Hujan turun begitu deras. Awan hitam menggumpal menutupi langit yang semula biru cerah. Matahari entah kemana perginya. Sore itu terasa gelap, sesekali terdengar gemuruh petir yang tak terlalu menakutkan. Setidaknya bagi Kalin, karena gadis berseragam SMA itu masih berani berlari menerobos hujan tanpa takut disambar petir.
Seragam sekolahnya basah. Rambutnya juga, bahkan tas yang susah payah ia lindungi juga tak luput tersiram air hujan. Kalin mengumpat kecil. Hujan datang saat ia sudah setengah perjalanan pulang ke apartemen. Karena tidak ada tempat yang memungkinkannya untuk berteduh, terpaksa ia berlari pulang hingga akhirnya basah kuyup juga.
Begitu melihat bangunan gedung apartemen di depannya, Kalin mempercepat langkah. Buru-buru gadis itu masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai dua belas.
"Coba aja kalau guru matematika tadi nggak ngadain les tambahan, pasti gue nggak akan nih basah kuyup terus anyep kayak sekarang ini. Hih, apes!"
Kalin merutuk dengan bibir mengerucut. Mengumpati guru matematika di sekolahnya yang mengadakan les tambahan untuk kelasnya. Untuk apa les tambahan? Mau ditambah sampai delapan jam seharipun, Kalin tak akan pernah bisa memahami pelajaran berhitung itu.
Pintu lift terbuka. Kalin sampai di lantai dua belas. Apartemennya ada di ujung lorong. Nomor 702. Gadis itu segera melangkah menuju pintu apartemennya sambil sesekali mengusap-usap rambutnya yang basah.
Lantai dua belas memang sepi. Benar-benar sepi. Pasalnya, jajaran apartemen-apartemen di lantai tersebut rata-rata belum berpenghuni. Hanya ada sepasang kakek-nenek tua yang menghuni apartemen nomor 703. Tepat di depan apartemen Kalin dan kakaknya. Tak jarang Kalin merasakan hawa horor karena terpencilnya tempat tinggal mereka.
Bruk!
Kalin terkejut saat mendengar suara benda jatuh di belakangnya. Langkahnya terhenti seketika. Dengan cepat, Kalin menoleh, matanya melotot lebar saat melihat seseorang bermantel hitam dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya sedang memungut pisau-pisau tajam yang berserakan di lantai.
Seketika itu juga, Kalin ketakutan. Siapa orang itu? Ngapain dia disini? Kenapa dia pake masker sama topi kayak gitu? Kenapa juga.. dia bawa pisau banyak banget? Jangan-jangan.. Kalin sigap berbalik ketika orang itu mengangkat wajah dan menatap ke arahnya. Segera saja Kalin memacu langkah secepat mungkin menuju pintu apartemennya di ujung sana.
"Hei!"
Kalin mempercepat langkah saat seruan orang itu terdengar. Tubuhnya semakin memanas saat terdengar derap langkah orang itu yang sepertinya menuju ke arahnya. Kalin sampai menutup mata dan terus berjalan sangking takutnya.
"Woy! Berhenti!!"
Kalin tak mengindahkan seruan orang asing mencurigakan itu, ia bergegas menekan tombol password apartemennya dengan jari tangan yang gemetar. Setelah pintunya berhasil terbuka, Kalin melesat masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Gadis itu bersandar di daun pintu dengan napas terengah.
Matanya seketika membola saat terdengar bunyi bel apartemennya. Kalin menutup mata lalu meringkuk di depan pintu.
"Siapapun itu, please jangan ganggu gue.." Kalin mendesis ketakutan. Tubuhnya semakin menegang saat mendengar bunyi tombol password yang ditekan dari luar.
Kalin merangkak mendekati sofa lalu meraih sebuah bantal dan bersiap menghantamkan benda itu jika seseorang diluar sana berhasil membuka pintu apartemennya.
Dan pintu benar-benar terbuka. Sambil menjerit, Kalin menghantamkan bantal di tangannya ke arah seseorang yang melangkah masuk. Seketika ruangan apartemen itu penuh dengan jeritan dan teriakan menggema.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantika Tetangga
FanfictionSemenjak Elang (Wong Yuk-hei) tinggal di sebelah apartemen yang ditinggali oleh Kalin (Song Yuqi) bersama kakaknya, hidup Kalin benar-benar terganggu. Laki-laki itu terus saja melakukan hal-hal yang membuatnya kesal dan tak tenang sepanjang hari. In...
