woojin meletakkan selimut di pundak hyunjin dan seungmin, di belakangnya chan meletakkan bantal di kepala changbin yang tertidur di lantai. semua orang tertidur, kecuali chan dan woojin, setelah mereka menonton home alone secara marathon. woojin menengok ke arah chan dan menemukan pemuda itu memandangnya sambil tersenyum, ia tersenyum balik dan berjalan mendekat ke arahnya.
"hei."
"hey, let's talk now? is it okay if we go out to talk about this?"
woojin mengangguk, mengikuti chan yang berjalan ke arah balkon belakang apartemen jisung dan menyampirkan selimut yang tersisa di pundaknya sendiri. ia merinding karena udara nya masih termasuk dingin mengingat natal berada di tengah musim dingin dan sedikit mempertanyakan bagaimana chan bisa bertahan hanya dengan hoodie hitamnya.
"woojin."
"chan."
woojin melihat ke arah chan yang menggigit bibirnya gelisah sebelum menghadap ke arah woojin, "i am in love with you."
"sejak kapan?"
woojin meraih tangan chan yang berada di pagar balkon, menggenggam tangannya yang dingin karena gugup. ia mengelus pelan tangan chan, membuat pola lingkaran di permukaan tangan putih itu.
"sejak... entah sejak kapan, mungkin saat kamu selalu ada di saat aku jatuh, mungkin saat kamu selalu jadi seseorang yang menghapus air mataku, atau mungkin saat aku sadar kamu selalu percaya padaku."
"kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"i should've asked you the same, kenapa kamu tidak pernah bilang...," chan tidak mengatakan pertanyaannya secara utuh, 'kalau kamu juga mencintaiku' tersirat dalam diamnya.
"aku takut. bukan, bukan karena aku selebriti. aku takut kalau kamu tidak merasakan hal yang sama denganku. aku takut kalau aku bilang padamu, kamu menjauh. aku takut kalau tidak akan ada 'aku dan kamu' lagi," woojin menunduk setelah mengatakan itu, menggigit bibirnya dengan gugup.
"do you love me, woojin?"
"i do, i love you, chan."
"maka percayalah padaku. aku tidak akan menjauh, aku tidak akan pergi. aku akan tetap di sini, di sisi kim woojin. bukan kim woojin si selebriti, tapi kim woojin si manusia biasa yang selalu merasa dirinya tidak pernah cukup. karena bagiku, kamu akan selalu jadi yang paling sempurna."
woojin bisa merasakan pipinya basah sebelum tangan yang dingin mengelus pipinya, mengusap air matanya. tangan itu mengangkat dagunya, membuatnya kembali melihat ke arah chan yang tersenyum dengan lembut ke arahnya. woojin menutup matanya, membiarkan chan kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang manis.
"i love you so much, chan. jangan menjauh dariku," bisik woojin saat chan menjauhkan bibirnya dari milik woojin dan menyentuhkan dahi mereka berdua.
"i won't. i love you too much to distance myself from you, so please stay by my side, woojin."
woojin mengangguk kecil, kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir chan. memulai natal mereka dengan cinta yang terbalas.
ʕ'•ᴥ•'ʔ
chan menyenderkan kepalanya di pundak woojin, tersenyum saat woojin menceritakan bagaimana malunya dia saat ilhoon kembali mengingatkannya pada kesalahannya di idol radio sebelumnya. ia terkekeh, membuat pemuda yang menjadi senderannya merengut, membuat tawa chan semakin kencang jika ia tidak ingat tujuh pemuda yang tertidur di dalam apartemen.
"wooj, sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya chan setelah woojin selesai memukul lengannya kesal, membuat yang bersangkutan terdiam.
"aku tidak tahu. mungkin saat kamu bilang kamu percaya padaku saat aku ditawari kontrak? atau mungkin saat kamu datang hanya karena aku terlihat sedih di televisi? aku tidak tahu pastinya kapan, tapi aku tahu aku tidak memandangmu hanya sebagai teman setelah itu."
chan memiringkan kepalanya untuk menghadap ke arah woojin, mengecup pipi pemuda sejenak sebelum terkekeh, "ibuku tau aku mencintaimu, dan beliau juga tau kamu mencintaiku."
woojin mengerjap, "bagaimana bisa? aku tidak pernah bilang ke siapa-siapa, mungkin hanya ke kakakku. beliau, maksudku ibumu... tidak masalah dengan itu?"
"sepertinya insting seorang ibu tidak pernah salah, aku tidak akan macam-macam mulai sekarang. ibu tidak masalah, keluargaku tidak bermasalah dengan itu. tapi bagaimana dengan mu?"
chan memandang woojin khawatir, bukan hanya ia takut dengan image woojin sebagai seorang idol tapi juga bagaimana keluarganya akan merespon ini. ia tidak mau menjadi alasan woojin kehilangan semuanya.
"ibu sudah tau, seperti kamu bilang, insting ibu tidak pernah salah. beliau pernah tanya jika aku menyimpan perasaan padamu setelah aku beberapa kali malah mengoceh tentangmu setiap kali menelpon ke rumah. kakakku tau karena... ya dia kakakku dan aku selalu bercerita padanya. ayah? ayahku pasti tau dari ibu, jadi ku pikir tidak ada masalah," woojin tersenyum sebelum mencium dahi chan, "jangan khawatir, dahimu akan berkerut jika kamu terlalu banyak khawatir."
"aku hanya takut kalau aku menyebabkan masalah untukmu, bear."
"kamu tidak menyebabkan masalah apapun, channie. aku tau resikonya, mungkin minkyu hyung juga sudah menyadari sesuatu di antara kita karena setiap kali aku menceritakan sesuatu tentangmu dia akan selalu berkata untuk berhati-hati. tapi jangan khawatir, okay?"
"janji padaku untuk selalu bilang kalau ada masalah? sekecil apapun itu? jangan pernah mencoba jadi kuat dan menahan semuanya sendiri saat kamu punya aku, dear."
"dear?"
chan tersenyum, "iya, panggilan untukmu. bear, dear, semacam itu. janji padaku?"
"i promise you, chan."
"don't ever play hero on me, kita hadapi semua bersama. selama kamu punya aku dan aku punya kamu, semua akan baik-baik saja."
ʕ'•ᴥ•'ʔ
"jadi pagi ini kamu akan kembali ke incheon? apa aku harus menemanimu ke sana?" tanya chan ketika ia membaringkan dirinya di samping woojin yang sedang mengirimkan pesan kepada ibunya.
"hm? kenapa kamu harus menemaniku ke sana?"
woojin memperhatikan bagaimana chan menyangga kepalanya dengan tangannya, memandanginya sambil tersenyum, "memberi salam kepada calon mertua," jawabnya singkat.
woojin tertawa pelan, menutup mulutnya dengan tangan sebelum tawanya membangunkan pemuda-pemuda lain di sekitarnya. mereka memang tidur bersama di ruang tamu apartemen jisung yang cukup besar, menyebar dengan bantal dan selimut masing-masing. setelah beberapa kali sleep over di apartemen jisung, mereka akhirnya memutuskan untuk membawa peralatan tidur masing-masing, hanya tinggal meminjam bantal dan selimut cadangan untuk Minho yang baru pertama kali mengikuti sleep over.
"aku harus menghubungi ibuku dulu, keluargaku tidak tau jika kamu mau berkunjung."
"kita buat sebagai kejutan!" woojin menyukai bagaimana wajah chan menjadi cerah, tampak sekali jika ia sangat bahagia dan itu disebabkan olehnya.
"setidaknya biarkan aku memberitau ibuku, aku yakin mama akan mengisi mulutmu dengan makanan selama kamu di sana. kamu akan gemuk setelah pulang dari sana, bang chan."
"yang penting kamu tetap menyayangiku."
"oh my God, i don't think i know how to stop, babe."
"too cheesy, dear."
"just for you."

KAMU SEDANG MEMBACA
This Love [ B. Chan x K. Woojin ]
Fanfictioninspired by mikitoP's Sarishinohara, Yonjuunana, and Akaito; Little Mix's Secret Love Song [ "they say the more tears you shed, the stronger you become. but that's wrong, you only break apart."] --- ["I am right here for you"] Stray Kids AU bxb lowe...