19.

262 63 4
                                    

pip, pip, pip, pip, pip, pip.

woojin membuka pintu, melongok ke dalam ruangan itu dan menemukan televisi yang masih menyala. ia melepaskan jaket tebal dan sepatunya, menatanya serapi mungkin di tempat yang tersedia sebelum berjinjit dan berjalan ke arah ruang tamu. ia menghela napas, tersenyum maklum saat melihat seseorang yang dikenalnya tertidur di depan televisi.

"aku tau aku menyuruhmu masuk, tapi bukan berarti kamu harus tidur di sini juga," bisiknya sambil menyingkirkan poni hitam yang sudah panjang itu dari dahi pemuda yang tertidur di sofa, "lehermu akan sakit saat kamu bangun, channie."

woojin meletakkan kue yang dia beli di kulkas, mengingat-ingat dalam hati agar tidak lupa menyuruh pemuda kesayangannya untuk berbelanja karena kulkas itu kosong dan tidak mungkin chan akan hidup hanya dengan delivery. pemuda itu menyingsingkan lengan kemejanya, sebelum mengangkat sosok yang masih tertidur itu dari sofa, menahan napas saat chan bergerak di pelukannya. woojin menghela napas saat chan kembali tertidur menyender pada pundaknya, bersyukur pemuda itu tidak terbangun.

"astaga, kapan dia terakhir kali membereskan kasurnya?"

woojin menghela napas sekali lagi, menurunkan chan dari pelukannya ke atas kasur. pemuda yang lebih muda bergelung sebentar sebelum menyamankan dirinya di atas kasur, tangannya menggapai dalam tidurnya, kehilangan sumber kehangatannya. woojin tersenyum kecil, mengelus surai hitam pemuda itu sebelum berlalu untuk mengganti pakaiannya.

"hng, bear," senyum woojin melebar saat melihat chan masih berusaha mencari kehangatan di kasurnya, ia meraih tangan yang itu dan membaringkan diri di samping chan, "aku di sini."

"warm," gumam chan, woojin berteriak gemas dalam hati, merelakan dirinya dipeluk oleh pemuda itu.

chan secara insting menenggelamkan dirinya di dada woojin, menerima kehangatan yang diberikan kepadanya. woojin hanya menunduk, memperhatikan tingkah chan sambil tersenyum dengan sayang. ia mengecup puncak kepala chan lembut beberapa kali, sebelum menutup matanya.

"happy new year, i love you, channie," bisik woojin sebelum membiarkan dirinya tenggelam dalam dunia mimpi.

jika ia mendengar gumaman balasan, ia tidak menghiraukannya, hanya memeluk chan sama eratnya sebelum mimpi membawanya pergi.

ʕ'•ᴥ•'ʔ

chan membuka matanya, mengerjapkan matanya saat kain wol berwarna kuning gading menyapa penglihatannya. ia mendongak, ujung bibirnya naik saat menemukan woojin yang masih terlelap dengan damai. chan mengabaikan pertanyaan yang muncul tentang 'bagaimana aku bisa berpindah tempat tidur' yang ada di pikirannya, karena ia tahu pasti jika woojin pasti memindahkannya. ia terkekeh pelan dan mempersiapkan dirinya untuk menerima omelan woojin nanti.

ia melepas pelukannya dari woojin, menggeliatkan badannya ke atas untuk menyamakan pandangannya dengan wajah pemuda di hadapannya. chan memandang sayang pada pemuda yang sekarang sedang mengerutkan dahinya, kehilangan sesuatu atau tepatnya seseorang untuk dipeluk. woojin menggeliat dalam tidurnya, membuat chan dengan cepat namun lembut menarik pemuda itu kembali ke pelukannya, membiarkan posisi mereka berganti dengan woojin yang menenggelamkan wajahnya di dada chan. 

"cute," gumam chan saat woojin meringkuk di dalam pelukannya, membuat badannya lebih kecil di dalam pelukan chan.

chan tidak bisa tidak meninggalkan kecupan kecil di puncak kepala woojin yang kini berwarna hitam, tidak ada lagi proses bleaching untuk mengembalikan akar rambut yang menghitam kembali ke pirang. chan menyukai woojin dengan rambut hitamnya, pemuda itu tampak lebih lembut dan fluffy. ia meninggalkan kecupan terakhir di rambut hitam itu sebelum meletakkan dagunya di atas kepala woojin dan tersenyum.

"happy new year, bear, love you so much," bisiknya pelan.

matahari memang sudah tinggi, namun chan tidak berpikir untuk bangkit dari posisi tidurnya. ia kembali menyamankan diri dengan woojin di pelukannya dan menutup matanya. hari masih panjang dan ia tidak akan pernah mau melewatkan hari tanpa woojin di dalam pelukannya. 

ʕ'•ᴥ•'ʔ

saat chan membuka matanya, ia hanya melihat selimut tebal yang biasa ia peluk dalam tidurnya. ia mengusak rambutnya, mempertanyakan apakah pemandangan yang ia lihat di pagi hari hanyalah mimpi belaka. kalau pun hanya mimpi, itu adalah mimpi terindah yang pernah ia alami. chan mengusak rambut hitamnya yang berantakan, ia tidak meluruskan rambutnya kemaren sehingga helai hitam itu melengkung membentuk lingkaran-lingkaran berantakan. chan melihat penampilannya di cermin yang ada di seberang kasurnya, meringis saat melihat wajah paska bangun tidurnya.

ia mendengar samar-samar bunyi seseorang yang sedang memasak sesuatu di dapur, membuatnya penasaran. apa ayahnya sudah pulang? ataukah itu... maling? ia mengendap-endap ke dapur dan menghela napas pelan, itu woojin, berarti pagi tadi ia tidak bermimpi.

punggung pemuda itu terlihat tegap, dengan sweater putih gading yang merosot dari sisi kanan bahunya, menunjukkan pundak dengan kulit tan yang sangat ia sayangi. woojin terlihat sibuk membalik waffel dan omelette yang sepertinya akan menjadi sarapan mereka siang itu. chan berjalan perlahan-lahan ke arah pemuda yang lebih tua, memastikan woojin tidak memiliki resiko terluka jika ia mengagetkannya. lengannya ia selipkan di antara pinggang woojin, merengkuh pemuda itu.

chan bisa merasakan badan woojin berjengit kaget sebelum pemuda itu menengok ke samping, melihat ke arah chan yang menyenderkan kepalanya di bahu telanjangnya.

"channie! kamu ngagetin aja, untung aku lagi nggak megang panci atau pisau!"

chan hanya terkekeh, mengeratkan pelukannya pada woojin yang kembali sibuk menyelesaikan acara memasaknya. ia tidak melepaskan pelukannya sama sekali meskipun mereka berdua terlihat seperti pinguin saat woojin berjalan ke meja makan untuk meletakkan makanan yang sudah jadi. chan bahkan hanya menarik woojin untuk duduk di pangkuannya saat pemuda itu ingin duduk di seberangnya, membuat lengan berbalut sweater itu memukulnya main-main agar melepaskannya.

"kamu harus belanja secepatnya, love, kulkasmu hanya berisi telur dan kimchi. bahkan beras pun sudah habis dan kamu hanya punya waffel instan di lemari atas kulkas. nanti aku buatkan catatan belanja untukmu," woojin memulai omelannya setelah ia menelan potongan waffel nya, "lalu kenapa kamu tidur di luar semalam? kamu bisa sakit!"

pemuda yang dimarahi itu hanya bisa merengut, menyenderkan kepalanya di meja sambil mendengarkan woojin memarahinya. ia tidak bisa melawan seperti biasanya karena apa yang dibilang woojin memang benar, ia kadang suka melupakan fakta jika ia tidak sekuat iron man. chan baru mengangkat kepalanya saat mendengar dengusan woojin dan tangan di rambutnya, ia tersenyum lebar saat melihat woojin yang melihatnya dengan pasrah.

"iya, aku minta maaf, dear, lain kali aku akan tidur di kasur," ucapnya sambil terkekeh, "ah, ngomong-ngomong tadi malam tidak ada wartawan yang ngikut, kan?"

woojin menggeleng, "minkyu hyung berhasil menyelundupkanku ke sini, jadi kita masih aman, channie."

"i am glad, i am not ready to break up with you if something happened."

"semua akan baik-baik saja, percaya padaku, love. oke, sekarang makan sarapanmu, aku yakin semalam kamu cuma makan delivery."

ʕ'•ᴥ•'ʔ

hello, kembali dengan saya chimaek!
maaf saya sudah lama nggak update lagi karena sedang stres dengan... semua ini :")
bukan, bukan sama fanfic ini tapi sama kehidupan sih hahaha

maaf sekali karena saya nggak cepat-cepat update karena draft saya juga cuma tinggal dua dan saya belum nulis lagi, saya harus cepat-cepat nulis ini, soalnya bahkan ini baru menyentuh kurang lebih setengah dari plot yang ada :)

sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah memberikan vote dan komentarnya, saya merasa senang karena masih ada yang mau membaca cerita saya ini meskipun awalnya saya juga cuma mau menulis untuk diri saya sendiri

see you in next chapter, chimaek out!

This Love [ B. Chan x K. Woojin ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang