Marsha- 4

1.3K 67 8
                                        

Aku merebahkan diri di atas kasur. Menengadah ke atas, menatap langit-langit yang dipenuhi bintang. Emang langit-langit di kamarku ini sangat ajaib— lebih tepatnya canggih. Aku bisa mengubah langit-langit kamar sesuai mood-ku hanya dengan menekan sakelar sesuai keinginanku saja, langit-langitku bisa berbuah bahkan dengan tema empat musim.

Sesekali aku tertawa riang menenggelamkan wajahku pada bantal, menahan rasa senang yang terus bergejolak di dalam jiwa.

Flashback on

"Seriusan? Kamu pernah makan cacing mentah?" tanyaku tak percaya dengan penuturannya.

"Benar! Aku bahkan pernah makan ular mentah, kalajengking, kelabang, dan sejenisnya," jawabnya dengan percaya diri.

Wajahku seketika mendadak pucat. Tak disadari bahkan aku menhan mulut dan perutku yang sudah mulai mual.

"Huek... jijik sekali!" ujarku. "Aku yakin tubuhmu sudah kebal dengan bisa."

Dia mengangkat sebelah alisnya membuat suasana hening. Marsha dibuat salah tingkah dengan keheningan yang diciptakan, tapi beberapa detik kemudian tawa meledak memecah keheningan yang beberapa detik diciptakan.

"Pft ... bwhahahaha ...," tawanya begitu puas. Bahkan ia memegangi perutnya membuatku melongo dan malu oleh tingkahnya.

"Tentu saja itu bohong, Marsha," katanya sembari mengacak-ngacak rambutku. Aku yakin sekarang wajahku sudah bersemu merah. Dan sialnya lagi jantungku berdegup kencang layaknya dikejar anjing.

Aku menggembungkan kedua pipiku. "Jangan mempermainkanku, Jimmy. Nanti aku terlanjur nyaman," lirihku diakhir kata, membuatnya tersenyum miring.

"Tidak apa bukan, nyaman bersamaku."

Deg!

Ratusan panah cinta sudah siap menghujani tubuhku. Langit dalam benaku mendadak cerah hingga siapapun silau dibuatnya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Apakah mungkin dia mengetahui isi hatiku? Atau .. dia hanya membuatku melayang tinggi kemudian dijatuhkan ke jurang paling dalam?

Pertanyaan itu terus membanjiri benaku sehingga membuatku terus bergelut dengan pikiranku.

"Emm... Jimmy! Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

Seketika hening.

Kini wajahnya serius. "Tentu saja boleh."

"Kamu apakah ... pernah menyukai orang lain? Seseorang maksudnya?" tanyaku sembari menundukkan wajah.

"Ya. Aku pernah menyukai satu orang gadis seumur hidupku. Dan itu berlaku sampai sekarang."

Aku mendongak. "Siapa itu?"

Dia tersenyum simpul. "Sudah ya aku harus pulang dulu," ucapnya kemudian beranjak dari sofa seolah menghindar dari pertanyaanku.

Flashback off

Masih dibuat gila oleh lamubanku, aku melihat bahwa ponselku terus bergetar dari tadi. Dengan terpaksa akupun melihatnya. Ah sialan! Aku lupa mengerjakan tugas matematika!

Panik. Kala itu aku panik. Segera aku turun dari ranjang menuju kamar Ayana. Untuk apalagi jika bukan untuk memintanya mengerjakan tugasku.

"Ayana! Ayana!" teriakku menggema di ruang tengah dari lantai atas.

"Ayana! Ayana!" teriakku sekali lagi, tapi tidak ada sahutan dari siapapun.

Aku pun terpaksa turun untuk menghampiri Ayana. Tak lupa, aku mengetuk pintu dengan cukup keras di depan kamarnya sampai akhirnya ia mempersilakan aku masuk.

Terlalu Cantik vs Terlalu Jelek [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang