🌙 - day.13

202 48 9
                                        


day 13
Tuesday
23 june

03.00

Jam 3 pagi, Nayoung hanya terdiam di kasurnya. 

Ia enggan bersekolah.

Enggan bertemu Renjun juga.

Ia menjadi kaku dengan Renjun sejak kejadian kemarin di taman.

juga, Nayoung telah memutuskan siapa yang akan dikorbankan 2 hari lagi.

Iya, hari ke 15, hari terakhirnya.

ia telah memutuskan, dirinya sendiri.

🌙

“gimana, Renjun? Jadinya siapa?”

“ma..”

Renjun sungguh masih mengantuk, subuh subuh begini ia dituntut memberikan jawaban.

Sedangkan Mama Jessica, yang sepertinya terjaga semalaman hanya menatap Renjun nanar sembari menunggu jawaban dari pertanyaannya.

“Renjun aja, ma..”

🌙

07.00

“Renjun” panggil Nayoung, sambil tersenyum.

“Nayoung” balas Renjun dengan nada yang sama, disusul tawa milik Nayoung.

“bawa makan, nggak?” tanya Nayoung ke Renjun.

Renjun menggeleng, “enggak, nanti makannya di kantin aja beli”.

“jangan ke kantin, yuk” seru Nayoung.

“loh, kenap-”

“Mau mabal, nggak? Kita jalan jalan, jajan di pinggir jalan, seru kan?” Nayoung memotong pembicaraan Renjun, kemudian terkekeh.

“loh? mabal?” Renjun bingung, tempo hari Nayoung menolaknya karena Renjun mengajak Nayoung mabal. sekarang, Nayoung sendiri yang mengajak mabal?

“kenapa? nggak mau ya?” tanya Nayoung, lalu memasang muka memelas.

“bukan gitu, kok tumben?” Renjun masih bingung.

“siapa tau ini mabal terakhir aku, kan?” ujar Nayoung.

“mabal terakhir?” Renjun masih bingung juga.

mungkin besok aku udah nggak sekolah lagi, Jun.

“mm... bentar lagi kan kita lulus, jadi ya.. harus manfaatin kan buat mabal? mungkin ini sekali seumur hidup, lagian nanti ada bahasa Mandarin, males ah” elak Nayoung. yang tidak mengundang kecurigaan sedikitpun dari Renjun.

“yaudah, nanti mau mabal?” tanya Renjun.

Nayoung mengangguk semangat, “harus! nanti kita jajan di pinggir jalan, main ke timezone, macem macem!” seru Nayoung semangat, mungkin ini hiburan terakhir baginya sebelum ia mengorbankan dirinya sendiri.

“Riyeon? gimana? nanti dia nyariin?” tanya Renjun kesekian kalinya.

“Riyeon hari ini nggak masuk” jawab Nayoung. Renjun yang mengerti hanya mengangguk angguk.

“yaudah nanti mabal ya, nanti tas-nya minta bawain Jaemin aja pas pulang” ujar Renjun akhirnya, meskipun ia harus mengorbankan pelajaran kesukaannya, Bahasa Mandarin.

Jaemin yang melihatnya hanya geleng geleng kepala,

“dasar orang pacaran.”

🌙

Nayoung tak henti hentinya tersenyum daritadi, meskipun di dalam hatinya ia terpuruk, ia tetap mau disini, ia tidak mau waktu berjalan terus.

Sudah jam 4 sore, sudah banyak yang Renjun-Nayoung lewati sejak jam 9 pagi tadi. Senyum terus terukir di wajah mereka berdua.

“udah jam 4, kalo lewat jam 5 nggak izin bunda bisa marah” ujar Nayoung.

“sejam lagi, kan? nanti aku antar pulang” Renjun tersenyum memamerkan gingsulnya.

“duduk dulu yuk, capek” Nayoung menarik tangan Renjun ke bangku di dekat sebuah kolam air mancur.

“Nih, Jun. 2 hari lagi buka ya! makasih buat hari ini” Nayoung memberikan sebuah kertas dilipat lipat kepada Renjun.

“surat?” Renjun memandang kertas yang dilipat menjadi bentuk burung itu.

“iya, buka 2 hari lagi! jangan nanti malem atau besok ya!” seru Nayoung, sambil mencoba membuat ekspresi mengancam di wajahnya.

Renjun hanya mengangguk, kemudian tersenyum miris.

kubuka besok aja ya Na, 2 hari lagi aku pergi.

🌙

“ya, Mama ngerti, jadi silahkan 2 hari ini puas puasin dulu sama Nayoung, lalu hari ke 15 nanti jam 5 sore kamu harus udah ada di rumah, ngerti?!” seru Jessica, yang terdengar seperti membentak.

Renjun hanya mengangguk perlahan, pasrah. Rasanya seperti melihat ajal saja.

Kemudian memasuki kamarnya, mencoba memejamkan mata, menunggu hari esok yang semakin kejam.

🌙

[✅] 15 days, renjun Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang