Tidak Juga Merasa Lebih Baik

4.2K 408 9
                                        

"Gimana kaki kamu, Arka?" Ayah bertanya di sela makannya, membuat Arka yang awalnya menatap piring langsung mendongak. Tangan yang awalnya asyik memotong-motong tahu, langsung berhenti.

"Masih sakit?"

Arka menggelengkan kepalanya perlahan. Meski sebenarnya rasa nyeri itu masih lumayan menyiksa kakinya, bahkan hampir seluruh tubuhnya. Senyum Arka terulas, berusaha menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.

"Kaki Arka udah nggak begitu sakit, kok, Yah," jawab Arka, semeyakinkan mungkin. Masalahnya, biasanya Ayah paling paham soal respon Arka. Kapan Arka berbohong dan kapan ia berbicara jujur.

"Yakin?" Ayah kembali bertanya. Kedua indra penglihatannya menatap Arka intens. Hal itu sontak membuat cowok berusia empat belas tahun itu menunduk, enggan bertatap mata dengan Ayah.

"Yakin, Yah," jawab Arka. Ia mendorong piringnya yang sudah kosong. Tidak seperti biasanya, Arka langsung bangkit. "Arka ke kamar duluan, ya. Mau ngerjain tugas."

Dengan langkah terseok, Arka berjalan menuju kamarnya. Tapi, baru juga beberapa langkah, tungkainya seolah kaku. Tangan Arka dengan sigap meraih apapun yang bisa digunakannya untuk mempertahankan keseimbangannya. Hingga secara tidak sengaja, Arka menjatuhkan sebuah pigura. Ringisan Arka secara tidak sengaja keluar dari bibirnya.

"Astaga, Arka! Kamu kenapa?!" Suara teriakan Bunda terdengar. Arka ingin berkata bahwa dirinya baik-baik saja, tapi lidahnya kelu. Kedua matanya terpejam erat dengan kening yang berkerut.

Arka merasa tubuhnya tiba-tiba diangkat. Ia ingin melihat siapa orang yang mengangkatnya, tapi kedua kelopak matanya seolah enggan untuk terbuka. Meski begitu, seratus persen Arka meyakini bahwa yang menggendongnya saat ini adalah Ayah.

"Yah, maaf ...."

"Nggak usah minta maaf ke Ayah. Minta maaf ke bunda kamu, tuh."

Arka bergumam pelan. Begitu tubuhnya dibaringkan di atas ranjang, Arka langsung meraih gulingnya, lalu memeluknya erat. Kelopaknya terbuka, menampilkan kedua bola mata yang dilapisi cairan bening.

"Sakit banget, ya, Nak?" Ayah bertanya sambil menaikkan selimut Arka. Kemudian, tangannya beralih, mengusap kepala putra satu-satunya itu. "Ayah khawatir. Beberapa kali kamu jatuh kayak gitu. Makin hari makin parah."

"Ayah nggak usah khawatir. Arka nggak apa-apa, kok. Udah nggak begitu sakit juga." Arka tersenyum. Maniknya yang teduh menangkap kekhawatiran di wajah Ayah.

"Nggak apa-apa apanya?"

Arka meringis pelan. Rasanya, percuma menutupi semuanya di hadapan Ayah. Pria itu seolah lebih tahu. Bahkan, lebih dari Arka memahami dirinya sendiri.

"Besok, kalau masih begini juga, kamu nggak usah sekolah. Kita ke rumah sakit, biar tahu ini kenapa, ya. Siapa tahu perlu dipotong gitu."

"Ayah! Apaan, sih, potong-potong?" Arka protes. Ia menurunkan selimutnya, lalu bangkit. "Jangan ngomong aneh-aneh."

Ayah terkekeh geli. Jarang-jarang ia menunjukkan reaksi seperti itu. "Terus, sekarang mau ke mana?"

"Mau gosok gigi, terus mau tidur," jawab Arka. Ia berdiri, namun kembali mendudukkan tubuhnya saat nyeri di kakinya menjalar. "Yah, bantuin Arka."

Ayah tersenyum sendu. Ia bangkit terlebih dahulu, lalu membantu Arka untuk berdiri. Dipapahnya Arka sampai ke kamar mandi. Hingga sebelum pintu ditutup, Arka berkata, "Yah, maafin Arka, ya."

Ayah mengusap puncak kepala Arka sejenak. "Nggak usah minta maaf. Ayah senang membantu kamu. Udah sana, hati-hati. Ayah nggak mau kamu jatuh lagi."

Arka tersenyum tipis. "Iya, Yah."

~l a s t t i m e~

Last TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang