusuhan. Aku tidak mengenal Locianpwe dan sebaliknya Locianpwe pun tidak mengenalku. Aku hanya ingin mengajak Phoa Hok Ci untuk pulang ke Ngo-heng Bu-koan untuk membuat pengakuan tentang semua perbuatannya mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan. Serahkan Phoa Hok Ci dan aku akan pergi dari sini, tidak akan mengganggu Locianpwe lebih lama lagi."
Akan tetapi, sebagai jawaban, Hoan Saikong mengelebatkan pedangnya dan langsung menyerang Sin Hong dengan permainan pedang yang amat dahsyat dan cepat. Kiranya kakek ini tadi melarikan diri karena tombaknya patah, dan kini sudah berganti senjata pedang yang juga dapat dimainkannya dengan cepat sekali.
Sin Hong menjadi amat penasaran dan marah. Orang ini agaknya hendak mati-matian membela muridnya yang jelas telah melakukan perbuatan yang amat keji! Kalau dia tidak lebih dulu merobohkan orang ini dengan cepat, tentu akan sukar untuk menangkap Phoa Hok Ci.
Karena itu, begitu lawan menyerangnya, Sin Hong menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, mengelak sambil membalas dengan cepat dan dahsyat sekali. Totokan demi totokan yang amat cepat dia lancarkan ke arah lengan yang memegang pedang dan bagian anggota lain sehingga Hoan Saikong yang menggunakan pedang itu sebaliknya malah terdesak hebat oleh Sin Hong. Dan karena selama perkelahian itu tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, tidak ada senjata rahasia dilepaskan dari temat gelap, maka Sin Hong menjadi agak lengah dan kecurigaannya tadi menipis.
Pada saat dia mendesak terus dan perkelahian itu terjadi dengan sengitnya di tengah ruangan yang tidak luas itu, mendadak Hoan Saikong mengeluarkan teriakan nyaring sekali, tetapi teriakan ini bukan untuk melakukan serangan, melainkan untuk melompat pergi dari ruangan itu! Dan teriakan itu juga merupakan isyarat kepada Phoa Hok Ci untuk bertindak karena tiba-tiba saja lantai ruangan yang diinjak oleh kaki Sin Hong terbuka ke bawah!
Sin Hong terkejut sekali. Cepat tangannya meraih dan dia masih dapat menangkap kaki Hoan Saikong yang hendak meloncat pergi dari ruangan itu. Kalau saja Hoan Saikong melanjutkan loncatannya, tentu dia dan juga Sin Hong akan dapat keluar dari ruangan itu.
Akan tetapi, Hoan Saikong agaknya terkejut dan tidak menyangka bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu masih sempat menangkap kakinya. Dengan marah dia kemudian menusukkan pedangnya ke arah leher Sin Hong. Melihat ini, Sin Hong mengerahkan sinkang pada tangan kirinya dan dengan tangan miring dia menyampok dan memukul ke arah pedang yang melakukan serangan maut itu.
"Plakkk!"
Pedang itu terlepas dari pegangan Hoan Saikong, akan tetapi karena gerakan-gerakan itu, loncatannya kehilangan tenaga dan tubuh mereka berdua tanpa dapat dicegah lagi meluncur jatuh ke dalam lubang di ruangan itu!
Melihat betapa dia bersama lawannya terjeblos ke bawah, Sin Hong cepat melepaskan pegangannya pada kaki lawan. Dia pun segera mengerahkan seluruh tenaganya untuk meringankan tubuhnya. Biar pun Hoan Saikong juga melakukan ini, namun karena dia nampak ketakutan sekali, maka ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dikerahkannya menjadi berantakan dan tubuhnya meluncur lebih cepat dari pada Sin Hong ke dalam lubang yang dalam dan gelap itu.
Diam-diam Sin Hong merasa kaget juga melihat betapa lamanya dia tiba di dasar lubang jebakan itu, tanda bahwa lubang itu cukup dalam! Terdengar jerit mengerikan dari Hoan Saikong di sebelah bawah ketika tubuh kakek itu lebih dulu tiba di dasar lubang, teriakan kematian!
Sin Hong mengerahkan ginkang-nya dan ia memandang ke bawah, melihat garis bentuk tubuh Hoan Saikong rebah meringkuk ke bawah. Dengan hati-hati sekali Sin Hong lalu mengarahkan kedua kakinya menginjak tubuh itu. Untung dia melakukan hal ini karena ternyata bahwa dasar lubang yang sempit itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang siap menerima tubuhnya! Tubuh mayat Hoan Saikong telah menyelamatkannya! Dia dapat hinggap di atas tubuh itu dan terbebas dari tusukan tombak-tombak itu.
Pantas saja Hoan Saikong tadi mengeluarkan teriakan ketakutan saat terjatuh. Agaknya dia sudah tahu akan keadaan sumur maut ini, dan begitu terjatuh, tubuhnya diterima tombak-tombak itu hingga tewas seketika.
Sin Hong meraba ke kanan kiri. Kedua tangannya menyentuh dinding sumur yang licin sekali, penuh lumut. Tidak mungkin merangkak ke atas menggunakan sinkang karena dinding itu licin bukan main. Meloncat ke atas? Sama sekali tidak mungkin!
Ketika dia melihat ke atas, nampak lubang itu, lubang di tengah ruangan yang nampak samar-samar diterangi lampu di dinding ruangan itu. Lalu nampak kepala orang di tepi sumur. Dari bawah pun dia dapat melihat bahwa itu adalah kepala Phoa Hok Ci!
Dia menahan napas dan tidak bergerak. Biarlah dia disangka mati seperti kakek itu, karena kalau Phoa Hok Ci mengetahui bahwa dia masih hidup, mungkin orang itu akan menyerangnya dengan melemparkan sesuatu dan hal ini berbahaya sekali. Kemudian, dia mendengar suara Phoa Hok Ci tertawa. Agaknya orang itu girang dan mengira dia telah mati. Murid itu agaknya sama sekali tidak merasa berduka biar pun gurunya juga mati di dalam lubang jebakan ini. Hal ini saja menunjukkan betapa buruknya watak laki-laki itu. Kepala Phoa Hok Ci lenyap dan penerangan di atas padam. Suasana kembali menjadi gelap gulita.
Sin Hong masih berdiri di atas mayat Hoan Saikong yang tertusuk tombak-tombak itu. Meloncat ke atas tidak mungkin. Merayap melalui dinding lubang itu pun tidak mungkin. Tanpa bantuan orang dari atas, tidak mungkin dia naik ke atas! Dalam keadaan gelap gulita itu, menyelidiki keadaan di dasar lubang itu pun tidak mungkin. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menanti sampai malam itu lewat dan ada sinar matahari menerangi dasar lubang itu agar dia bisa menyelidiki dan mencari jalan keluar. Terpaksa dia harus menanti.
"Locianpwe, maafkan aku." bisiknya kepada mayat di bawahnya dan dia pun dengan hati-hati duduk bersila di atas tubuh mayat yang masih hangat itu.....

KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH SI BANGAU PUTIH (seri ke 13 Bu Kek Siansu)
Action(seri ke 13 Bu Kek Siansu) Jilid 1- 39 Tamat Episode ini meski masih kental diwarnai oleh kiprah keluarga Pulau Es namun sebenarnya yang menjadi sentral dalam ceritanya adalah keluarga Istana Gurun Pasir. Cerita dalam episode ini memperjelas terkiki...