Ayana- 9

852 51 3
                                        

Aku bersama Aldi turun dari mobil, lalu membawa kantung belanjaan yang lumayan banyak di tangan kami. Rencananya, kami akan mengadakan pesta malam ini.

Pak Satpam dengan senyum ramah, namun tertutupi kumis yang tebal, menyapa kami dengan sangat ramah. Tentu saja kami juga menanggapinya dengan ramah.

Perlahan aku membuka pintu rumah. Namun, samar-samar aku melihat seorang Pria dan Wanita sedang berpelukan. Karena gelapnya rumah, aku menyalakan sakelar lampu.

Deg!

Seketika tubuhku kaku. Seluruh uratku menegang, mata terbelalak begitu lebar. Aldi hendak merangkul bahuku, namun langsung kutepis lengannya dengan cepat. Aku berjalan tergopoh-gopoh berteriak.

"Kalian berdua! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku dengan napas memburu.

Marsha nampak gelagapan, tapi Arthur hanya menatapku dingin. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada senyum pada raut wajahnya.

Aku pun beranjak dari sana, pergi menuju luar rumah dengan berlinang air mata. Pak Satpam yang melihatku tersenyum, namun kuhiraukan.

Aku menutup mulutku dengan sebelah tanganku, untuk meredam suara isak tangis. Entah mengapa, mungkin suasana hatiku sedang tidak baik sehingga aku seperti ini. Ini, 'kah yang dinamakan cemburu itu? Sebelumnya aku tidak pernah cemburu jika Arthur bercanda dengan Wanita lain. Tapi, ini beda. Dia berpelukan dengan sahabat kekasihnya, ketika si kekasih pulang.

Bukannya sambutan hangat yang ia dapatkan, tapi hanya tusukan duri yang ditebar oleh kekasihnya sendiri. Miris emang.

Kulihat, awan sudah bersemangat untuk mengeluarkan amarahnya. Tapi, aku tidak perduli. Aku harus terus melangkah, meluapkan emosiku yang memburu.

"Ayana!" teriak seseorang membuatku berhenti sejenak.

Aku menoleh ke arah samping, kulihat sungai terhampar dengan luas di depan mata. Air yang begitu tenang, diterpa cahaya bulan yang mulai terhalang awan.

"Pergilah, Arthur!" perintahku dengan tegas.

"Jadi, kamu ingin aku pergi? Kalau perlu, aku bisa pergi darimu selamanya," teriaknya, membutaku seketika berbalik. Kini kami berhadapan.

"Ma-maksudku bukan seperti itu, Arthur. Aku hanya sedang ingin sendiri," kataku meluruskan.

Dia perlahan maju, mulai mendekatiku. Tatapannya begitu ... dingin. Tidak ada ekspresi bahagia di wajahnya, seulas senyuman pun tidak. Apakah benar dia Arthur yang selama ini aku kenal? Arthur yang selalu menatapku hangat, penuh dengan wajah ceria?

"Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan," katanya masih dengan raut muka datar.

"Aku pun!" tegasku dengan mata menyorot matanya. Aku putuskan untuk berani menatapnya, meski dia menatapku begitu mengintimidasi.

Kami nampak bertatapan cukup lama. Tidak ada sorot kebencian di matanya, begitu juga denganku. Sejenak hatiku luluh kembali, perlahan tanganku tak bisa kukendalikan, kini aku mulai memegang lengannya yang berotot kekar itu. Namun, dia menepis tanganku dengan cepat. Jujur saja, itu membuatku sakit hati.

"Kita sudahi saja hubungan kita ini."

Duar!

Langit murka. Kilatan cahaya putih begitu meraung-raung dengan ganasnya, menguasai awan yang kian terhasut. Perlahan, bumi mulai mengeluarkan tangisannya yang awalnya pelan, menjadi deras.

"Apa maksudmu?" tanyaku lirih, namun masih bisa menghalau suara derasnya hujan.

Dia masih diam. "Katakan sekali lagi, apa maksudmu, Arthur!" teriaku sembari menggoyang-goyang lengannya.

Terlalu Cantik vs Terlalu Jelek [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang