Pernah Ada di Masa Selalu Baik-baik Saja

1.2K 114 35
                                        

Punya teman yang terlalu peduli tidak selalu baik, namun tidak juga selalu buruk. Arka kira, Afkar akan berhenti mengganggunya begitu ia mengetahui penyakit apa yang tiba-tiba menyerang Arka. Tebakannya salah besar dan Arka jadi kesal sendiri.

"Kalau masih ada yang harus diperiksa lagi, apa berarti penyakit lo belum pasti?" Lagi-lagi, Afkar bertanya. Arka yang sejak tadi merasa lemas, hanya menggeleng pelan. Dikiranya, istirahat ini Arka bisa tidur sebentar, tapi laki-laki yang ahli main tebak-tebakan—namun terkadang tidak peka itu, malah mengganggunya.

"Gue nggak ngerti juga masalah itu." Arka melipat kedua lengannya di atas meja. Lebih parah dari kemarin, kakinya terasa sakit. Bukan lebam lagi yang timbul, tapi juga sedikit membengkak.

Dari apa yang Arka ketahui, bengkak itu berasal dari sel kankernya yang makin mengganas. Kalau beruntung, ia dapat melakukan operasi untuk mengangkat sel kankernya yang menyebalkan itu. Bagian buruknya ... bisa juga dilakukan amputasi.

Arka menggeleng cepat. Mencari informasi mengenai penyakit yang dideritanya justru membuat ia makin takut.

"Kenapa? Kenapa lo geleng-geleng?" Afkar bertanya heran. Ia menyentuh kening Arka. "Lo agak panas. Lo nggak apa-apa?"

"Lo pernah nggak sih, tiba-tiba kepikiran hidup lo hancur gitu aja?" Tidak terduga dan agak melewati jalur, Arka bertanya. Otaknya memutar kilas balik mengenai hidupnya. Menyenangkan, meski tanpa sesuatu yang menarik.

Afkar melirik ke pojok ruangan. Tangannya mengaduk bekal yang dibawanya dari rumah, lalu kepalanya menggeleng pelan. Mana pernah ia berpikir jauh?

"Jujur, gue juga nggak pernah." Arka tertawa pelan. Nafsu makannya secara drastis berkurang, hingga ia menutup kotak bekalnya. "Tiba-tiba aja, nggak pake aba-aba, hidup gue kayak dihancurin. Gue baru lima belas tahun kemarin, tapi kenapa dikasih hadiah kayak gini, ya?"

Afkar tidak serta merta membalas. Ia menatap makanan miliknya, lalu beralih pada milik Arka. Laki-laki itu bahkan hanya makan beberapa suap.

"Gue anak satu-satunya. Orang tua gue cuma berharap sama gue, tapi gue udah ngecewain mereka sebelum gue sempat berusaha ngasih yang lebih baik lagi dari kemarin," lanjut Arka. "Kalau gue nggak ada, orang tua gue gimana? Apa mereka bakal baik-baik aja? Apa hidup mereka bakal kayak biasa? Atau justru ... berhenti?"

Arka menarik napas panjang. Ia menatap Afkar yang bahkan tidak menatapnya sama sekali. Kalau boleh jujur, baru kali ini Arka benar-benar mengungkapkan perasaannya. Sejak kemarin, otaknya tergelitik untuk memikirkan skenario terburuk yang akan terjadi, dan Arka tidak suka mengenai hal tersebut. Semalaman berusaha tenang, tapi pikirannya malah makin menjadi-jadi.

"Gue rasa, orang tua lo nggak bakal berhenti hidup," jawab Afkar setelah berpikir matang-matang. "Mungkin emang bakal berhenti sebentar, tapi nggak bakal lama. Mereka bakal mencoba buat hidup kayak biasanya, demi lo juga."

Arka tersenyum tipis. Ia menunduk. Tangan Arka secara perlahan mengusap kakinya yang terasa sakit. Ia ingin meminum antinyerinya, tapi takut terlalu ketergantungan. Di lain sisi, sakit yang Arka rasakan tidak main-main.

"Jangan kasih tahu masalah ini ke anak sekelas, ya," pinta Arka. "Mereka mungkin bakal tahu sendiri, tapi nggak sekarang. Gue nggak siap ditanya-tanyain terus kayak sama lo."

Afkar tertawa. Ia menepuk pundak Arka perlahan dan mengangguk. "Iya, iya. Gue nggak bakal ngasih tahu siapa-siapa."

~l a s t t i m e~

Saat jam pelajaran ketiga, Arka memilih izin ke UKS. Ia tidak bisa konsentrasi sama sekali karena sakit di kakinya yang lumayan mengganggu dan jantungnya yang terus berdebar. Suhu tubuhnya sedikit meningkat, hingga ia memutuskan untuk berbaring di atas ranjang.

Lengan Arka menutup kedua matanya. Ia ingin tidur. Siapa tahu, nyerinya bisa sedikig berkurang. Atau paling tidak, Arka tidak merasakannya untuk sementara. Namun, rasanya begitu sulit hingga memejamkan mata pun ia tidak bisa.

Arka bergerak gelisah. Ingin rasanya Arka mengubah posisi tetapi ketika ia menggerakkan kakinya, nyeri yang lebih hebat menjalar. Ringisan secara tidak sengaja keluar dari bibirnya. Napasnya mulai memburu. Hingga tak lama, Arka mulai bernapas menggunakan mulutnya.

Arka tidak dapat membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan ia alami selanjutnya. Baru sebentar, Arka sudah tidak dapat menahannya. Tidak berhenti, tangannya yang mengepal memukul permukaan dinding perlahan.

"Bun ... sakit, jemput aku. Cepetan." Arka bergumam pelan. Itu hanya harapannya semata. Nyatanya, Arka tidak menghubungi bunda dan pihak sekolah pun begitu. Karena Arka berjanji setelahnya akan kembali ke kelas. Siapa sangka, sakit yang dirasakannya akan semakin memburuk.

"Arka ... Nak, kamu kenapa?"

Arka merasa lengannya digoyangkan beberapa kali. Ingin ia membuka mata, tapi sakitnya lebih menyiksa. Kepalanya menggeleng perlahan. Bibirnya yang sedikit terbuka ingin menjawab, tapi yang keluar hanya sebuah ringisan.

"Sakit ...." Arka meringis. Tangannya bergetar. Ketika ia membuka mata, sosok Bu Vina yang khawatir langsung menyambutnya. "Kaki ... sakit ...."

Bu Vina makin panik. Ia mundur selangkah dan berbalik. "Saya bilang guru buat nelepon orang tua kamu, ya," ucapnya. "Kamu ke rumah sakit sekarang."

~l a s t t i m e~

A/n

Sebuah cerita yang aku update setahun sekali wkwkwkwk maafin banget.

Ngomong-ngomong, pas ngetik aku jadi inget ketemu pasien osteosarkoma. Bener bener setiap ketemu ngeluhnya sakit, gak bisa bergerak. Aku jadi kepikiran, sesakit apa yang mereka rasakan. Jadi sedih sendiri.

Eh, btw, kalau biasanya aku curhat tugas banyak banget, sekarang aku mau umumin aku udah selesai profesi yuhuuuuu wkwkwk

Makasi banyak buat kamu yang udah tumbuh dan berkembang bersama aku awokwokwokwok. Karena kamu juga, aku bisa ada di titik ini, jadi aku berterima kasih banget!!

Dan ini spesial buat kamu

Last TimeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang