Suara lembut hujan begitu terdengar indah di pagi hari membuat siapapun enggan hanya untuk melangkahkan kaki dari kasurnya.
Begitu juga dengan Ayana. Ia samasekali enggan meski sekadar membuka selimut yang melekat dengan badannya. Rasa nyaman begitu membuat dirinya terus larut dalam mimpi indahnya.
Sementara bocah kecil nampak berlari setelah ibunya membukakan pintu. Natali, gadis kecil itu naik ke atas ranjang yang ditiduri Ayana. Ia dengan sengaja naik ke tubuh Ayana dan menarik selimut yang melekat pada tubuh Ayana.
"Kakak bangun!" teriaknya tak sabaran.
Perlahan Ayana membuka matanya karena mendengar teriakan anak kecil dan tubuhnya mendadak berat. Senyum manis langsung tersungging pada bibir Ayana.
"Kamu sudah sembuh, peri kecil?"
Natali nampak senang dengan kelembutan kakaknya itu. Iya kemudian turun dari tubuh Ayana dan tidur di sisinya.
"Ini semua berkat Kakak. Ayo mainlah bersama Natali, di luar sana hujan. Kakak tidak perlu bekerja."
Ayana melirik jam dinding yang terpajang di depannya itu. Satu jam lagi jamnya masuk kerja. Jika ia tidak memikirkan masa depan Natali dan ibunya, mungkin kini Ayana sudah kembali merebahkan diri bersama selimut dan bantalnya.
Ia pun bangkit dari tidurnya dan langsung mengambil handuk untuk mandi.
"Kakak tidak mau bermain dengan Natali?"
Suara gadis menggemaskan itu membuat Ayana tidak tega untuk menolaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Toh ini juga untuk masa depan Natali. Ayanapun jongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Natali.
"Akhir pekan nanti aku akan bermain sepuasnya denganmu. Jadi bersabarlah." Ayana mengacak-ngacak rambut Natali kemudian pergi menuju kamar mandi.
Ayana menghela napas kasar ketika membuka pintu rumahnya. Di luar sana masih hujan. Hal itu memang mungkin terjadi karena ini musim penghujan.
Ia mengambil masker dan payungnya setelah berpamitan pada ibu dan Natali. Dibukanya payung itu, menembus guyuran hujan yang tidak terlalu deras menguyur bumi di pagi hari.
Pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Ayana menjadi sedikit bosan dan berencana untuk menghampiri Farah—kasir perempuan yang saat itu menyambut Ayana—mungkin Ayana pikir Farah juga sedang tidak sibuk.
Benar saja seperti dugaannya, Farah tengah berdiri bosan menopang dagunya dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangannya lagi mengetuk-ngetuk tidak jelas di atas meja kasir.
"Farah sepertinya kau sedang bosan?"
Mendengar namanya dipanggil membuat Farah menoleh sekilas. "Rupanya Ayana. Kau juga sedang bosan?"
Ayana mengangguk.
Jika dilihat memang pengunjung minimarket ini tidak seramai biasanya. Mungkin karena faktor cuaca juga mempengaruhi, hanya orang-orang yang tengah berteduh yang memenuhi luar minimarket.
Ayana kemudian duduk di bangku yang tersedia khusus untuk kasir duduk. Ayana bingung harus membuka obrolan darimana, karena ia melihat suasana hati Farah sedang sangat buruk.
"Argh ... apa yang harus aku lakukan?" Farah nampak frustrasi sembari mengacak-ngacak rambutnya.
"Kamu bisa bercerita padaku kalau kamu mau."
Farah kemudian ikut duduk di samping Ayana. "Sebentar lagi aku akan berhenti bekerja di sini."
Ayana mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Bukankah kau tidak ada masalah selama bekerja di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terlalu Cantik vs Terlalu Jelek [END]
Romance#3 in Jelek (10-06-19) #2 in Taruhan (11-01-20) #1 in Taruhan (01-02-20) CERITA END PROSES REVISI Takdir memanglah sangat adil. Ayana Pyhtaloka. Seorang gadis berparas cantik bak bidadari, dan memiliki segudang bakat. Karismatik seorang Ayana selalu...
![Terlalu Cantik vs Terlalu Jelek [END]](https://img.wattpad.com/cover/187027916-64-k329695.jpg)