Warning....!!
Ini ceritanya ngulang yang chapter sebelumnya, cuman dengan sudut pandang yang berbeda, aku sudah ngasih tahu yah..., jadi nanti jangan terlalu menyalahkan author karena autor sudah memberi tahu sebelumnya
Selamat membaca....
Itachi pov
Sial, sungguh akhir pekan yang menyebalkan, hari yang seharusnya aku gunakan untuk beristirahat menghilangkan penat setelah sepekan bekerja, namun kenyataannya tumpukan berkas telah menantikan kencan dan tak mau lagi di tinggalkan, benar benar hari yang menyebalkan
Kriiing..... kriiiing.....
Bunyi ponsel menghentikan ku membaca berkas berkas penting yang sedang ku kerjakan, siapa yang berani berani mengganggu waktu berharga ku di akhir pekan yang menyebalkan ini.
"Sasuke jika tidak ada yang penting aku akan membunuhmu" ujar ku setelah mengangkat ponsel.
"Jemput anak si jalang (sakura) dari tk jam 10 nanti" jawab sasuke tanpa basa basi
"Memangnya di mana jalang yang biasa menjemput sarada" tanya ku sedikit sewot
"Dia keluar bersama temannya dan belum kembali" ujar sasuke dengan ogah ogahan
"Kau jemput saja sendiri, atau kau juga bisa menyuruh sopir di rumah untuk menjemputnya, akhir pekanku cukup sial jangan menambah masalah yang bisa membuatku meledak" ujar ku sambil menahan amarah
"Aku sedang dalam perjalanan bisnis, dan sopir di rumah sedang bersamaku, ingat itachi keberadaannya cukup penting saat ini, kalau sampai ia hilang di culik orang kita yang akan mengalami kerugian besar (dalam bisnis), kau mengerti maksud ku kan??"
"Ya ya ya, aku tau kau tak perlu mengingatkan" ujar ku sambil mematikan panggilan yang membuat mulutku di penuhi sumpah serapah yang tiada hentinya.
*
*
*
Disinilah akhirnya aku berada, menunggu dengan bosan di depan sebuah sekolah tk yang di penuhi hiasan yang kekanak kakan.
Karena bosan ku putuskan untuk keluar dari mobil sambil menyesap rokok, namun niat ku terhenti saat aku melihat sesuatu yang sangat menarik, kebosanan yang ku rasakan sebelumnya tiba tiba menguap habis, siluet seseorang yang cukup familiar membuat semangat ku yang sebelumnya menipis telah terisi penuh, sikap jahil yang selama ini telah terkubur setelah pernikahanku seakan mulai bangkit kembali hanya karena melihat seorang wanita dengan rambut pirang dan mata seindah batu safir, perlahan tanpa ku sadari aku mulai berjalan mendekatinya.
"Naruto, apa itu kau..??" Ujarku
Ia terlihat cukup terkejut saat mengetahui akulah yang memanggilnya, setelah enam tahun tidak bertemu ternyata ia telah menjadi wanita yang sangat menawan, enam tahun yang lalu ia memang terlihat cantik dengan bentuh tubuh yang menggiurkan, namun entah mengapa naruto yang saat ini terlihat 1000 kali lebih menarik.
"Itachi..." ujarnya pelan, namun masih bisa ku dengar, tak ku sangka dia mengetahui namaku, apa mungkin dulu ia hanya pura pura tidak mengenaliku?.
"Tuan uchiha maaf atas ketidak sopanan saya telah memanggil nama anda secara langsung, bukannya memanggil nama marga anda" ujarnya
Setelah sekian lama tak bertemu ku rasa pengendalian dirinya semakin membaik, dan setiap gerak gerik dan kata yang keluar dari mulutnya terdengar anggun dan sangat elegan
"Selamat siang tuan uchiha" ujar seorang anak yang baru saja ia turunkan dari gendongannya
Tadi aku tidak menyadari jika ia sedang bersama sorang anak laki laki, beraninya dia seorang jalang tanpa seijinku setelah bertahun tahun tidak bertemu telah memiliki seorang anak, siapa laki laki yang dengan beraninya membuat wanitaku mengandung anaknya, namun segala sumpah serapahku sirna saat anak itu menegakkan tubuhnya setelah membungkuk kepadaku sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua, wajahnya benar benar seperti seorang uchiha, lebih tepatnya seperti diriku namun versi mini, jika saja rambutnya lebih panjang dan ada sedikit kerutan di sekitar hidungnya, namun karena tidak ada dia jadi lebih mirip dengan sasuke, namun tentu saja ia lebih mirip dengan diriku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dan Derita
RomanceAku naruto, tak ada marga..?, memang benar tak ada marga hanya naruto tak ada yang lain. Apa kalian tahu, aku sudah membuang marga ku jauh jauh. Dan tak akan memakainya lagi cukup diriku tak ada yang lain. Aku hanya ingin mengatakan hanya satu hal y...
