Saat ini kami sudah berada di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Luke baru saja kembali dari toko obat untukku, sepertinya aku masuk angin saat di perjalanan menuju bandara. Perutku rasanya tidak enak, sedari tadi yang kulakukan hanyalah mencium minyak kayu putih dan bolak-balik ke toilet. Sungguh, ini benar-benar tidak nyaman.
Aku sudah tidak peduli pada orang-orang yang menatapku iba dan juga heran karena aku sedari tadi meringkuk di kursi ruang tunggu dengan paha Luke yang menjadi bantalan, belum lagi tangan Luke yang terus membalur punggungku dengan minyak kayu putih agar aku merasa hangat, dia juga sesekali membalurkannya pada bagian perut. Dan beberapa menit kemudian...aku kembali ke kamar kecil.
Luke menyuruhku meminum obat yang dia beli agar rasa mulesnya berhenti, tapi aku keras kepala dan lebih memilih minyak kayu putih. Sekarang Luke mulai menunjukan ketegasan dan juga tanggung jawabnya terhadap diriku—ia membuka bungkus obat itu lalu memberikan pil putih dan juga sebotol air mineral, dengan berat hati aku meminumnya. Aku tidak suka minum obat karena sulit bagiku untuk meneguknya sehingga menghasilkan rasa pahit.
Setelah itu Luke memberikanku obat cair untuk menghilangkan masuk anginnya. Obat yang ini rasanya lebih manis dan sedikit pedas di mulut dan tenggorokan, aku suka. Lalu beberapa saat kemudian sebuah pengumuman mengatakan bahwa pesawat kami sudah siap dan kami dipersilahkan memasuki pesawat melalui pintu enam.
Aku mengikutinya menuju pintu enam, dia memberikan tiket dan juga passport kami sebelum dipersilahkan menaiki pesawat dengan menggunakan fasilitas garbarata.
Luke mencari kursi kami dan setelah dia menemukannya...dia mempersilahkanku duduk terlebih dahulu dan memasang sabuk pengaman, lalu kembali meringkuk pada Luke dengan tangannya yang merangkulku agar aku tetap merasa hangat.
Lalu saat pesawat sudah mulai mengambil posisi take off, aku kentut dengan suara yang kencang dan juga aroma yang semerbak. Kentutnya tak bisa kutahan karena aku sedang masuk angin. Semua orang menoleh ke arahku dan Luke, aku malu. Yang kulakukan hanya menatap Luke dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba Luke menoleh ke semua orang dan berkata "Im sorry, it was me. I ate brocciu last night." Dia berkata dengan cengirannya yang menyebalkan membuat semua orang menatapnya kesal.
Ya ampun Luke, my bucin. I love you to the moon and fucking back.
"It's okay. You can sleep and you can fart as loud as you can, as stinky as you want. I won't let those people mad at you or even blame you." Ucapnya sesekali membelai rambutku. "Thank you, Luke. I love you." Jawabku dan mulai memejamkan mata untuk tidur.
***
Tidur lelapku terganggu saat Luke mengguncang tubuhku untuk makan, aku menolaknya karena perutku belum sepenuhnya merasa lega. Tapi Luke memaksa, dia bilang jika aku tidak makan maka aku tidak akan cepat sembuh. Aku pun dengan sangat terpaksa memakan beberapa suap makanan yang sudah disiapkan pihak peswat, dan baru beberapa suap makanan masuk kedalam mulutku, aku mengangkat makanan dan lipatan meja Luke sebelum bergegas ke toilet.
Aku mules. Aku mencret.
Saat asik mengeluarkan isi perutku, seseorang mengetuk pintu toilet dan berkata "Babe, you cool?" Itu Luke. "Ya ya, im cool. I'll be right back."
Dan beberapa saat setelah aku puas mengeluarkan isi perut...aku pun keluar dan menemukan Luke yang sedang berdiri sembari mengobrol dengan para pramugari. Dan pada saat dia merasakan kehadiranku...dia langsung menoleh, "Did you throw up?"
Aku menggeleng, "No. i was pooping and i feel so much better now." Luke mengangguk dan mengajakku kembali duduk. "What you were guys talking about?" Tanyaku pada Luke saat kami semua sudah duduk dan memasang sabuk pengaman. "They were asking if i was waiting in line."
"Ha?"
"Yea, because they got another toilet in this plane and i told them that im waiting for my girlfriend because she was sick."
"Oh." Aku kembali meringkuk padanya. "How many hours are we going to land?" Aku mendongak untuk menatapnya saat bertanya. "It's three hours left. Go back to sleep." Kini dia meletakan tangannya di pinggangku dan mengusapnya sesekali.
"But i can't sleep." Tapi Luke tidak merespon, dia justru menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan mata. "Did i fart a lot when i sleep?" Luke mengangguk. "Did everyone know that it was me???"
"All they know is that was me." Aku langsung memeluk dan mengecup pipinya sekilas "Thank you booboo, thank you!" Lagi, dia tidak menjawab. Hanya sebuah senyuman kecil yang menghasilkan lesung pipi yang indah.
"LUKE I CAN'T SLEEP!!" Aku kembali memekik dan meminta dia untuk bangun. Dia membuka matanya dan berkata "You can watch movie on that screen or you can listen to musics."
"Nah, they're not interesting. At all." Kini Luke menatapku dengan wajah risihnya. Tapi aku tidak peduli, aku ingin dia terjaga dan menemaniku. "Okay, okay. Let's watch movie on my phone." Dia merogoh saku celananya dan juga mengeluarkan earphone. Ia mulai menyambungkan earphone dengan iPhone nya sebelum memasangkan bagian kanan earphone pada telinga kananku dan memasangkan bagian kiri earphone pada telinga kirinya. Dia memilih film komedi romantis untuk kami berdua tonton sampai akhirnya kami berdua tertidur.
***
Guncangan pesawat saat mendarat membangunkanku dan Luke, membuat kami berdua menoleh ke arah jendela dan kami bisa melihat suasana Australia sudah malam. "Who's gonna pick us up?" Tanyaku pada Luke. "Ashton is waiting for us." Jawabnya. Lalu beberapa saat kemudian kami semua dipersilahkan keluar pesawat melalui pintu depan karna kami akan menggunakan garbarata.
Suasana bandara di bagian kedatangan internasional ini masih cukup ramai, padahal ini sudah pukul satu malam.
Luke sibuk mengambil bagasi, sedangkan aku hanya duduk saja di dekat tanaman hias. Bukan aku tidak mau membantu, hanya saja aku terlalu lelah dan rasa pusing mulai muncul. Setelah medapatkan bagasi, Luke menghampiriku dan bertanya "Babe, you good?"
"Im dizzy. Where's Ashton?"
"He's outside. Let's go home so you can take a rest, you want to go on my back?" Dia menawarkan diri. "Nah, im heavy."
"Nah, come on!" Lalu dia berjongkok dihadapanku sebelum akhirnya aku naik ke atas punggungnya. Tidak, aku tidak menghayal ini adalah hal romantis atau apapun itu karena aku sedang sangat pusing. Yang bisa kulakukan hanyalah menutup mata, dan aku juga sudah tidak peduli dengan apa yang orang-orang tanggapi tentang aku dan Luke.
Mataku terbuka saat mendengar suara Ashton yang menyapa kami. "Hey, whats up with you girl?" Tanya Ash. "Hey Ash, im just not feeling well today." Jawabku tanpa turun dari gendongan Luke. Ash langsung meraih tas dari tangan Luke "We better hurry so the princess can take a rest." Jawabnya sembari mulai berjalan menuju mobil. Luke menempatkanku di backseat agar aku bisa merebahkan diri, sedangakan dia duduk di passanger seat. Tidak mungkin dia membiarkan Ashton duduk di depan sendirian karna Ashton bukanlah supir kami, dia sahabat kami.
Sepanjang jalan aku hanya menutup mataku karna pusing, aku juga tidak menikmati lagu yang diputar di radio mobil. Tapi aku bisa mendengar Luke bertanya kemana Michael dan Calum, lalu Ashton menjawab jika Michael sedang menemani Crystal, sedangkan Calum sedang mengantar anjingnya liburan.
Mataku terbuka saat merasakan mobil Ashton berhenti, ternyata kami sudah sampai apartmentku. "Babe, wake up." Luke berkata lembut sembari membuka seatbeltnya. "Im awake." Ucapku sembari berusaha bangkit dan membuka pintu mobil. Luke membantuku keluar dari mobil Ash, "Im okay, Luke. You better help Ashton." Ucapku pada Luke.
"Nope, im good." Sahut Ashton dari belakang mobil yang sedang membawa tas kami sembari menutup bagasi mobilnya. Luke lalu memapahku dan membuka pintu apartment, dia langsung menyuruhku mengganti baju menjadi baju tidur sementara dia berbincang dengan Ashton. Setelah selesai aku langsung menghampiri mereka dan mengucapkan terima kasih kepada Ashton, tapi aku hanya bergabung sebentar saja karena aku sudah ingin istirahat diatas kasurku yang empuk.
Hal terakhir yang kudengar adalah Ashton berpamitan dan Luke yang berkata "No, ill be here. She is sick so... yeah. Thanks dude, see you round." Lalu pintu utama tertutup.

YOU ARE READING
Lukman 2020: Kembalinya Aku ke Australia
FanfictionPetualangan Abel dan Luke selanjutnya.