"Sin-kiam Mo-li, mari kita lanjutkan perkelahian kita!" kata Sin Hong.
Tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menjawab, dia sudah menyerang lagi dengan hebatnya. Sin-kiam Mo-li terpaksa memutar Cui-beng-kiam untuk melindungi tubuhnya.
Melihat betapa Sin Hong seolah-olah tidak merasakan lukanya, hati Hong Li merasa tenang kembali walau pun dia masih amat khawatir. Tentu saja dia tidak tahu bahwa satu-satunya obat penawar racun Ban-tok-kiam memang hanya tanah itulah! Tentu saja hal ini tadinya menjadi rahasia penghuni Istana Gurun Pasir dan hanya diberi tahukan kepada Sin Hong sebagai murid terakhir mereka. Bahkan Kao Cin Liong sendiri tidak tahu akan hal ini!
Sementara itu, melihat betapa ayah mertuanya sudah menghadapi Ouwyang Sianseng dan Sin Hong sudah pula menyerang Sin-kiam Mo-li, Suma Ceng Liong lalu melompat ke depan menghadapi Siangkoan Liong. Dia tahu bahwa pemuda ini sangat lihai pula, dan kini memegang pedang Koai-liong-kiam, maka dari pada membiarkan seorang di antara para pendekar terancam bahaya kalau menghadapinya, ia pun sudah lebih dulu maju menantangnya.
"Siangkoan Liong, majulah dan mari kita tentukan siapa yang lebih unggul antara kita, dari pada engkau nanti bertindak curang seperti Ouwyang Sianseng yang melakukan pengeroyokan dan serangan gelap! Atau, jika engkau takut menghadapi aku, berlututlah agar kami menangkapmu sebagai pimpinan pemberontak dan menyerahkanmu kepada pemerintah!"
Tentu saja Siangkoan Liong yang berhati angkuh itu tidak sudi untuk menyerah. Tanpa banyak cakap lagi dia pun telah menerjang maju, menyerang Suma Ceng Liong dengan sengitnya. Pedang Koai-liong-kiam di tangannya diputar dengan cepat dan terdengarlah suara mengaung yang mengerikan, seolah-olah dari pedang itu keluar auman binatang buas dan pedang itu mengeluarkan sinar berkilauan.
Cu Kun Tek yang juga ikut nonton di situ merasa tidak enak sekali. Pedang yang berada di tangan pemuda itu adalah pedang pusaka keluarganya. Sepatutnya dia yang harus maju melawan Siangkoan Liong untuk merampas pedangnya kembali. Akan tetapi dia pun maklum betapa lihainya Siangkoan Liong dan bahwa kalau dia yang maju, kecil sekali harapannya pedang pusaka Koai-liong-kiam itu akan dapat dirampasnya kembali, bahkan bukan tidak mungkin dia sendiri akan roboh menjadi korban pedang pusaka milik keluarganya itu! Maka, melihat Suma Ceng Liong yang maju, dia pun diam saja, karena dia sudah tahu siapa adanya pendekar itu, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es!
Seperti juga Sin Hong yang menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan tangan kosong, Suma Ceng Liong juga menghadapi Siangkoan Liong dengan tangan kosong pula!
Kini terjadilah pertempuran yang amat seru. Ouwyang Sianseng, seperti juga dua orang anak buahnya itu, maklum bahwa dia sudah terkurung dan terhimpit, maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dengan nekat, kalau perlu mengadu nyawa dengan lawannya. Apa lagi yang dilawannya adalah Pendekar Suling Emas yang dia tahu amat tinggi ilmu kepandaiannya.
Sekali ini dia sama sekali tidak dapat mengandalkan ilmu silatnya, karena dia seolah-olah bertemu dengan gurunya! Dia kalah dalam segala hal, baik keaslian ilmu silat, kecepatan gerak mau pun kekuatan tenaga sakti. Satu-satunya yang diandalkan hanya kenekatannya. Maka dari itu dia pun menyerang dengan membabi buta, mengandalkan kenekatan dan kehebatan pedang Ban-tok-kiam.
Kakek Kam Hong maklum pula akan kelihaian lawan. Diam-diam dia merasa menyesal dan sayang sekali mengapa seorang laki-laki yang demikian pandai seperti Ouwyang Sianseng sampai terperosok ke dalam kehidupan sesat. Orang she Ouwyang ini selain tinggi ilmu silatnya, juga ahli pedang dan ahli dalam kesusastraan, memiliki kecerdikan pula.
Akan tetapi ternyata nafsu dan ambisinya jauh lebih besar dari semua hal itu sehingga menyeretnya untuk melakukan perbuatan sesat demi tercapainya keinginan hati untuk mengejar kesenangan. Dan dia tahu bahwa orang seperti ini memang berbahaya sekali jika dibiarkan berkeliaran. Tentu dia akan berusaha kembali untuk melakukan kegiatan pemberontakan pula, atau akan menghimpun orang-orang sesat lagi untuk mencapai ambisinya, yaitu kekuasaan dan kesenangan.
Biar pun sudah puluhan tahun lamanya pendekar sakti ini lebih banyak mengasingkan diri dan hidup tenteram, tidak pernah lagi membunuh orang, namun sekali ini terpaksa dia mengambil keputusan untuk menyingkirkan Ouwyang Sianseng, demi keamanan kehidupan banyak manusia yang tidak berdosa. Kalau orang she Ouwyang ini dapat bebas dan membuat keonaran, yang banyak menjadi korban adalah rakyat jelata yang tidak berdosa sama sekali. Berpikir demikian Kam Hong lalu mempercepat gerakannya dan mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk mendesak lawan.
Ouwyang Sianseng yang semenjak tadi memang sudah mengeluarkan semua ilmunya namun selalu tak mampu mengimbangi permainan lawan, begitu didesak menjadi repot sekali. Sinar emas yang bergulung-gulung, yang diikuti suara melengking tinggi rendah seperti suling ditiup itu, amat mengacaukan pikirannya. Suara itu mengandung tenaga mukjijat yang membuat permainan pedangnya kacau dan suatu saat, kipasnya bertemu dengan kipas lawan.
"Desss...! Prakkk...!"
Kipas di tangan kiri Ouwyang Sianseng hancur berkeping-keping. Dia marah sekali dan pedang Ban-tok-kiam di tangannya segera berubah menjadi gulungan sinar hitam yang mendirikan bulu roma karena mengandung hawa yang kuat, dingin dan menyeramkan.
Namun kakek Kam Hong yang sudah melindungi diri lahir batin dengan sinkang, tidak terpengaruh. Dia bahkan menggerakkan suling emasnya lebih cepat lagi. Kini gulungan sinar kuning emas itu berpusing sedemikian cepatnya, juga sinarnya panjang dan lebar.
Perlahan-lahan sinar kuning emas itu mulai menggulung dan melibat sinar hitam hingga pedang di tangan Ouwyang Sianseng itu kini hanya mampu bergerak dalam lingkungan gulungan sinar kuning emas! Ruang gerak pedang Ban-tok-kiam semakin lama semakin sempit, dan selagi Ouwyang Sianseng kerepotan setengah mati, gagang kipas di tangan kakek Kam Hong meluncur dan menotok pangkal tengkuknya.
"Tukkk...!"
Tubuh Ouwyang Sianseng terhuyung, lantas dia terpelanting jatuh. Separuh badannya yang sebelah kiri lumpuh tanpa mampu digerakkan. Sesudah melihat keadaan dirinya, pedang Ban-tok-kiam di tangan kanannya bergerak ke arah leher sendiri dan sebelum dapat dicegah, pedang itu telah membacok batang lehernya!
Anehnya, biar pun leher itu hampir setengahnya terbacok, hanya sedikit darah mengalir dan seketika, wajah mayat Ouwyang Sianseng menjadi menghitam dan perlahan-lahan warna hitam itu menjalar di seluruh tubuhnya. Itulah kehebatan racun Ban-tok-kiam!
Kakek Kam Hong mengambil pedang yang terlepas dari tangan Ouwyang Sianseng itu, mengamati pedang itu dan menggeleng-geleng kepala penuh kagum dan ngeri melihat kehebatan Ban-tok-kiam yang menjadi pusaka dari Istana Gurun Pasir itu.
Setelah melihat Ouwyang Sianseng roboh dan tewas, Sin-kiam Mo-li serta Siangkoan Liong merasa terkejut bukan main. Wajah mereka berubah pucat dan tentu saja nyali mereka menjadi kecil, semangat mereka terbang sebagian sehingga permainan pedang mereka menjadi kacau!
Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Hong untuk mendesak lawannya dan akhirnya dia berhasil 'mematuk' pergelangan tangan kanan Sin-kiam Mo-li dengan tangan kirinya yang membentuk moncong atau patuk burung bangau. Terkena patukan ini, seketika tangan kanan itu lumpuh dan di lain detik, Cui-beng-kiam sudah berpindah ke tangan kanan Sin Hong!
Nenek itu sungguh tidak tahu diri atau memang sudah mata gelap dan nekat. Biar pun kini dia bertangan kosong, dia masih nekat menubruk maju untuk menyerang Sin Hong dengan Hek-tok-ciang, yaitu pukulan yang lebih mirip cengkeraman dan mengandalkan kuku-kuku jari tangan yang mengandung racun!
"Cappp!"
Sin Hong menyambut dengan tusukan Cui-beng-kiam. Pedang itu hanya kurang lebih satu dim saja memasuki dada Sin-kiam Mo-li lalu dicabutnya, namun cukup membuat nenek itu terjengkang dan tewas seketika karena keampuhan pedang Cui-beng-kiam! Ia tewas tanpa sempat mengeluh lagi dan setelah tewas, wajahnya nampak jauh lebih tua dari pada ketika masih hidup. Hal ini adalah karena kecantikannya ketika masih hidup tidak wajar, mengandalkan polesan bedak dan gincu.
Siangkoan Liong semakin panik melihat robohnya Sin-kiam Mo-li. Agaknya dalam hati Suma Ceng Liong timbul perasaan ragu untuk merobohkan pemuda itu. Ia merasa tak pantas baginya yang tingkat, kedudukan mau pun usianya lebih tinggi dari pada lawan untuk menekan dan merobohkan lawannya. Bagaimana pun juga, dia menyayangkan kemudaan dan ketampanan Siangkoan Liong yang telah mempunyai kepandaian cukup tinggi itu.
Melihat sikap ini, Sin Hong dapat menyelami isi hati Suma Ceng Liong, maka dengan Cui-beng-kiam di tangan, dia melompat maju dan berkata dengan nyaring, "Locianpwe Suma Ceng Liong, harap suka memberikan Siangkoan Liong ini kepada saya!"
Lega hati Suma Ceng Liong melihat ada orang yang menggantikannya, apa lagi orang itu adalah Sin Hong yang dia ketahui kelihaiannya dan masih sama mudanya dengan Siangkoan Liong pula. Ia pun cepat meloncat ke belakang, membiarkan Sin Hong yang menghadapi Siangkoan Liong.
Kedua orang muda itu berdiri tegak, berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata tajam.
"Siangkoan Liong, selagi masih sempat kenanglah semua perbuatanmu yang penuh dosa!" kata Sin Hong dan dia membayangkan wajah Kwee Ci Hwa.
Siangkoan Liong tersenyum mengejek, "Tak ada perbuatanku yang pantas kusesalkan, Tan Sin Hong. Selama ini aku sudah berjuang untuk membebaskan negara dan bangsa dari cengkeraman penjajah, sebaliknya engkau menjadi anjing penjajah Mancu!"
Sin Hong memandang dengan mata mencorong. "Masih ingatkah apa yang telah kau lakukan terhadap mendiang Kwee Ci Hwa dan para wanita lain yang menjadi korban kebuasanmu?"
Ditegur seperti itu, wajah Siangkoan Liong berubah pucat, lalu menjadi merah sekali, merah karena malu dan marah. Ia melirik ke arah Li Sian yang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan kedua tangan terkepal, dan tahulah dia bahwa tidak ada jalan keluar baginya.
"Sin Hong, tutup mulutmu dan mari kita bertanding seperti laki-laki sejati!"
"Hemmm, orang macam engkau masih hendak bicara tentang laki-laki sejati?"
Sin Hong terpaksa menghentikan kata-katanya karena nampak sinar pedang berkilauan meluncur dibarengi suara mengaum. Itulah Koai-liong Po-kiam yang sudah digerakkan oleh Siangkoan Liong untuk menyerangnya. Namun dengan tenang saja Sin Hong juga menggerakkan Cui-beng-kiam untuk menangkis dan dia pun membalas serangan lawan dengan tidak kalah dahsyatnya.
Terjadilah perkelahian tunggal yang seru dan mati-matian serta disaksikan oleh semua orang yang hadir di situ. Menghadapi Sin Hong, Siangkoan Liong juga tidak berdaya, karena seperti ketika menghadapi Suma Ceng Liong tadi, dia kalah segala-galanya.
Kalau tadi Suma Ceng Liong seperti mempermainkannya saja, dengan tangan kosong melawan dia yang bersenjata pedang pusaka, sekarang Sin Hong sama sekali tidak main-main, tidak mengalah, bahkan di tangan Sin Hong terdapat pedang yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan Koai-liong-kiam! Maka, setelah lewat dua puluh jurus saja, Siangkoan Liong mulai terdesak hebat dan dia selalu main mundur, hanya mampu mengelak atau menangkis saja tanpa sempat membalas serangan sama sekali.
Sin Hong mendesak terus dan menggunakan Cui-beng-kiam untuk memainkan ilmu pedang Ban-tok-kiam-sut. Meski pun ilmu pedang ini biasa dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam, tapi dengan Cui-beng-kiam sekali pun Sin Hong dapat memainkan ilmu pedang itu dengan baik.
Siangkoan Liong berusaha untuk membela diri sebaik mungkin, namun di dalam suatu perkelahian, tidak mungkin orang hanya selalu menangkis dan mengelak terus tanpa mampu membalas serangan. Dan akhirnya, tanpa dapat dihindarkan lagi, ujung pedang Cui-beng-kiam melukai paha kanannya.
Seketika kaki kanan itu menjadi lumpuh dan seluruh tubuh terasa dingin sekali. Kaki itu pun membengkak dan Siangkoan Liong yang langsung melompat ke belakang melihat bahwa keadaan dirinya takkan mampu tertolong lagi. Dia pun menggerakkan Koai-long Po-kiam dan di lain saat, lehernya telah terbabat putus oleh pedang Koai-liong Po-kiam!
Kun Tek cepat menyambar pedang Koai-liong-kiam dari tangan Siangkoan Liong serta membawanya menjauh, sedangkan Sin Hong menarik napas panjang, lalu mengambil sarung pedang Cui-beng-kiam yang masih terselip di pinggang Sin-kiam Mo-li. Ketika Kam Hong menyerahkan Ban-tok-kiam kepadanya, Sin Hong lalu mengambil sarung pedang di punggung mayat Ouwyang Sianseng.
Setelah tiga orang tokoh pimpinan pemberontak ini tewas, selesai sudah pertempuran itu. Para pendekar tidak kembali ke sarang Tiat-liong-pang, di mana masih berlangsung pertempuran berat sebelah antara sisa pasukan kaum pemberontak melawan pasukan pemerintah.
Sebenarnya tiada seorang pun di antara para pendekar yang ingin membantu pasukan pemerintah. Jika tadi mereka menentang pemberontakan Tiat-liong-pang adalah karena Tiat-liong-pang bukan memberontak demi kepentingan bangsa, namun dengan pamrih untuk berkuasa. Dan selain itu, Tiat-liong-pang juga tidak segan-segan untuk bersekutu dengan para tokoh sesat.
Setelah kemenangan itu, para pendekar lalu berkumpul dan saling memperkenalkan diri, kemudian mereka saling berpisah untuk kembali ke tempat asal masing-masing.
Cu Kun Tek dapat membujuk Pouw Li Sian untuk ikut bersama dia pulang ke Lembah Naga Siluman di barat, di mana dia akan memperkenalkan Pouw Li Sian sebagai calon isterinya kepada orang tuanya. Pouw Li Sian yang sudah membalas cinta kasih yang tulus dari Kun Tek, yang tetap mencintanya walau pun ia sudah berterus terang bahwa dirinya sudah ternoda oleh Siangkoan Liong, kini menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pemuda yang tinggi besar dan gagah perkasa itu. Setelah kakak kandungnya yang merupakan sisa keluarganya terakhir tewas, gadis ini tidak mempunyai seorang pun anggota keluarga, hidup sebatang kara di dunia ini.
Suma Lian, Gu Hong Beng, Sin Hong dan Kao Hong Li melakukan perjalanan bersama ke Tapa-san untuk pergi ke tempat pertapaan Suma Ciang Bun, di mana Sin Hong menitipkan Yo Han.
Gu Hong Beng dan Suma Lian menghadap pendekar itu untuk melaporkan semua hasil pembasmian gerombolan sesat itu dan juga Hong Beng hendak minta dukungan gurunya untuk membicarakan urusan perjodohannya dengan Suma Lian, karena gadis itu kini agaknya tidak akan keberatan lagi terhadap ikatan perjodohan yang dahulu telah dipesankan mendiang nenek Teng Siang In.
Suma Ciang Bun gembira bukan main menyambut empat orang muda itu, mendengar akan hasil yang baik dari usaha para pendekar menumpas gerombolan pemberontak, terutama sekali mendengar permintaan Hong Beng agar dia suka membicarakan urusan perjodohan antara Hong Beng dan Suma Lian dengan orang tua gadis itu. Pada hari itu juga, Suma Ciang Bun pergi mengunjungi rumah adik sepupunya, yaitu Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun di luar kota Cin-an.
Yo Han yang kini dijemput oleh Sin Hong, juga merasa gembira walau pun dia juga menyesal harus berpisah dari Suma Ciang Bun yang bersikap amat baik kepadanya, bahkan telah mengajarkan dasar-dasar teori persilatan tinggi kepadanya. Sin Hong lalu mengajak Yo Han bersama dengan Kao Hong Li pergi berkunjung ke rumah gadis itu, yaitu rumah Kao Cin Liong ayah gadis itu di Pao-teng di sebelah selatan kota raja.....

KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH SI BANGAU PUTIH (seri ke 13 Bu Kek Siansu)
Action(seri ke 13 Bu Kek Siansu) Jilid 1- 39 Tamat Episode ini meski masih kental diwarnai oleh kiprah keluarga Pulau Es namun sebenarnya yang menjadi sentral dalam ceritanya adalah keluarga Istana Gurun Pasir. Cerita dalam episode ini memperjelas terkiki...