“Pagi, Kuda Poni!” Elang menyapa sambil tersenyum manis pada Kalin yang baru keluar dari kamar. Kalin hanya mendesis jengkel melihat tetangganya itu asik mengunyah sandwich buatan Kikan sambil menonton televisi.
Kalin yang sudah siap dengan seragam sekolahnya melangkah menuju dapur. Tidak biasanya Kikan masih berada di apartemen, padahal biasanya gadis itu hilang pagi-pagi buta.
“Mbak Kikan nggak kuliah?” tanya Kalin sembari membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Kikan yang sedang menyiapkan sarapan untuknya menggeleng kecil.
“Hari ini ada dua dosen di kelas Mbak yang nggak masuk dan Mbak males ketemu sama dosen pengganti. Mendingan juga Mbak jalan-jalan sama Elang, kan?”
Kalin nyaris tersedak mendengar penuturan Kikan. Jalan-jalan dengan Elang? Kalin menoleh dan menatap kakaknya dengan tatapan tak suka.
“Kenapa Mbak Kikan harus jalan-jalan sama dia? Memangnya nggak ada cowok lain apa?” tanya Kalin setengah menyindir. Kikan menggeleng dengan polosnya.
“Nanti, Mbak sama Elang bakal pergi ke mall dulu buat belanja kebutuhan sehari-hari, terus ke taman, main ke timezone, udah gitu nonton pertandingan sepak bola, deh. Seru, kan??” Kikan pamer dengan bangganya sementara Kalin merenggut tak suka.
“Jadi, Mbak Kikan masih punya muka buat jalan sama Elang, setelah kemarin malam Mbak Kikan hampir ngebunuh dia?”
Kikan tersentak begitupun Kalin yang baru sadar telah mengucapkan kata-kata tersebut. Gadis itu langsung membekap mulutnya sendiri dan berpura-pura sibuk memeriksa isi kulkas.
“Apa maksud kamu? Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu?” tanya Kikan tak mengerti.
Kalin terdiam, tak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
“Kuda Poni.. Lo lagi ngomongin soal alergi gue?” tanya Elang yang tiba-tiba melangkah masuk ke dalam dapur dan berdiri di belakang Kalin.
Kalin mengangguk kecil.
“Alergi?” tanya Kikan masih dengan wajah tak mengerti.
“Jadi gini, lo inget waktu lo ngasih mie goreng bikinan lo ke gue? Gue punya alergi sama udang dan di mie yang lo bikin itu ada udangnya.” kata Elang menjelaskan. Kikan tersentak.
“Ya Tuhan.. seriusan? Maafin gue, ya. Gue sama sekali nggak tau kalau lo alergi udang, Lang. Tapi lo baik-baik aja, kan??” Kikan terlihat cemas. Elang menenangkan dengan senyum manisnya.
“Cuma alergi biasa, kok. Efeknya juga nggak parah. Lo nggak perlu ngerasa bersalah. It’s okay..” Elang tersenyum pada Kikan lalu beralih menatap kuda poninya.
“Lo nggak seharusnya ngomong gitu sama Kakak lo sendiri, Kuda Poni. Bisa-bisanya lo bilang Kikan hampir ngebunuh gue. Gue nggak nyangka ya, kalau ternyata lo itu Adik yang jahat.”
Kalin terlonjak. Tak menyangka Elang akan menyalahkannya seperti ini. “Apa lo bilang? Jahat? Lo bilang gue jahat?” Kalin terlihat kecewa. Entah mengapa rasanya sedih saat Elang membela Kikan dan menyalahkannya seperti ini. Bukankah Kalin benar? Elang memang terlihat hampir mati gara-gara mie goreng buatan Kikan.
“Lo harusnya bersikap baik sama Kakak lo, bahasa lo dijaga. Gue tau kalau lo punya tempramen yang jelek ke gue. Tapi lo nggak boleh kayak gitu ke Kakak lo sendiri!”
“Eh.. Kenapa kalian jadi ribut begini? Udahlah.. Kalin, mendingan kamu cepetan berangkat ke sekolah, gih. Mbak sama Elang juga mau siap-siap berangkat, nih.” Kikan menengahi. Kalin beranjak pergi setelah menghentakkan sepatunya keras-keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantika Tetangga
FanfictionSemenjak Elang (Wong Yuk-hei) tinggal di sebelah apartemen yang ditinggali oleh Kalin (Song Yuqi) bersama kakaknya, hidup Kalin benar-benar terganggu. Laki-laki itu terus saja melakukan hal-hal yang membuatnya kesal dan tak tenang sepanjang hari. In...
